Sosiologi Sebagai Ilmu

Setelah kita banyak membicarakan tentang hakikat dan sejarah perkembangan sosiologi, pertanyaan yang akan muncul kemudian adalah apakah sosiologi itu merupakan suatu ilmu pengetahuan?

Untuk menjawabnya, marilah kita bahas arti ilmu pengetahuan (science). Secara sederhan, dapat dirumuskan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran serta selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Perumusan tersebut masihlah sangat jauh dari kesempurnaan. Namun, yang terpenting adalah bahwa perumusan tersebut telah mencakup beberapa unsur pokok yang tergabung dalam suatu kebulatan. Unsur-unsur pokok tersebut, antara lain pengetahuan, tersusun secara sistematis, menggunakan pemikiran, dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

1. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan pancaindranya. Pengetahuan berbeda dengan buah pikiran (ideas) karena tidak semua buah pikiran merupakan pengetahuan. Bisa saja buah pikiran itu hanya semata-mata merupakan kelakar dan angan-angan. Namun, bagi seorang ilmuwan bisa saja buah pikiran tersebut merupakan hal yang berharga guna pelaksanaan tugas atau kegiatannya.

2. Tersusun secara Sistematis
Perlu diketahui bahwa tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu. Hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang merupakan ilmu pengetahuan. Sistematika berarti urut-urutan tertentu dari unsur-unsur yang merupakan suatu kebulatan. Dengan adanya sistematika, akan jelas tergambar garis besar ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

3. Menggunakan Pemikiran
Pemikiran adalah proses berpikir dengan menggunakan otak. Pengetahuan yang berasal dari pemikiran tersebut diperoleh melalui kenyataan (fakta) dengan melihat dan mendengar sendiri serta melalui alat-alat komunikasi. Alat komunikasi yang dimaksud, misalnya surat kabar, radio, film, dan televisi. Hal-hal tersebut kemudian diterima dengan pancaindra untuk diolah oleh otak. Dari sinilah muncul pengaruh atau pengalaman-pengalaman yang disusun secara sistematik oleh otak dan hasilnya adalah ilmu pengetahuan.

4. Dapat Dikontrol secara Kritis oleh Orang Lain atau Umum (Objektif)
Pada tahap ini, ilmu pengetahuan tersebut harus dapat dikemukakan dan diketahui umum sehingga dapat diperiksa dan ditelaah oleh umum yang mungkin berbeda paham dengan ilmu pengetahuan yang dikemukakan. Kalau ilmu pengetahuan yang netral tersebut sudah diterima oleh umum, ilmu pengetahuan tadi harus ditujukan pada suatu sasaran tertentu, misalnya masyarakat, manusia, dan gejala-gejala alam.


Dengan memerhatikan rumusan tentang ilmu pengetahuan di atas, jelaslah`bahwa sosiologi merupakan ilmu sosial yang objeknya masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur ilmu pengetahuan'.  Adapun ciri sosiologi adalah bersifat empiris, teoretis, kumulatif, dan nonetis.

1. Sosiologi Bersifat Empiris
Sosiologi bersifat empiris, artinya bahwa ilmu pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pengamatan dan penalaran serta hasilnya tidak bersifat spekulatif

2. Sosiologi Bersifat Teoretis
Sosiologi bersifat teoretis, artinya bahwa ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.

3. Sosiologi Bersifat Kumulatif
Sosiologi bersifat kumulatif, artinya bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti mernperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama.

4. Sosiologi Bersifat Nonetis
Sosilogi bersifat nonetis,artinyta yang di persoalkan dalam sosiologi bukanlah mengenai buruk-baiknya fakta tertentu.Akan tetapi,sosiologi bertujuan untuk menjelaskan fakta tersebut secara analistis.

Daftar Pustaka : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri