Masalah Tenaga Kerja dan Angkatan Kerja

Sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, tingkat  kemakmuran Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Faktor penyebabnya sangat beragam dan kompleks. Namun, salah satu penyebab utamanya adalah tenaga kerja yang walaupun jumlahnya banyak, masih kurang berdaya guna. Ketenagakerjaan di Indonesia masih kurang optimal karena mempunyai masalah yang beragam. Masalah-masalah ini kompleks dan berkaitan satu sama lainnya. Berikut adalah beberapa masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan: 

1. Tingkat pengangguran tinggi, 
2. Jumlah angkatan kerja tinggi, 
3. Tingkat pendidikan dan keterampilan angkatan kerja rendah, 
4. Penyebaran angkatan kerja tidak merata, 
5. Perlindungan kesejahteraan tenaga kerja belum maksimal

Masalah utama ketenagakerjaan di Indonesia karena tingkat pengangguran di negara kita cukup tinggi. Memang pengangguran merupakan masalah yang dihadapi setiap negara. Tidak ada negara yang tidak mempunyai pengangguran di negaranya. Namun, masalah ini akan menjadi serius apabila tingkatnya tergolong tinggi. 

Tingkat pengangguran yang tinggi menandakan tingkat ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang cenderung rendah. Alasannya, pengangguran pada dasarnya terjadi karena jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia lebih kecil dari jumlah tenaga kerja yang tersedia.Salah satu penyebab utama rendahnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia adalah pertumbuhan ekonomi yang rendah. 

Jumlah penduduk yang sangat tinggi, faktor demografis, dan tingkat kemakmuran nasional yang rendah dan sangat tidak merata, membuat Indonesia sebagai negara yang rentan akan pengangguran. Sejak krisis ekonomi tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Perhatikanlah tabel 4.1. 

Pada tahun 2005, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 10,85 juta jiwa atau 10,24% dari angkatan kerja. Angka ini tumbuh menjadi 10,27% di tahun 2006. Ini berarti, dari setiap 100 penduduk Indonesia ada 11 orang yang tidak bekerja. Ini adalah angka yang besar. Bandingkanlah angka ini dengan jumlah penduduk di kotamu dan provinsimu. 

Kamu dapat melihat bahwa jumlah penduduk meningkat dari tahun 2005 ke 2006. Ketika jumlah penduduk meningkat, maka jumlah angkatan kerja cenderung untuk meningkat juga. Inilah yang terjadi pada tahun 2006. Ketika jumlah angkatan kerja meningkat, maka diharapkan jumlah lapangan kerja yang tersedia juga meningkat agar tidak terjadi peningkatan pengangguran. Namun, ternyata lapangan kerja tidak mengalami peningkatan. Bahkan jumlah pengangguran yang justru meningkat. 

Berdasarkan lama waktu kerja, pengangguran dapat dibagi menjadi: 
a. Pengangguran Terbuka: orang yang sama sekali tidak bekerja. Ini bisa disebabkan karena tidak adanya lapangan pekerjaan, kurangnya tingkat pendidikan atau keterampilan yang dibutuhkan, atau tidak adanya kemauan atau kebutuhan untuk bekerja. 

b. Pengangguran Tertutup: orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Disebut penganggur tertutup karena orang tersebut tidak mengoptimalkan waktu dan tenaga yang sebenarnya bisa digunakan untuk bekerja. Misalnya tenaga kerja lepas (freelance), dan tenaga kerja paruh waktu (part-time). Tenaga kerja lepas tidak terikat kontrak yang permanen dengan suatu perusahaan tertentu. Biasanya kontrak mereka berdasarkan suatu proyek. Jadi, ketika proyek tersebut selesai, pekerjaan mereka juga selesai. 


Jumlah angkatan kerja tinggi
Jumlah penduduk mempunyai hubungan langsung dengan jumlah angkatan kerja. Semakin tinggi jumlah penduduk suatu negara, semakin tinggi juga jumlah angkatan kerja yang tersedia.

Akibatnya, kebutuhan akan lapangan kerja negara itu akan bertambah. Indonesia, salah satu negara terpadat di dunia, menduduki peringkat ke empat populasi tertinggi setelah Cina, India, dan Amerika. Pada tahun 2005, jumlah penduduk di Indonesia mencapai hampir 211 juta jiwa dan meningkat menjadi 215 juta jiwa di tahun 2006. Dapatkah kamu bayangkan betapa banyak jumlah lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh Indonesia tiap tahunnya? 

Jumlah penduduk yang tinggi masih menjadi masalah di Indonesia. Alasannya, selain tingkat ekonomi dan pendidikan di negara kita masih tergolong rendah, pemerintah sejauh ini mengandalkan sektor pertanian untuk menyerap tenaga kerja. Industri-industri lain yang juga menyerap tenaga kerja membutuhkan tingkat keterampilan dan pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini belum dimiliki mayoritas angkatan kerja kita. 

Tingkat pendidikan dan keterampilan angkatan kerja rendah 
Pada tahun 2005, sekitar 1.012.711 jiwa angkatan kerja Indonesia berpendidikan SD dan hanya sekitar 380.000 jiwa yang berpendidikan universitas. Keterampilan dan pendidikan yang terbatas ini sangat membatasi ragam dan jumlah pekerjaan. Lihatlah tabel 4.2. Coba bayangkan, pekerjaan apa yang dapat dilakukan seseorang yang berpendidikan SD? Tidak terlalu banyak bukan? Hal ini disebabkan karena tenaga kerja yang berpendidikan SD mempunyai pendidikan dan keterampilan yang sangat terbatas.

Sebaliknya, tenaga kerja yang berpendidikan tinggi dan mempunyai banyak keterampilan dapat mengerjakan lebih banyak pekerjaan. Selain itu, tenaga kerja yang lebih terampil dapat berwirausaha atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Dengan itu, mereka juga menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Misalnya seseorang yang bisa menjahit dapat membuka usaha jahit dan mempekerjakan orang lain. 

Apabila mayoritas angkatan kerja Indonesia berpendidikan universitas, apa yang akan berubah? Angkatan kerja kita akan menjadi semakin mandiri dan mempunyai daya saing yang lebih tinggi. Sebaliknya, tenaga kerja berpendidikan rendah mempunyai daya saing yang sangat kecil. Juga, kecil kemungkinannya bagi mereka untuk menciptakan lapangan kerja sendiri atau untuk orang lain. 

Dapat dilihat dengan jelas bahwa mayoritas angkatan kerja di Indonesia berpendidikan SD. Hal ini sesuai dengan komposisi pendidikan masyarakat Indonesia yang mayoritas juga berpendidikan SD.

Jumlah angkatan kerja yang tinggi serta tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah membuat mayoritas penduduk Indonesia masih tergantung pada sektor yang relatif sederhana dan menyerap banyak tenaga kerja. Maka, bukanlah hal yang aneh Indonesia hampir selalu memprioritaskan sektor pertanian.

Di tahun 2005 dan 2006, sektor pertanian tetap sebagai penyerap tenaga kerja yang paling utama dibandingkan dengan sektor lain. Pada tahun 2006, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian mengalami penurunan, namun di sektor lain mengalami kenaikan. Hal ini akibat dari musim kemarau panjang yang menghambat usaha pertanian sehingga para petani beralih ke sektor lain untuk sementara waktu. 

Penyebaran angkatan kerja tidak merata 
Indonesia adalah negara maritim yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau. Namun, angkatan kerja Indonesia terpusat hanya di beberapa daerah saja. Hal ini karena pembangunan di Indonesia selama ini dilakukan secara tidak merata. Seperti pepatah banyak gula banyak semut, populasi Indonesia juga berpusat pada daerah-daerah yang maju. 

Perbedaan kemakmuran antara daerah yang mengalami banyak pembangunan dengan daerah-daerah lainnya sangat besar. Akibatnya, urbanisasi dan transmigrasi dalam skala besar terjadi secara tidak terkendali menuju daerah-daerah "kaya" seperti Pulau Jawa. Bahkan, sebanyak 60% dari total penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Hal ini membuat banyak daerah mengalami kesulitan untuk mengembangkan wilayahnya akibat kekurangan sumber daya manusia yang tepat.

Perlindungan kesejahteraan tenaga kerja belum maksimal 
Perlindungan kesejahteraan tenaga kerja seperti standar upah minimum, kondisi tempat kerja dan perlakuan yang adil adalah hal-hal yang masih harus diperhatikan. Masih banyak tenaga-tenaga kerja Indonesia yang mendapatkan upah di bawah standar minimum atau bekerja di tempat kerja yang tidak layak. Berita-berita di surat kabar sering memuat kasus-kasus penganiayaan terhadap para TKI di luar negeri, pembantu rumah tangga atau buruh-buruh pabrik. Hal-hal seperti ini selain menurunkan kesejahteraan tenaga kerja, juga akan menurunkan motivasi dan produktivitas kerja. 

Beberapa faktor yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia: 

a. Kemiskinan 
Kemiskinan adalah bukti nyata suatu negara mempunyai tingkat kemajuan ekonomi yang rendah. Masyarakat yang miskin mengalami kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Pada umumnya, mereka juga mempunyai kelemahan fisik dan emosional. Akibatnya, produktivitas tenaga kerja masyarakat yang miskin akan menurun. 

b. Stabilitas politik, iklim investasi dan regulasi pemerintah 
Keadaan politik yang stabil dan regulasi pemerintah yang bersahabat akan membawa dampak positif pada perekonomian. Dalam situasi tersebut, investasi luar negeri dan dalam negeri cenderung meningkat. Situasi ini akan membantu menciptakan lapangan kerja baru. 

c. Pasar global 
Era globalisasi akan membawa dampak pada sistim ketenagakerjaan di Indonesia di jangka panjang. Kompetisi tenaga kerja antar negara akan semakin sengit. Maka, tenaga kerja Indonesia harus dapat bersaing dengan tenaga kerja negara lain tidak lagi dari segi kapasitas, namun juga dari segi kualitas. 

Daftar Pustaka : Erlangga