Sejarah Perlawanan Rakyat Maluku

Pada waktu membahas VOC, masih ingatkah kamu bahwa sejak kantor pusat VOC dipindahkan ke Jayakarta, sikap VOC menjadi semakin keras? Bahkan VOC menggunakan militer dalam usahanya memaksakan monopoli cengkih, pala, dan buah pala di beberapa wilayah Indonesia. Sikap keras ini menimbulkan reaksi sebagai protes terhadap apa yang dilakukan VOC. Kaum muslim Hitu (Ambon bagian barat), bekerja sama dengan orang-orang Ternate melawan VOC. Perlawanan rakyat Maluku yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi ini juga mendapat bantuan dari Kerajaan Gowa di Makassar.

Monopoli yang dilakukan VOC bertujuan untuk membatasi produksi cengkih agar harga tetap tinggi. Jika produksi cengkih melebihi yang dibutuhkan oleh dunia, harga cengkih menjadi murah. Hal itu berarti keuntungan yang diperoleh VOC sedikit. Karena itu VOC melakukan pemusnahan tanaman-tanaman cengkih yang tidak dikehendakinya. Kamu pernah mendengar Pelayaran Hongi? Hongi sebenarnya adalah nama kapal cepat yang ada pada waktu itu. Dengan kapal tersebut VOC melakukan pelayaran ke berbagai wilayah di Maluku dan memusnahkan tanaman-tanaman cengkih. Karena kapal yang digunakan adalah kapal hongi maka disebut Pelayaran Hongi.

Sebagai pemimpin masyarakat Hitu, Kakiali melawan monopoli VOC dengan cara menyelundupkan cengkih. Orang-orang Hitu juga membuat benteng-benteng di pedalaman. Ketika Kakiali ditangkap pada tahun 1634, orang-orang Hitu lari ke benteng mereka dan bersiap untuk berperang melawan VOC. Oleh karena itulah pada tahun 1637 Gubernur Jenderal VOC, Antonio van Diemen memimpin sendiri operasi militer ke Maluku. Pasukan Ternate berhasil diusir dan untuk mendapatkan simpati rakyat Hitu, Kakiali dibebaskan. Rakyat Hitu yang sudah terlanjur benci kepada VOC terus melakukan perlawanan. Pada tahun 1638 Belanda kembali ke Maluku dan berhasil mengadakan perdamaian dengan Sultan Ternate. Pada tahun 1643 VOC kembali mengirimkan tentara ke Maluku, dan kali ini dengan siasat licik berhasil membunuh Kakiali. Perlawanan rakyat Hitu terhadap VOC diteruskan di bawah pimpinan Telukabesi yang kemudian menyerah dan dibunuh pada tahun 1646.


Terbunuhnya Kakiali dan Telukabesi mengakhiri perlawanan rakyat Hitu secara efektif. Akan tetapi, bukan berarti monopoli VOC di Maluku Selatan menjadi aman. Orang-orang Ternate dan Makassar masih tetap melakukan perdagangan rempah-rempah secara gelap. Langkah VOC untuk mengatasi hal tersebut dilakukan dengan cara mengangkat kembali Raja Ternate, Mandarsyah, yang telah dikudeta oleh rakyatnya. Mandarsyah kemudian dibawa ke Batavia. Pada tahun 1852, Mandarsyah disuruh menandatangani perjanjian yang isinya melarang penanaman cengkih di semua wilayah, kecuali Ambon. Menurut perhitungan, cengkih yang dihasilkan di Ambon sudah mencukupi kebutuhan dunia waktu itu. Rakyat Ternate melakukan perlawanan yang berlangsung antara tahun 1652-1658. VOC berhasil menghentikan perlawanan rakyat Ternate sehingga tinggal rakyat Makassar dari Kerajaan Gowa yang menghalangi monopoli VOC.

Daftar Pustaka : Yudhistira