Sejarah Perang Padri

Agama Islam sudah tersebar di Minangkabau sejak abad XV. Namun dalam praktiknya di masyarakat, berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran Islam masih banyak dilakukan. Berbagai penyimpangan tersebut misalnya: berjudi, menyabung ayam, dan minum minuman keras. Selain itu, ketaatan terhadap kewajiban menjalankan agama Islam juga lemah. Pada tahun 1803, tiga orang haji yang baru pulang dari Mekah, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piabang bermaksud membersihkan kebiasaan-kebiasaan yang menyimpang dari ajaran Islam tersebut. Oleh karena ketika pergi ke Mekah melalui pelabuhan Pedir (Aceh), maka ketiga haji dan para pengikutnya disebut kaum Pidari (Padri). Sementara itu, golongan yang tetap ingin mempertahankan adat yang selama ini mereka lakukan, disebut kaum Adat.

Perbedaan-perbedaan itulah yang menyebabkan pertentangan antara kaum Adat melawan kaum Padri, bahkan meningkat menjadi pertempuran fisik. Karena itu, Perang Padri pada awalnya adalah perang antara sesama orang Minangkabau. Sama seperti yang terjadi di daerah-daerah lain, Belanda kemudian terlibat di dalamnya. Keterlibatan Belanda menyebabkan perang yang dimulai tahun 1821 terjadi antara kaum Padri melawan kaum Adat yang dibantu oleh Belanda. Tokoh-tokoh kaum Padri di antaranya Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, dan yang paling terkenal adalah Tuanku Imam Bonjol.

Belanda mengirimkan tentara dari Batavia untuk membantu kaum Adat bawah pimpinan Letkol Raaf dan berhasil merebut kota Batusangkar. Di tempat tersebut Belanda mendirikan benteng yang diberi nama Fort van der Capellen, seperti nama Gubernur Jenderal Belanda waktu itu. Benteng tersebut didirikan dengan maksud sebagai basis kekuatan dalam menghadapi kaum Padri. Sikap Belanda berubah lunak, dan pada 15 November 1825 menandatangani Perjanjian Masang dengan kaum Padri. Tahukah kamu mengapa sikap Belanda melunak? Pada tahun 1825 di Jawa terjadi perang Diponegoro. Agar kekuatan militer Belanda dapat dipusatkan untuk menghadapi Pangeran Diponegoro, untuk sementara Belanda berdamai kaum Padri.


Setelah Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830, Belanda kembali melakukan serangan kepada kaum Padri. Alasannya karena kaum Padri melanggar Perjanjian Masang. Dalam Perang Padri babak kedua ini, Belanda mengajak Sentot Ali Basa bersama pajuritnya . Sentot adalah mantan salah seorang panglima Pangeran Diponegoro yang telah menyerah kepada.Menurut perkiraan Belanda, Sentot yang beragama Islam (sama dengan kaum Padri) akan menarik simpati kaum Ternyata Sentot dicurigai mengadakan hubungan dengan kaum Padri dan ditarik kembali ke Batavia. Hal yang lebih amengejutkan ialah kaum Adat dan kaum Padri bersatu pada tahun 1831. Mereka kemudian menyerang kota Bonjol yang sudah diduduki Belanda pida tahun 1833. Walaupun menghadapi serangan dari berbagai pihak, samun karena persenjataan lebih lengkap Belanda akhirnya dapat merebut kosis kekuatan kaum Padri di kota Bonjol pada tahun 1834. Tuanku Imam Bonjol hanya dapat bertahan sampai tahun 1837. Beliau bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda tetapi kemudian ditipu. Beliau dibawa ke Batavia, kemudian diasingkan ke Minahasa dan meninggal dalam usia 92 tahun.

Daftar Pustaka : Yudhistira