Sejarah Perang Diponegoro (1825-1830)

Kamu masih ingat bahwa sejak pemerintahan Amangkurat 11 VOC telah berhasil melakukan intervensi pergantian takhta di Mataram? Kekuasaan VOC terhadap wilayah-wilayah Mataram semakin luas. Terlebih lagi setelah kekuasan VOC diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 31 Desember 1799. Ketika Perang Diponegoro meletus tahun 1825, Mataram sudah terpecah menjadi dua kerajaan dan dua kadipaten, yaitu Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Pangeran Diponegoro adalah salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta.

Pada sekitar tahun 1820-an, usaha untuk melawan Pemerintah Hindia Belanda semakin kuat. Tradisi-tradisi Barat yang mulai masuk ke dalam keraton, seperti minuman keras, sangat mencemaskan para pemuka agama. Selain itu, Gubernur Jenderal van der Capellen mengeluarkan kebijakan yang melarang para bangsawan menyewakan lanah bengkok' (apanage) kepada swasta asing. Kebijakan tersebut telah meresahkan para bangsawan karena para bangsawan hidup dari menyewakan tanah apanage tersebut. Kebencian terhadap pemerintah Belanda juga terjadi di kalangan rakyat. Beban yang mereka tanggung sangat berat, misalnya melakukan rodi atau membayar pajak tanah. Oleh karena pemungutan pajak diborongkan kepada orang-orang Tionghoa, maka jumlah pajak yang harus dibayar oleh rakyat semakin besar. Dengan demikian perasaan benci kepada Belanda terjadi di semua lapisan masyarakat, mulai dari golongan bangsawan, pemuka agama, sampai rakyat jelata.

Faktor-faktor tersebut di atas merupakan penyebab umum meletusnya Perang Diponegoro. Sedangkan sebab khususnya (casus belli) adalah rencana pembuatan jalan melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro yang terletak di Tegalrejo. Tanpa meminta izin kepada Pangeran Diponegoro, Belanda memasang patok-patok sebagai tanda akan dibangunnya jalan tersebut. Tidak lama kemudian, patok-patok yang dipasang Belanda segera dicabut oleh para pengikut Pangeran Diponegoro. Pemasangan dan pencabutan patok berulang kali terjadi, sampai kemudian Pangeran Diponegoro mengganti patok tersebut dengan tombak. Belanda mengirimkan tentara untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro yang mengetahui dirinya menjadi target penangkapan Belanda segera melarikan diri bersama Pangeran Mangkubumi dari Tegalrejo. Kepergian mereka dari Tegalrejo bukan karena takut, melainkan guna menyusun kekuatan untuk melakukan perang melawan Belanda. Keduanya menuju Selarong dan dari sanalah perang melawan Belanda dimulai.

Oleh karena semua lapisan masyarakat menaruh kebencian kepada Belanda, Pangeran Diponegoro mendapat dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat yang segera bergabung dengan beliau. Selain Pangeran Mangkubumi, Pangeran Diponegoro juga dibantu oleh Sentot Ali Basa Prawirodirjo yang kemudian diangkat sebagai penasihat utama di bidang militer. Ikut juga bergabung dengan Pangeran Diponegoro yaitu Kiai Mojo dari Solo yang kemudian diangkat sebagai penasihat di bidang agama yang kemudian mengobarkan perang sabil di Mataram.

Pangeran Diponegoro menyerang Yogyakarta dari Selarong, tetapi dapat digagalkan oleh Belanda. Karena itu, Pangeran Diponegoro melakukan serangan ke Plered dan terjadi pertempuran hebat. Perlawanan terhadap Belanda meluas ke Pacitan, Purwodadi, Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang, dan Madiun. Selain memperoleh kemenangan di berbagai tempat, Pangeran Diponegoro juga dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herutjohro Amirulmuhminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Setelah usaha mengadakan perdamaian gagal, Belanda kemudian menggunakan taktik benteng stelsel. Taktik tersebut diterapkan dengan tujuan untuk mempersempit gerak Pangeran Diponegoro. Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan benteng stelsel?


Pada tahun 1829 Pangeran Diponegoro dan tentaranya mengalami kesulitan. Selain akibat Benteng Stelsel yang dilakukan oleh Belanda, kesulitan juga disebabkan adanya perselisihan di antara para pemimpin. Pangeran Diponegoro berbeda pendapat dengan Kiai Mojo tentang masalah pemerintahan dan agama. Menurut Pangeran Diponegoro, masalah pemerintahan dan agama cukup dipegang dalam satu tangan. Sementara itu, Kiai Mojo berpendapat bahwa masalah pemerintahan dan agama harus terpisah. Sentot Ali Basa yang berselisih pendapat dengan Pangeran Diponegoro akhirnya memilih menyerah kepada Belanda setelah permintaannya dikabulkan oleh Belanda. Pangeran Mangkubumi menyerah kepada Belanda pada bulan September 1829, setelah beberapa pemimpin yang lain menyerah terlebih dahulu.

Walaupun beberapa pemimpin tertangkap, Pangeran Diponegoro tetap meneruskan perlawanan dengan semangat berjihad melawan kekuasaan asing yang ada di pulau Jawa. Pada awal tahun 1830, pimpinan tentara Belanda Jenderal de Kock bermaksud segera mengakhiri perang dengan jalan mengadakan perdamaian. Jenderal de Kock mengatakan apabila tuntutan Pangeran Diponegoro tidak dapat dipenuhi dan perundingan gagal, maka Pangeran Diponegoro dapat meneruskan perang. Karena itu pada tanggal 21 Februari 1830 diadakan perundingan awal di bukit Menoreh. Pangeran Diponegoro dan tentaranya datang ke tempat tersebut. Perundingan berikutnya diadakan pada tanggal 28 Maret 1830 di rumah Residen Kedu di kota Magelang. Ketika tuntutan Pangeran Diponegoro agar beliau diakui sebagai pemimpin umat Islam se-Jawa tidak dikabulkan oleh Belanda, Pangeran Diponegoro langsung ditangkap. Siasat licik seperti ini memang sering dilakukan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia kemudian diasingkan ke Manado. Dari Manado, Pangeran Diponegoro dibawa ke Makassar. Ia kemudian ditawan di Benteng Rotterdam dan meninggal di sana pada tanggal 8 Januari 1855.

Daftar Pustaka : Yudhistira