Interaksi Indonesia-Jepang pada Masa Kolonial Belanda

Setelah pemerintahan Syogun berakhir dan beralih ke tangan Meiji Tenno, lipang mulai mengadakan modernisasi secara besar-besaran. Modernisasi amersputi berbagai bidang, seperti politik, pemerintahan, militer, pendidikan, labamomi, dan industri. Perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat dan sangat berhasil mengakibatkan Jepang dalam waktu relatif singkat dapat ertnyamai negara-negara Eropa dan Amerika. Bahkan dalam bidang ekonomi, beberapa hasil industri Jepang dinilai jauh melebihi hasil-hasil industri Barat, limac dalam kuantitas maupun kualitasnya. 

Kelebihan hasil-hasil industri tentu memerlukan pasar untuk memasarkan basil-hasil industri itu. Selain negara-negara Eropa dan Amerika, di Asia (Cina, dan Indonesia) adalah tempat pemasaran yang potensial bagi hasil-hasil industri Jepang karena jumlah penduduk di tiga wilayah itu sangat besar. Bagi jepang, Indonesia tidak hanya potensial sebagai pasar, tetapi juga sebagai imnpat mengambil berbagai bahan mentah untuk kelangsungan industrinya adara lain karet, kapas, minyak, bauksit, dan timah. 

Sekitar tahun 1930 dampak depresi dunia terasa di Indonesia. Jepang mulai mengadakan terobosan pasar ke Indonesia. Pemasaran hasil industri Jepang di Indonesia mendapat simpati rakyat, terutama tekstil. Hal itu disebabkan limalitasnya cukup baik dan harganya lebih murah bila dibandingkan tekstil Belanda. Pada tahun 1934, 30 % impor Indonesia berasal dari Jepang, sedangkan dari Belanda hanya hanya 9,5 %. Karena minimnya impor Indonesia dari Belanda, pemerintah kemudian memberlakukan larangan-larangan yang bersifat diskriminatif untuk melindungi hasil industri Barat dan pribumi, sekaligus membatasi jumlah masuk hasil industri Jepang ke Indonesia. 

Akibat dari kebijakan itu, saham Jepang dalam perdagangan Indonesia menurun drastis. Masalah persaingan hasil industri Jepang dan Belanda di Indonesia terus berlangsung sehingga diperlukan adanya suatu konferensi ekonomi antara Koboyasi dan Van Mook yang ternyata mengalami kegagalan. 

Sementara itu, pada bulan Juli 1939, Amerika Serikat membatalkan perjanjian perdagangan dengan Jepang. Embargo diberlakukan terhadap pengiriman barang-barang hasil industri Jepang serta membekukan aktiva Jepang di Amerika. Tindakan Amerika itu justru mengakibatkan Jepang menganggap Indonesia semakin penting bagi mereka. Oleh karena itu, Jepang berusaha keras mematahkan sendi-sendi perekonomian Belanda di Indonesia dengan berbagai cara. Dari sekitar 7000 orang Jepang yang menetap di Indonesia pada tahun 1939, sebagian besar di antaranya adalah agen-agen imperialisme ekonomi dan militer. Mereka sengaja ditempatkan untuk memantau atau memata-matai pusat-pusat perekonomian dan militer Belanda di Indonesia. Tindakan pemerintah Jepang itu sangat besar manfaatnya di kemudian hari. Ketika militer Jepang menyerbu Indonesia, dalam waktu yang relatif singkat pusat-pusat perekonomian dan militer Belanda di Indonesia jatuh ke tangan tentara Jepang. Tentara Jepang yang memenangkan pertempuran di Pasifik dengan tentara Sekutu, terus bergerak ke selatan, termasuk wilayah Asia Tenggara, tidak terkecuali Indonesia untuk dijadikan daerah pendudukannya. 



Daftar Pustaka : YUDHISTIRA