Lahirnya Nasionalisme di Indonesia

Pada bab-bab sebelumnya telah kita pelajari perjuangan rakyat Indonesia di berbagai wilayah. Mereka berjuang demi kepentingan daerah atau kelompok mereka sendiri. Akibatnya, perjuangan mereka dengan mudah dipatahkan oleh penjajah. Bahkan tidak jarang, penjajah mengadu domba kelompok masyarakat di Indonesia. 

Melihat hal ini, para pemuda khususnya kaum terpelajar mulai sadar bahwa penjajah tidak akan dapat dikalahkan tanpa persatuan seluruh rakyat. Untuk itu, mereka mulai melakukan gerakan kesadaran bersama atau nasionalisme sebagai sebuah bangsa. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa nasionalisme atau kesadaran nasional didefinisikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Nasionalisme di Indonesia lahir setelah munculnya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Lahirnya gerakan ini disebabkan tuntutan emansipasi politik, baik di negeri Belanda maupun di Hindia Belanda (Indonesia). Organisasi ini menyadarkan bangsa Indonesia terhadap penderitaan dan kemiskinan dari penindasan yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Organisasi ini menjadi titik awal bagi gerakan rakyat dari yang bersifat kedaerahan ke yang bersifat nasional. 

Setelah Budi Utomo, bermunculan pula organisasi-organisasi pergerakan lainnya seperti Indische Partij, Sarekat Islam, Perhimpunan Indonesia, PNI, PKI, Taman Siswa, NU dan Muhammadiyah. Organisasi-organisasi ini tidak hanya berperan dalam politik saja, tetapi berperan pula dalam bidang-bidang lain seperti pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan. Puncak dari tekad untuk memperjuangkan nasib secara bersama-sama terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Saat itu, para pemuda Indonesia sepakat untuk meleburkan perbedaan di antara mereka dan bersatu di bawah identitas bersama, yakni Indonesia.


Daftar Pustaka : ERLANGGA