Indonesia dibawah Pemerintahan Kerajaan Belanda

Revolusi yang berlangsung di Perancis diikuti dengan pemerintahan yang silih berganti. Dalam situasi serba kacau tersebut, tampillah Napoleon Bonaparte menyelamatkan Perancis dari ambang kehancuran. Pada tahun 1804, ia mengangkat dirinya menjadi Kaisar Perancis. Perubahan politik tersebut berdampak juga di Belanda. Dua tahun kemudian, Napoleon menjadikan Republik Bataaf sebagai kerajaan. Ia menunjuk adiknya, Lodewijk Napoleon menjadi raja di Belanda. Dalam rangka menghadapi agresi Inggris, Napoleon mengusulkan kepada adiknya untuk menunjuk Hermann Willem Daendels menjadi gubernur jenderal di Indonesia. Ia adalah seorang perwira militer yang cakap dan pendukung Revolusi Perancis. Sejak tahun 1808, Daendels secara resmi memegang kuasa atas Indonesia.

Daendels memusatkan pertahanan di wilayah yang menguntungkan secara ekonomis. Wilayah yang dimaksud adalah Jawa dan Maluku. Untuk memperkuat pertahanan, ia menambah jumlah prajurit, sekaligus menaikkan gaji dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Selain itu, dibangun kapal-kapal baru, pabrik senjata (di Batavia dan Surabaya), pangkalan kapal, dan kubu-kubu pertahanan. Agar terjalin gerak militer yang cepat antarkubu pertahanan serta mempermudah angkutan perbekalan, dibangunlah jalan raya dari Anyer sampai Panarukan. Penyelesaian proyek raksasa ini sudah tentu memakan banyak tenaga dan biaya. 

Untuk membangun jalan raya AnyerPanarukan, Daendels memberlakukan aturan penyerahan wajib (verplichte leveranties) dan wajib kerja (verplichte diensten). Aturan tersebut menimbulkan ketegangan antara penguasa setempat dengan sang gubernur jenderal. Namun, Daendels tidak menghiraukan protes tersebut. Bahkan, ia membuang Sultan Banten ke Ambon, karena pemimpin itu menolak rakyatnya dipekerjakan secara paksa. 

Sepak terjang Daendels yang menindas rakyat itu menimbulkan kebencian di antara para penguasa dan rakyat Indonesia. Kebencian ini semakin bertambah karena ia tidak mempedulikan tata sopan santun atau etiket setempat. Situasi ini akhirnya terdengar juga oleh para petinggi di Belanda. Hubungan yang tidak harmonis dengan penguasa maupun rakyat setempat dirasa akan membahaya-kan kondisi pertahanan terhadap serangan Inggris. Dukungan penduduk setempat sudah tentu akan berkurang, bahkan ada yang cenderung berpihak ke Inggris. Maka, untuk mencegah bahaya lebih lanjut, Daendels dicopot dari jabatannya. Kedudukannya digaritikan oleh Jansens. Sebagai gubernur jenderal yang baru, Jansens harus memulihkan keadaan pertahanan yang belum stabil. Sementara itu, pada tanggal 11 Agustus 1811, tentara Inggris mendarat di Batavia di bawah pimpinan Lord Minto (Gubernur Jenderal EIC). Dalam tempo singkat, tentara Inggris dapat mendesak pasukan Belanda, sehingga akhirnya menyerah di Tuntang. Di tempat itu, Jansens menyerahkan kuasa atas Indonesia kepada Inggris. Untuk menjalankan pemerintahan di Indonesia, Lord Minto menugaskan Thomas Stamford Raffles sebagai gubernur EIC di Indonesia.


Daftar Pustaka : ERLANGGA