Faktor yang Mempengaruhi Nasionalisme di Indonesia

Nasionalisme di Indonesia secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya pengaruh perluasan kekuasaan kolonial barat di Indonesia, pengaruh pendidikan barat, dan pengaruh perkembangan pendidikan yang bernuansa keagamaan.

Pengaruh Perluasan Kekuasaan Kolonial Barat 

Kekuasaan kolonial Barat di Indonesia pada mulanya hanya ingin mendominasi perekonomian. Lama-kelamaan, kaum kolonial juga berusaha mendominasi secara politik. Tujuan penguasaan politik ini tentu berkaitan dengan kepentingan ekonomi mereka. Mereka tidak ingin kepentingan ekonomi mereka diganggu oleh kebijakan penguasa atau politisi lokal. Untuk itu, mereka merasa perlu ikut campur dalam masalah politik suatu daerah, yaitu tempat mereka memiliki kepentingan. batnya lama kelamaan hak politik dan ekonomi rakyat Indonesia dirampas semuanya oleh penjajah. Raja-raja tidak lagi menjadi penguasa daerah tetapi menjadi pegawai penjajah. Rakyat juga tidak memiliki kebebasan untuk menentukan kemana hasil pertaniannya dijual. Alhasil, rakyat Indonesia menderita kemiskinan dan keterbelakangan. 

Penjajahan dan penindasan yang dilakukan penjajah Barat selama beratus tahun itu menimbulkan kesadaran bangsa Indonesia. Mereka sadar bahwa perbaikan nasib rakyat Indonesia tidak akan datang dari kaum penjajah. Rakyat Indonesia sendirilah yang harus berjuang. Oleh karena itu, rakyat Indonesia harus membebaskan diri dari belenggu penjajah Barat. 


Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat 

Para tokoh perjuangan sadar bahwa usaha membebaskan diri dari belenggu penjajah hanya berhasil bila ada persatuan yang kokoh antara seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu, mereka merasa perlu menumbuhkan kesadaran bersama di antara kelompok-kelompok masyarakat Indonesia. alah satu cara mencapainya adalah melalui pendidikan. Sejak akhir abad ke-19, muncul berbagai perusahaan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan tenaga-tenaga kerja terampil dari penduduk pribumi. Demikian pula di bkebijakan ekonominya. Hal ini membuat pemerintah Belanda secara lambat laun mendirikan sekolah-sekolah. Nfulamula, sekolah yang dibuka terbatas sampai tingkat rendah saja. 

Pada dasawarsa kedua abad ke-20, pemerintah Belanda pun membuka sekolah tingkat menengah. Sejak tahun dua puluhan, dibuka pula sekolah tingkat tinggi. Pada masa itu, ada empat kategori sekolah. Pertama, sekolah Eropa yang sepenuhnya memakai model sekolah negeri Belanda (tipe 1). Kedua, sekolah bagi pribumi vang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar (tipe 2). Ketiga, sekolah bagi pribumi yang memakai bahasa daerah/pribumi sebagai bahasa pengantar (tipe 3). Keempat, sekolah yang memakai sistem pribumi (tipe 4). 

Kedudukan sekolah tipe 1 dan 2 tentu sangat strategis. Artinya, sekolah ini menghasilkan tamatan yang siap menjalankan fungsinya dalam sektor-sektor yang terdapat bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Dalam situasi kolonial, jabatan-jabatan itu tidak hanya berstatus lebih tinggi, tetapi juga memberikan penghasilan yang lebih besar. Sekolah tipe 3 dan 4 diproyeksikan sebagai tenaga administratif yang akan selalu berhubungan dengan orang-orang pribumi. 

Pendidikan ternyata begitu menarik bagi anak-anak bumiputera karena pendidikan Barat telah membawa pandangan baru di masyarakat. Pendidikan Barat telah menjadi lambang prestise (gengsi). Selain itu, pendidikan Barat telah mampu mempersiapkan orang secara lebih baik untuk memperoleh kemajuan. Lambat laun, penduduk bumiputera tertarik untuk memperoleh pendidikan Barat daripada sistem pendidikan lain yang sifatnya tradisional. Mereka kemudian dikenal sebagai kaum terpelajar. 

Di samping sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah kolonial, muncul pula sekolah-sekolah swasta, seperti Taman Siswa. Tidak hanya itu, ada pula sekolah-sekolah lain yang diselenggarakan oleh komunitas agama tertentu, seperti Muhammadiyah (Islam), Missi (Katolik), dan Zending (Kristen). Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menghasilkan tokoh-tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 


Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam 

Pada masa sebelumnya, pendidikan Islam di Indonesia dicampuri oleh bermacam-macam ajaran mistik, penghormatan terhadap guru secara berlebihan, atau sistem pengajaran yang masih sederhana. Setelah timbulnya gerakan pembaharuan, pendidikan Islam dimodernisasikan dengan mengubah sistem pengajaran dan kurikulum yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Salah satu organisasi Islam yang menaruh perhatian besar pada hal ini adalah organisasi Muharnmadiyah. idang pemerintahan membutuhkan banyak tenaga kerja administratif guna mendukung

Organisasi ini didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Sekolah-sekolah yang didirikan organisasi Islam seperti Muhammadiyah bersifat modern, namun masih bersifat islami. Artinya, ilmu pengetahuan modern dipadu dengan ajaran Islam. 

Daftar Pustaka : ERLANGGA