Menyimak Penggunaan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda dalam Wawancara

Penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda juga sering kita temui pada peristiwa wawancara. Proses wawancara akan tercapai tujuannya apabila pewawancara dan nara-sumber dapat menggunakan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat dalam bertutur. Tujuan ini dapat tercapai karena penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat akan memudahkan kedua pihak, yaitu pewawancara dan nara-sumber, untuk memahami isi pembicaraan di antara mereka. 

Di media, baik cetak maupun elektronik, sekarang ini sering kita jumpai bahasa tutur dalam wawancara yang tidak tepat penggunaannya, baik oleh pewawancara maupun narasumber. Pewawancara, khususnya, hendaknya memiliki bekal pengetahuan berbahasa yang baik dan benar dalam menjalankan tugasnya. Apalagi jika pewawancara akan melakukan wawancara dalam situasi yang sifatnya resmi, misalnya, mewancarai tokoh, pejabat, atau seseorang yang memiliki kedudukan tertentu di masyarakat. Oleh karenanya, penguasaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda sangatlah penting dalam wawancara.

Cara paling efektif bagi pewawancara agar dapat menggunakan bahasa yang baik dalam wawan cara adalah menyusun daftar pertanyaan secara tertulis terlebih Daftar pertanyaan wawancara memuat apa saja yang akan ditanyakan wawancara kepada narasumber. Sebelum melakukan wawancara, pewawancara dapat mengoreksi kembali tata bahasa dalam daftar pertanyaannya. Hal ini bertujuan agar saat berlangsungnya acara tanya jawab, bahasa yang digunakan oleh pewawancara tidak menyimpang dari kaidah tata bahasa yang baik dan benar.


Daftar Pustaka : Departemen Pendidikan Nasional