Latar Belakang Masuknya Bangsa Portugis ke Indonesia

Kedatangan Portugis ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan Vasco da Gama menemukan jalur pelayaran baru ke India. Raja Portugis, Manuel I, menugaskannya menemukan jalur tersebut. Pada tahun 1498, setelah berlayar mengarungi Tanjung Harapan, Laut Arab, dan Samudera Hindia, ekspedisinya tiba di Kalikut, di pantai barat India. Kalikut ketika itu menjadi bandar utama sutera, porselen, kayu manis, cengkeh, pala, lada, kemenyan, dan lain-lain. 

Sejak keberhasilan Vasco da Gama itu, Portugis bermaksud menguasai jalur perdagangan di Asia, terutama perdagangan rempah-rempah. Kendali yang harus diatasi adalah mematahkan dominasi para pedagang Arab. Untuk itu, pada tahun 1508, pemerintah Portugis melantik Alfonso de Albuquerque sebagai Gubernur Portugis untuk Asia. Hubungan dagang antara Arab dengan India berhasil ia patahkan. Kemudian, pada tahun 1510, ia bersama Francessco de Almeida berhasil menaklukkan Goa. Selanjutnya, tempat ini dijadikan pangkalan Portugis di Asia dalam rangka menguasai jalur perdagangan di wilayah ini. 

Mengingat tujuan utamanya adalah menguasai jalur perdagangan rempah-rempah, maka Portugis perlu memiliki pangkalan strategis di Asia Tenggara. Itulah sebabnya, Malaka menjadi incaran berikutnya. Berkat dukungan armada militer yang kuat, Malaka dapat direbut pada tahun 1511. Setelah Malaka diduduki, kesempatan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah semakin terbuka. Langkah selanjutnya yang ditempuh adalah mendirikan kantor dagang (lengkap dengan benteng) sekaligus memperoleh hak berdagang di pusat-pusat rempah-rempah di seantero Indonesia. Setelah langkah itu dilalui, barulah diterapkan strategi monopoli. Untuk mencapai maksud tersebut tidaklah mudah. Portugis harus dapat mengatasi tentangan para penguasa setempat. Kendala tadi umumnya diatasi dengan strategi bersekutu (aliansi) dengan pihak yang dirasa menguntungkan. Portugis melihat adanya persaingan antara masing-masing kerajaan di Indonesia, bahkan ada juga perseteruan antara pihak-pihak tertentu dalam suatu kerajaan. Situasi ini dimanfaatkan oleh Portugis untuk menanamkan pengaruhnya. Beberapa contoh strategi aliansi yang dijalankan Portugis antara lain sebagai berikut. 

a. Di Pasai, pada tahun 1514, Portugis terlibat dalam upaya perebutan kekuasaan. Setelah pihak yang didukungnya menduduki tahta, Portugis memperoleh ijin mendirikan benteng di tepi Sungai Pasai serta hak berdagang lada. 

b. Di Minangkabau, Portugis bersekutu dengan Raja Pagaruyung untuk menangkal pengaruh Sultan Mahmud, mantan penguasa Malaka. Aliansi ini membuat Portugis dapat meraup keuntungan di Minangkabau, yang menjadi daerah penghasil lada ketika itu. 

c. Di Jawa Barat, pada tahun 1522, Portugis bersekutu dengan Raja Sunda (Pakuan) dalam rangka menghadapi perluasan wilayah Kesultanan Demak. Melalui persekutuan itu, Portugis bermaksud memperoleh hak dagang lada di Sunda Kelapa. 

d. Di Maluku, Portugis bersekutu dengan Ternate untuk menghadapi aliansi Tidore dengan Spanyol. Setelah Ternate unggul, Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Ternate sekaligus hak berdagang cengkeh dan pala.Sekitar akhir abad 16, kedudukan Portugis di Indonesia semakin terdesak. Hal itu terjadi karena reaksi ketidaksenangan para penguasa beserta perlawanan di segenap wilayah Indonesia, juga larena datangnya armada bangsa Eropa yang lebih tangguh, yakni Belanda dengan VOCnya. 


Daftar Pustaka : ERLANGGA