Klasifikasi Iklim dan Pola Curah Hujan di Indonesia

Apakah kamu masih ingat Kegiatan Belajar 14 tentang pengertian iklim? Iklim adalah cuaca rata rata di daerah yang luas dalam jangka waktu panjang (kira-kira 30 tahun). Untuk mendapatkan gambaran iklim suatu daerah dengan tepat tidak cukup hanya memperhatikan unsur-unsur cuaca rata-rata saja, tetapi harus diperhatikan juga perubahannya sepanjang waktu. 

A. MACAM-MACAM IKLIM 

Terjadinya iklim yang bermacam-macam di muka bumi, disebabkan karena rotasi dan revolusi serta adanya perbedaan garis lintang. Beberapa macam iklim antara lain diuraikan sebagai berikut. 

Iklim Matahari Klasifikasi iklim matahari, didasarkan pada jumlah sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Pembagian daerah ildim adalah sebagai berikut. 
1. Daerah ildim tropis : 0 - 23,5° LU/LS b. Daerah ildim subtropis : 23,5° - 40° LU/LS c. Daerah iklim sedang : 40° - 66,5° LU/LS d. Daerah ildim dingin : 66,5° - 90° LU/LS 

2. Iklim Kodrat Pembagian iklim ini disesuaikan dengan batas kehidupan tumbuh-tumbuhan dan sebagai batas daerah ildim digunakan garis isoterm pada bulan terpanas dan terdingin selama satu tahun. 

3. Iklim Koppen Iklim ini paling banyak dipergunakan orang. Klasifikasinya berdasarkan curah hujan dan suhu. Koppen membagi iklim dalam 5 daerah iklim dan dinyatakan dengan simbol huruf.

4. Iklim Schmidt-Ferguson
Iklim Schmid-Ferguson sering disebut Q model karena di dasarkan atas nilai indeks nilai Q.

5. Iklim Oldeman 
Seperti halnya metode Schmidt-Ferguson, metode Oldeman (1975), hanya memakai unsur curah hujan sebagai dasar ldasifikasi iklim. Bulan basah dan bulan kering secara berturut-turut, yang dikaitkan dengan pertanian untuk daerah-daerah tertentu. Maka penggolongan iklimnya dikenal dengan sebutan zona agroklimat (agroclimatic classification). 

Misalnya jumlah curah hujan sebesar 200 mm tiap bulan dipandang cukup untuk membudidayakan padi sawah, sedangkan untuk sebagian besar palawija maka jumlah curah hujan minimal yang diperlukan adalah 100 mm tiap bulan. Musim hujan selama 5 bulan dianggap cukup untuk membudidayakan padi sawah selama satu musim. Dalam metode ini, bulan basah didefinisikan sebagai bulan yang mempunyai jumlah curah hujan sekurang-kurangnya 200 mm. Meskipun lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis yang digunakan, periode 5 bulan basah berurutan dalam satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah, maka petani dapat menanam padi sebanyak 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan. Berdasarkan tinjauan di atas, Oldeman membagi 5 daerah agroldimat utama, yaitu: 

A : Jika terdapat lebih dari 9 bulan basah berurutan. 
B : Jika terdapat 7 — 9 bulan basah berurutan.
C : Jika terdapat 5 — 6 bulan basah berurutan. 
D : Jika terdapat 3 — 4 bulan basah berurutan. 
E : Jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berurutan. Klasifikasi yang digunakan oleh Oldeman adalah sebagai berikut. 
1. Bulan basah apabila curah hujannya lebih dari 200 mm. 
2. Bulan lembab apabila curah hujannya 100-200 mm. 
3. Bulan kering apabila curah hujannya kurang dari 100 mm. 
6. Iklim F. Junghuhn 

Junghuhn mengklasifikasikan daerah iklim di Pulau Jawa secara vertikal, yakni sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya, cobalah mengerjakan tugas berikut! 


B. POLA CURAH HUJAN DI INDONESIA 

Pola umum curah hujan di Kepulauan Indonesia dapat dikatakan sebagai berikut: 

1. Pantai barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan yang selalu lebih banyak dari pantai timur. 

2. Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT merupakan barisan pulau-pulau yang panjang dan berderet dari barat ke timur. Pulau-pulau ini hanya diselingi oleh selat-selat yang sempit, sehingga untuk kepulauan ini secara keseluruhan tampak seakan-akan satu pulau, sehingga berlaku juga dalil, bahwa di sebelah timur curah hujan lebih kecil, kalau dibandingkan dengan sebelah barat. Curah hujan yang lebih besar terdapat di sebelah barat pantai Jawa Barat. 

3. Selain bertambah jumlahnya dari timur ke barat, hujan juga bertambah jumlahnya dari dataran rendah ke pegunungan, dengan jumlah terbesar pada ketinggian 600 — 900 m. 

4. Di daerah pedalaman semua pulau, musim hujan jatuh pada musim Pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar-besar. 

5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak Daerah Konvergensi Antar Tropik. 

6. Saat mulai turunnya hujan juga bergeser dari barat ke timur. Pantai barat Pulau Sumatera sampai Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November. Lampung dan Bangka, yang letaknya sedikit ke timur, mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember. Sedang-kan Jawa, Bali, NTB, NTT yang letaknya lebih ke timur lagi pada mendapat hujan paling banyak pada bulan Januari-Februari. 

7. Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara dan Maluku Tengah mempunyai musim hujan yang berbeda, yaitu Mei-Juni. Justru pada waktu bagian lain Kepulauan Indonesia ada pada musim kering. Batas rezim hujan Indonesia Timur kira-kira terdapat pada 120° Bujur Timur. 

Curah hujan di Indonesia tergolong tinggi yaitu lebih dari 2.000 mm/tahun. Akan tetapi, seperti telah disebutkan di awal bahwa antara tempat yang satu dengan tempat yang lain curah hujannya tidak sama. Daerah yang paling besar curah hujannya adalah daerah Batu Raden di lereng Gunung Slamet (Jawa Tengah), dengan curah hujan sekitar 7.069 mm/tahun. Sedangkan Kota Palu di Sulawesi Tengah, merupakan daerah paling kering, dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.

Daftar Pustaka : PT. PHIBETA ANEKA GAMA