Latar Belakang Masuknya Bangsa Inggris ke Indonesia

Berbeda dengan Portugis dan Spanyol, ekspedisi Inggris untuk menguasai perdagangan di Asia bukan disponsori oleh pemerintah (kerajaan), melainkan oleh persekutuan (kongsi) dagang. Nama kongsi dagang tersebut adalah East Indian Company (EIC). Kongsi dagang ini merupakan gabungan para pengusaha London. Sejak tahun 1600, EIC diberi hak istimewa (privilese) oleh pemerintah Inggris untuk menangani perdagangan di Asia. Dengan privilese tersebut, EIC memiliki wewenang penuh atas monopoli perdagangan di Asia, sekaligus boleh menentukan kebijakannya sendiri.

Sejak akhir abad 16, EIC mengadakan hubungan dagang di beberapa tempat di Indonesia. Misalnya, di wilayah Kesultanan Aceh, Inggris dapat mendirikan kantor dagang atas ijin Sultan Iskandar Thani. Kegiatan berdagang juga dilakukan di Jayakarta, Banjar, Gowa, dan Maluku. Akan tetapi, secara umum Inggris mengalami kegagalan dalam menanamkan pengaruhnya di Indonesia. Pertama-tama keadaan itu dikarenakan ketidaksukaan rakyat setempat akibat polah pedagang EIC yang memaksakan cara berdagang menurut aturannya sendiri. Selain itu, ada penyebab lain yang lebih dominan, yakni ketidakmampuan bersaing dengan armada dagang Belanda. Dengan kekuatan militer dan pengaruhnya, Belanda membuat Inggris perlahan-lahan tersingkir dari kawasan perdagangan di Indonesia. Walaupun demikian, sebetulnya Inggris dengan EIC nya berpengaruh kuat dalam kancah perdagangan di Asia. Sejak tahun 1612, EIC dapat menyingkirkan Portugis dari India. Kemudian, dlbangunlah tempat-tempat penting di wilayah itu untuk menunjang keberhasilan dalam berdagang. Tempat-tempat itu antara lain Madras, Calcutta, dan Bombay. Telah kita ketahui bersama, India merupakan bagian vital dalam jalur perdagangan internasional. Oleh karena itulah, berhasilnya EIC menanamkan pengaruhnya di India membuat armada dagang ini mampu memegang kendali perdagangan di Teluk Persia dan juga di Asia Timur.


Daftar Pustaka : ERLANGGA