Menumbuhkembangkan Kesadaran Nasionalisme di Indonesia

Peranan Kaum Terpelajar dan Kaum Profesional 

Salah satu penyebab tumbuhnya nasionalisme adalah kesadaran akan kesamaan politik yang disebabkan oleh penindasan atau penjajahan oleh bangsa lain atau oleh penguasa yang otoriter. Kaum terpelajar dan profesional Indonesia bergerak untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan membentuk beberapa organisasi pergerakan nasional, seperti Budi Utomo, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia, dan Partai Komunis Indonesia. Melalui organisasi-organisai tersebut, mereka memupuk kebersamaan dan menyadarkan masyarakat di sekitarnya untuk bangkit dari keterbelakangan dan menggapai kebebasan. 

Kaum terpelajar yang pertama-tama menyadari buruknya nasib bangsanya adalah para pelajar di lingkungan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) di Batavia. Mereka mendirikan organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo (Budi Utomo). Organisasi ini banyak bergerak dalam bidang sosial, kebudayaan, ekonomi, dan pendidikan dengan menyediakan "dana belajar". Mereka juga menerbitkan majalah Goeroe Desa. Kemudian, Budi Utomo pun bergerak dalam bidang politik. Hanya saja, Budi Utomo masih membatasi diri di wilayah Jawa dan dura. Selain itu, keanggotaannya terbatas untuk kalangan priyayi dan pegawai pamong praja. 

Organisasi berikutnya adalah Indische Partij (IP). Organisasi ini didirikan di Bandung oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker (Danudirdjo Setyaboedhi), dr.Tjipto Mangoenkoesoemo, dan R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Organisasi ini menjadi organisasi pertama yang secara jelas mencita-citakan Hindia (Indonesia) yang merdeka. Organisasi lain adalah Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia. 

Organisasi ini adalah sebuah organisasi pelajar-pelajar Hindia (sebutan resmi untuk Indonesia) yang didirikan di negeri Belanda. Organisasi ini secara tegas berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut secara nyata dapat dilihat melalui pemakaian nama Indonesia dalam nama organisasi tersebut. Keberanian para mahasiswa anggota PI memakai nama Indonesia ini juga mempengaruhi organisasi pergerakan yang ada di tanah air, seperti PNI, PSII, dan PKI. Mereka memakai nama Indonesia di nama organiSasinya. Organisasi lainnya adalah PKI yang dikenal sebagai organisasi yang sangat radikal pada saat itu. Organisasi ini memperjuangkan Indonesia merdeka yang berpaham komunis. Muncul juga organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam kongresnya, PNI sepakat untuk bekerja sama dengan semua partai politik dan organisasi pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Peranan Pers 

Dalam sejarah dunia, pers memegang peranan yang sangat penting dalam mendorong mobilitas suatu masyarakat atau bangsa. Pers mampu mempengaruhi pendapat atau opini masyarakat untuk berpikir, berbuat, atau bertindak sesuai yang diharapkan. Pers mampu mendorong terjadinya transformasi (perubahan) dalam masyarakat tersebut. Pers juga dapat menjadi momok menakutkan bagi suatu rezim sekaligus menjadi sarana propaganda yang efektif baginya. Pers tidak dapat lepas dari proses penyadaran dan pembentukan jati diri bangsa. 

Perkembangan pers Indonesia telah dimulai pada abad ke-18. Ketika itu, beberapa surat kabar berbahasa Belanda muncul di Indonesia, seperti De Bataviase yang terbit tahun 1744. Pers Indonesia mengalami perkembangan yang pesat pada awal abad ke-19. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan infrastruktur, seperti kereta api, telepon, telegram, pos, serta jalan raya yang cepat dan luas jangkauannya. Permintaan informasi yang cepat, lengkap, dan tepat dari kalangan terpelajar yang jumlahnya terus meningkat turut mempercepat perkembangan pers di Indonesia. Faktor-faktor lainnya adalah meluasnya perhatian masyarakat terhadap dunia luar yang melampaui batas-batas kekerabatan, kesukuan, dan tempat tinggal.

Perkembangan surat kabar di Indonesia juga turut didukung dengan adanya penerbit dan percetakan yang dimiliki orang-orang Belanda dan Cina di kota-kota penting, seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang. 


Pers dan Pergerakan Nasional 

Beberapa surat kabar yang sangat memengaruhi munculnya kesadaran berbangsa di Indonesia adalah Bintang Hindia dan Medan Prijaji. Bintang Hindia terbit pertama kali pada Juli 1902 dan disebut sebagai pembuka mata atau pelopor kesadaran berbangsa di Indonesia. Surat kabar ini banyak memuat berita atau tulisan yang menggambarkan kemajuan bangsa lain di luar Hindia Belanda (Indonesia). Dengan cara ini, para penulis dan editor surat kabar ini ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk menggapai kemajuan. Salah satu cara untuk memperolehnya melalui pendidikan. Salah satu tokoh utama surat kabar ini adalah Abdul Rivai.

Keterkaitan antara peranan kaum terpelajar, profesional, dan pers yang dapat menumbuhkembangkan kesadaran nasional dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, kaum terpelajar dan profesional adalah kelompok masyarakat Indonesia yang pertama kali menyadari dan memahami nasib buruk bangsanya. Selain berjuang untuk memerdekakan bangsanya melalui berbagai organisasi, mereka menyadarkan rakyat untuk bersatu dalam melawan penjajah guna mencapai Indonesia merdeka. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui pendidikan. Kedua, pers juga berperan penting sebagai pihak yang membawa (transfer) ide-ide kemerdekaan, sekaligus menjadi sarana terpenting dalam menyebarluaskan kesadaran nasional. Hal - ini berkaitan dengan menumbuhkembangkan kesadaran nasional bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka : ERLANGGA