Faktor-faktor Penjelajahan Samudra di Indonesia

Terdapat beberapa faktor yang berperan sebagai pendorong bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera. 

Perkembangan ilmu pengetahuan 

Telah kita bahas sebelumnya, berkat pengaruh kebudayaan Islam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan mengalami perkembangan pesat di Eropa. Selanjutnya, perkembangan tersebut melahirkan pemikiran dan pandangan baru. Salah satu pemikiran baru termasyur disumbangkan oleh Nicolaus Copernicus. Dalam teorinya yang bernama Heliosentris, ia menyatakan balwa bumi ini bulat dan merupakan salah satu benda antariksa yang mengelilingi matahari. Pendapatnya ini menolak pendapat kuno yang memandang bumi ini datar seperti meja. Pandangan kuno tersebut mengandung mitos adanya lubang besar di ujung dunia. Akibatnya, orang pun tidak berani pergi terlalu jauh. 

Sejak mitos tersebut dibantah oleh pandangan Copernicus, timbullah keinginan orang-orang Eropa untuk mengadakan penjelajahan samudera. Mereka ingin melihat wilayah-wilayah baru yang selama ini tak pernah mereka bayangkan. Mereka pun ingin membuktikan sendiri kebenaran teori Copernicus tersebut. Keinginan tersebut didukung oleh penemuan lainnya di bidang ilmu pengetahuan, seperti kompas, mesiu, dan teknologi pelayaran. 

Ekonomi 

Faktor ini merupakan pendorong paling kuat. Selama ini para pedagang Eropa memperoleh barang dagang berharga dari India, Jepang, Cina, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) melalui para pedagang perantara di pelabuhan dan kota dagang di wilayah Asia Barat. Di tempat transit tersebut, sudah tentu harga barang dagang sudah cukup tinggi. Akibatnya, meskipun harga barang dagang itu sudah dinaikkan lagi di Eropa, keuntungan yang didapat masih dirasa sedikit. 

Lain halnya kalau barang dagang itu diperoleh langsung dari negeri asalnya. Di tempat ini, para pedagang Eropa itu tentunya dapat membeli dengan harga murah, sehingga keuntungan yang akan diraih dari penjualan di Eropa nantinya pun bisa semakin berlipat ganda. 

Politik 

Pada tahun 1453, Byzantium direbut oleh Kekalifahan Osmania, yang dipimpin oleh Sultan Mohammad II. Sejak saat itu, hubungan dagang antara Asia Barat dengan Eropa kembali terganggu. Perdagangan di Asia Barat cenderung dimonopoli oleh para pedagang Asia Barat. Harga barang-barang dagangan yang dulunya merupakan hasil ketentuan bersama, kini lebih banyak ditentukan oleh para pedagang Asia Barat tersebut. Akibatnya, para pedagang Eropa merasa hubungan dagang di wilayah itu tidak lagi menguntungkan. Mereka pun tergerak untuk mencari barang berharga langsung dari sumbernya. Tindakan itu sekaligus dimaksudkan untuk mematahkan blokade monopoli pedagang Asia Barat. 


Idealisme 

Penjelajahan samudera juga digelorakan oleh idealisme (cita-cita) berupa semboyan Gold, Gospel, and Glor y. Semboyan Gold (emas) berkaitan erat dengan faktor ekonomi. Para penjelajah berharap meraup kekayaan sebanyak mungkin di wilayah-wilayah yang mereka kunjungi, baik bagi diri sendiri maupun negeri asal mereka. Semboyan Gospel (Injil, Alkitab umat Kristen) bersangkutpaut dengan keagamaan. 
Para penjelajah dibebani kewajiban oleh pemerintah negeri asal untuk menyebarkan agama Kristen ke wilayah-wilayah yang dikunjungi. Itulah sebabnya, bersama mereka sering kali ikut juga para pastor, biarawan, atau misionaris. Semboyan Glory (kejayaan) semata-mata timbul dari jiwa bertualang para penjelajah. Ada kebanggaan tersendiri kalau ekspedisi mereka berhasil menemukan jalur perdagangan baru, wilayah baru, melebihi ekspedisi yang telah dilakukan sebelumnya. 

Dua negara pelopor penjelajahan samudera adalah Portugis dan Spanyol. Pemerintah kedua negara tersebut amat bersemangat mensponsori atau mem-biayai ekspedisi-ekspedisi pelayaran. Kegiatan itu kemudian diikuti oleh bangsa Eropa lainnya seperti Inggris dan Belanda. 

Penjelajahan samudera yang dipelo-pori Portugis diawali oleh ekspedisi Bartho-lomeus Diaz. Pada tahun 1486, kapal layarnya menjelajah pantai barat Afrika sampai Tanjung Harapan. Jejak Diaz diikuti oleh Vasco da Gama. Pada tahun 1498, ekspedisinya berhasil melewati Tanjung Harapan dan sampai di Kalikut, India. Keberhasilannya itu diteruskan oleh Francessco de Almeida, yang pada tahun 1510 dapat menguasai Goa, di pantai barat India. Selain berlayar ke arah timur, ada juga ekspedisi ke arah barat menga-rungi Samudera Atlantik. Ekspedisi yang dipimpin oleh Cabral itu berhasil mencapai suatu wilayah di Amerika Selatan (sekarang Brasilia) pada tahun 1500. 

Agak berbeda dengan Portugis, Spanyol lebih menitikberatkan ekspedisi maritimnya ke arah barat, walaupun tujuannya tetap sama, yakni Asia. Pelopornya antara lain adalah Christo-phorus Colombus, yang disebut-sebut sebagai penemu Benua Arnerika; Magelhaens, yang termasyur dengan ekspedisinya mengelilingi dunia; Ferdinand Cortez, yang menaklukkan suku Aztek di Amerika Tengah; dan Francessco Pizzaro, yang membantai suku Inca di Peru serta merampok harta benda mereka. 

Ekspedisi demi ekspedisi yang diadakan oleh Spanyol dan Portugis sudah tentu mengakibatkan persaingan antara keduanya. Untuk mencegah meletusnya perang antara kedua negara tersebut, jauh sebelumnya telah diadakanlah Perjanjian Tordesillas. Perjanjian ini berlangsung atas prakarsa Paus Aleksander VI pada tahun 1494. Menurut perjanjian ini, dunia dibagi menjadi dua bagian. Daerah sebelah timur dikuasai oleh Portugis, sedangkan daerah sebelah barat dikuasai oleh Spanyol. 

Adapun para tokoh penjelajah samudera dari Inggris antara lain Francis Drake, yang berhasil mengelilingi dunia antara tahun 1577-1580; William Dampier, yang berhasil mendarat di pantai barat Australia; James Cook, yang berhasil menyusuri pantai timur Australia; dan Matthew Flinders, yang berhasil mengelilingi Australia serta membuat peta benua itu. Sedangkan para penjelajah samudera dari Belanda antara lain adalah Barentz, yang mengadakan pelayaran menuju Asia melalui Kutub Utara; Willem Jansz, yang berhasil mendarat di Teluk Carpentaria, Australia Utara; Jan Cartensz, yang sampai ke Tanjung York, Australia Timur Laut; serta Abel Tasman, yang disebut-sebut sebagai penemu Kepulauan Tasmania, Fiji, dan Selandia Baru. 

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, penjelajahan samudera itu bertujuan ke Asia, entah dari arah timur ataupun barat. Akibatnya, wilayah Indonesia pun turut menjadi sasaran penjelajahan tersebut.

Daftar Pustaka : ERLANGGA