Latar Belakang Masuknya Bangsa Belanda ke Indonesia

Negeri Belanda pada mulanya berada di bawah kekuasaan Spanyol. Akibatnya, ruang gerak para pedagang Belanda tadinya terbatas. Pada tahun 1468, rakyat Belanda memberontak, dan 80 tahun ke-mudian negeri ini dapat membebaskan diri dari cengkeraman Spanyol. Sejak saat itulah, Belanda berusaha menjelajah samudera, antara lain sampai ke Indonesia. Mula-mula para pedagang Belanda mencari jalan ke Indonesia melalui Kutub Utara. Upaya ini tidak berhasil. Kemudian mereka menempuh jalan melalui Tanjung Harapan, Laut Arab, Samudera Hindia, dan sampai di Banten. Rombongan tersebut dipimpin oleh Cornelis de Houtman. 

Di Banten, rombongan tersebut kurang mendapat sambutan karena perilaku yang kasar serta kesemena-menaan mereka merampas dua buah perahu Banten. Rombongan lalu meneruskan perjalanan ke Maluku. Namun mereka tidak berhasil sampai ke kepulauan itu, dan terpaksa kembali pulang ke Negeri Belanda. Sementara itu, jalur pelayaran ke Indonesia sudah semakin terbuka. Akibatnya, wilayah Indonesia menjadi rebutan antara Portugis, Inggris, dan Belanda. Persaingan tersebut berakibat semakin meningginya harga rempah-rempah di Eropa. Maka dari itu, pihak manapun yang dapat menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia sudah tentu akan mengeruk banyak keuntungan.

Untuk memenangkan persaingan de-ngan sesama bangsa Eropa, para pedagang Belanda bergabung dalam suatu kongsi. Namanya VOC, kependekan dari Vereenigde Oost Indische Compagnie (Persekutuan Dagang Hindia Timur). Kongsi dagang yang dibentuk pada tahun 1602 tersebut, juga bertujuan untuk menghin-dari persaingan antarpedagang Belanda, serta memberi bantuan ekonomi dan militer kepada negara, yang ketika itu sedang berperang melawan Spanyol. Oleh karena itulah, pemerintah Belanda mem-berikan hak-hak khusus kepada VOC. Adapun privilese yang dimiliki VOC adalah sebagai berikut: 

a. hak monopoli dalam perdagangan 

b. hak mengadakan perjanjian dengan raja atau penguasa setempat atas nama pemerintah Belanda 

c. hak membentuk pasukan militer, mendirikan benteng, dan mengu-mumkan perang 

Privilese tersebut menempatkan VOC sebagai semacam lembaga pemerintahan yang otonom. Itulah, sebabnya sepak terjang VOC di Indonesia diorganisir oleh seorang gubernur jenderal, yang sekali-gus mewakili pemerintah Belanda di wilayah jajahan. VOC mulai menanamkan pengaruh-nya di Ambon. Di tempat inilah gubernur jenderal VOC pertama-tama berdomisili. Kemudian, pada tahun 1609, Pieter Both, gubernur jenderal VOC pertama, berencana memusatkan kedudukan VOC di Jayakarta (Sunda Kelapa). Ia merasa Sunda Kelapa amat tepat nantinya sebagai pusat kegiatan perdagangan sekaligus peme-rintahan VOC. Dibandingkan Ambon tempat ini lebih strategis letaknya dalam jalur perdagangan internasional ketika itu. Di samping itu, dari Jayakarta, VOC akan lebih mudah menyingkirkan saingannya Portugis, yang berkedudukan di Malaka. Maka, ia meminta ijin penguasa setempat, yakni Pangeran Jayakarta, agar boleh mendirikan loji. Ketika itu Jayakarta termasuk wilayah kekuasaan Banten yang memiliki otonomi tertentu. 

Beberapa tahun kemudian, kongsi dagang Inggris pun memperoleh ijin mendirikan loji di Jayakarta. Akibatnya, timbullah persaingan antara EIC dengan VOC. Situasi itu sebetulnya muncul pula di Maluku. Pada tahun 1617, dua kapal EIC disita oleh VOC, sehingga hilanglah kesempatan Inggris untuk berdagang rempah-rempah di Maluku. Untuk memenangkan persaingan di Jayakarta, Jan Pieterszoon Coen, gubernur jenderal

VOC berikutnya, membangun benteng untuk melindungi kepentingan perda-gangannya. Pada akhir tahun 1618, persaingan antara EIC dengan VOC makin memanas. Beberapa kali pecah pertempuran antara keduanya. Dalam persengketaan itu, Pangeran Jayakarta lebih berpihak pada Inggris, sedangkan penguasa Banten berpihak pada VOC. Kemudian, pada tanggal 14 Januari 1619, Pangeran Jayakarta mendesak dihentikannya tembak-menembak. Ia mengijinkan VOC tetap berdomisili di Jayakarta berdam-pingan dengan EIC. Dengan kepandaiannya berdiplomasi, VOC berhasil mendesak penguasa Banten, Ranamenggala, untuk memecat Pangeran Jayakarta serta memaksa Inggris angkat kaki dari Jayakarta. VOC pun semakin memperkuat kedudukannya di Jayakarta. Sejak tanggal 12 Maret 1619, benteng VOC itu secara resmi dinamakan Batavia. Akhirnya, sejak tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta dapat sepenuhnya direbut dari kekuasaan Banten. Sejak saat itulah, gubernur jenderal VOC secara resmi berdomisili di Batavia. Dari Batavia inilah, VOC secara tahap demi tahap dan pasti menanamkan pengaruhnya di berbagai wilayah di Indonesia. 


Tindakan monopoli yang diterapkan VOC mengandung ketentuan yang mengharuskan penduduk atau petani setempat hanya sebagai produsen. Hasil panenan, khususnya rempah-rempah, hanya dijual kepada VOC dengan harga yang ditentukan olehnya. Barang-barang kebutuhan, seperti perabotan, garam, tekstil, dan lain-lain harus dibeli dari VOC, juga dengan harga yang ditentukan olehnya. 

Agar monopoli itu dapat berlangsung efektif, VOC kalau perlu melakukan tindakan kekerasan, antara lain dengan cara pelayaran hongi. Pelayaran ini bertujuan memantau penjualan rempah-rempah sekaligus jumlah rempah-rempah yang ditanam para petani. Dalam hal penjualan, pelayaran tersebut bermaksud untuk mencegah jangan sampai petani menjual rempah-rempahnya kepada pihak lain selain VOC. Sedangkan pemantauan jumlah rempah-rempah yang ditanam dilakukan untuk mempertahankan harga. Kalau jumlah panenan terbatas, harga rempah-rempah di Eropa akan tetap tinggi.

Daftar Pustaka : ERLANGGA