Sejarah Perang Bali (1848-1908)

Sejak abad ke-18, sebenarnya sudah ada hubungan antara Belanda dengan Bali meskipun hubungan tersebut tidak secara langsung. Misalnya saja Belanda membeli budak-budak dari Bali untuk kepentingan tentara Belanda. Memasuki abad XIX, hubungan dengan Bali dirasakan perlu bagi Belanda. Alasannya karena Belanda khawatir Bali akan jatuh ke tangan kekuasaan Barat lainnya. Selain itu, adanya hak tawan harang yang dimiliki oleh raja-raja Bali sangat merugikan Belanda. Hak tawan karang adalah hak raja-raja Bali untuk menguasai serta merampas kapal beserta isinya yang terdampar di pantai wilayah kerajaannya. 

Pada tahun 1841 seorang utusan Belanda mengadakan perjanjian dengan raja-raja dari Klungkung, Buleleng, Badung, dan Karangasem dengan tujuan untuk mengakhiri hak tawan karang. Perjanjian tersebut ternyata tidak sesuai dengan harapan masing-masing pihak. Pada tahun 1854, Raja Buleleng melakukan tawan karang terhadap sebuah kapal yang terdampar di wilayah kekuasaannya, Jembrana. Belanda menggunakan peristiwa itu untuk menyerang Kerajaan Buleleng pada tahun 1848.

Penyerangan Belanda terhadap keraj aannya ternyata tidak membuat Raja Buleleng gentar. Raja Buleleng pun melakukan perlawanan kepada Belanda sehingga terjadi perang. Raja Karangasem dan raja senior Bali, Dewa Agung Putra dari Klungkung mendukung Raja Buleleng melawan Belanda. Serangan Belanda yang pertama gagal, tetapi dalam serangan kedua yang dilakukan tahun 1849, Belanda berhasil menguasai pusat pertahanan Kerajaan Buleleng. Pertempuran terj adi di Jagaraga, sebelah timur kota Singaraja sehingga dikenal dengan nama Puputan Jagaraja. Puputan adalah istilah untuk menyebut suatu pertempuran, seluruh prajurit baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak berpakaian putih-putih dan hanya bersenjatakan tombak dan keris. Meskipun hanya bermodalkan senj ata tradisional, namun mereka menyerbu tentara Belanda yang bersenjata modern tanpa mengenal takut. Akan tetapi, keberanian yang ditunjukkan oleh prajurit Bali tidak mampu menghalau pasukan Belanda. Buleleng pun akhirnya dapat dikuasai oleh Belanda.


Setelah Kerajaan Buleleng dapat ditaklukkan, Belanda menyerang kerajaan-kerajaan lain yang ada di Bali. Karena itu terjadilah perang puputan yang lain, seperti Perang Puputan Badung (1906) dan Perang Puputan Kusumba (1908). Perang Puputan Badung diawali ketika sebuah perahu Belanda terdampar di pantai Sanur. Karena pantai Sanur merupakan wilayah kekuasaannya, maka Raja Badung menggunakan hak tawan karangnya. Ketika Belanda menuntut ganti rugi, Raja Badung (Ida Cokorde Ngurah Gde Pamecutan) menolaknya sehingga terjadi perang. Setelah Badung dikuasai, Belanda kemudian menguasai Tabanan. Pertempuran ini sering dikenal dengan nama Balikan Wongaya. Dan setelah Tabanan, kemudian Klungkung yang merupakan kerajaan terakhir yang jatuh ke tangan Belanda. Dalam perang puputan di Klungkung, raja beserta keluarga dan seluruh kerabatnya gugur dalam pertempuran melawan Belanda.

Daftar Pustaka : Yudhistira