Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyimpangan Sosial

Ada beberapa faktor eksternal yang memengaruhi penyimpangan sosial, seperti faktor sosial ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain. Kondisi sosial ekonomi sangat memengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan penyimpangan sosial. Ada yang mengatakan bahwa kemiskinan dapat membawa orang melakukan kejahatan. 

Faktor kemiskinan berarti tidak memiliki pekerjaan ataupun berpenghasilan rendah. Biasanya, orang yang tidak memiliki pekerjaan atau berpenghasilan rendah adalah orang yang memiliki beban keluarga cukup berat. Sementara itu, orang-orang yang berada pada golongan ini juga memiliki kualitas iman yang rendah sehingga dapat menimbulkan penyimpangan sosial, seperti mencuri, mencopet, menipu, merampok, dan lain-lain. Faktor sosial ekonomi yang menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial tidak hanya terjadi pada masyarakat miskin saja. Akan tetapi, terjadi pula pada masyarakat yang sudah memiliki harta yang melimpah. Hal ini dapat dilihat pada orang kaya atau pejabat yang memiliki kehidupan

sosial ekonomi yang sudah mapan masih juga tidak puas 3engan segala hal yang ia miliki. Biasanya, mereka haus terhadap kekayaan dan jabatan sehingga dapat melakukan penyimpangan sosial, misalnya korupsi. Orang-orang yang ,eperti ini adalah orang-orang yang tidak peduli dengan Ikehidupan masyarakat di sekitarnya. Aldbatnya, kehidupan rakyat-lah yang semakin terpuruk karena ulahnya. 

Contoh mengenai penyimpangan sosial dalam politik dapat dilihat dari sosok Hitler yang memimpin Jerman dan yang telah banyak melakukan pelanggaran politik dan hak asasi manusia. Di Kamboja, ada pula rezim Khmer Merah yang dilakukan Pol Pot yang melakukan banyak pelanggaran terhadap hak asasi manusia. 

Dalam kondisi tertentu, norma dan nilai yang berlaku di masyarakat tertentu belum tentu cocok dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat lainnya. Perbedaan budaya di suatu tempat itu kadang kala dapat memicu timbulnya penyimpangan sosial individu atau kelompok yang berasal dari masyarakat lain. Misalnya, suku Jawa Solo memiliki perbedaan kebudayaan dengan suku Batak. Ada kemungkinan terjadinya penyimpangan sosial apabila orang Batak makan bersama dengan orang Jawa Solo. 


Faktor Internal

Secara umum, orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi biasanya memiliki sifat rasional, cepat mengambil keputusan, percaya diri, dan mandiri. Sementara itu, orang yang memiliki tingkat inteligensi yang lemah biasanya berpikir lamban, sulit mengambil keputusan, ragu-ragu, dan selalu tergantung kepada orang lain. 

Kondisi fisik seseorang yang kurang sempurna bentuk dan susunan organ tubuhnya dapat menyebabkan timbulnya penyimpangan sosial. Hal ini dapat dilihat melalui orang yang kurang sempurna organ badannya, seperti tunarungu, tunawicara, tunanetra, atau cacat fisik lainnya. Orang yang memiliki kondisi fisik seperti ini harus memiliki sifat percaya diri yang tinggi. Apabila orang itu tidak mengimbangi kekurangan fisiknya dengan rasa percaya diri, orang seperti itu akan cenderung minder dan malu bergaul dengan sesama teman atau tetangganya. 

Kondisi psikis atau kejiwaan seseorang sangat memengaruhi perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki kondisi jiwa yang labil akan mudah melakukan penyimpangan sosial. Contohnya adalah orang yang selalu cemas tidak dapat memusatkan perhatiannya terhadap suatu masalah. Hal ini disebabkan jiwa atau psikisnya sedang terganggu. Selain itu, seseorang yang memiliki beban masalah yang sangat banyak sering kali mengambil jalan pintas dengan perbuatan yang menyimpang, misalnya bunuh diri. Masalah bunuh diri pernah menjadi isu yang hangat di masyarakat Indonesia. Beberapa pelajar yang melakukan percobaan bunuh diri merasa malu karena tidak dapat membayar uang SPP atau uang ujian di sekolahnya. 

Karakter atau watak seseorang merupakan bawaan sejak lahir. Ada orang yang memiliki watak halus, lembut, atau peka terhadap situasi lingkungan. Ada pula orang yang memiliki watak keras, cuek, pemberani, dan sebagainya. Dalam interaksi sosial, kita sering menemui orang yang mudah tersinggung atau sering merasa rendah diri bila berhadapan dengan orang lain. Sebaliknya, ada pula orang yang sangat pemberani dalam melakukan segala hal. Tipe orang seperti ini biasanya bersedia melakukan cara apa pun agar tujuannya tercapai. Bahkan, ia juga bersedia melakukan perbuatan yang melanggar hukum asal tujuannya dapat terpenuhi. 

Daftar Pustaka : ERLANGGA