Organisasi-Organisasi Masa Radikalisme

Radicale Concentratie 

Periode antara tahun 1918 — 1926 dikenal sebagai periode atau masa radikalisme. Periode ini ditandai dengan terbentuknya Radicale Concentratie, yaitu sebuah fraksi dalam Volksraad. Fraksi itu merupakan gabungan dari ISDV, Budi Utomo, Sarekat Islam, dan National Indische Partij (NIP). Fraksi itu dibentuk dengan tujuan untuk bersama-sama menyampaikan berbagai tuntutan kepada pemerintah kolonial. Tuntutan-tuntutan tersebut disertai dengan pemogokan, pemberontakan, dan sebagainya. 

Partai Komunis Indonesia 

Sejak awal berdirinya, ISDV dengan cepat berkembang karena kehadirannya disambut baik oleh kaum buruh. Hal itu dapat dimaklumi karena paham sosialis-komunis mengusung perbaikan nasib kaum buruh dan tani. Karena sudah memiliki massa buruh yang sangat besar, dalam Kongres Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) di Yogyakarta, Semaun menyatakan massa buruhnya dalam Sarekat Buruh keluar. Mereka kemudian mendirikan Sarekat Buruh baru yang dinamakan Revolutionaire Vak Centrale yang berpusat di Semarang. Akibat pengaruh dari paham sosialis-komunis itu, kaum buruh mulai mengadakan aksi-aksi pemogokan yang dikendalikan oleh tokoh-tokoh Sarekat Islam Merah. Pada tahun 1921-1922, terjadi pemogokan buruh secara besar-besaran di Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung. Mereka menuntut kenaikan upah dan penghidupan yang lebih layak. Akibat aksi pemogokan itu roda perekonomian semakin kacau sehingga pemerintah mengambil tindakan pengusiran terhadap tokoh-tokohnya. Semaun dan Darsono dapat menghindari penangkapan dan melarikan diri ke Rusia sehingga kepemimpinan diambil alih oleh Tan Malaka. Karena pemogokan makin meningkat, maka pada bulan Januari 1922, Tan Malaka dan Abdul Muis juga melarikan diri ke Cina. Pada bulan Febuari 1922, Darsono kembali dari Rusia atas perintah Comintern untuk mendampingi Semaun yang sudah lebih dahulu kembali ke Indonesia. Sekembalinya kedua tokoh itu dari pengasingan ditambah dengan Alimin dan Muso yang pada saat itu adalah pemimpin Sarekat Rakyat cabang Jakarta, kelompok itu semakin berani menjalankan propogandanya. Segala cara dilakukan untuk bisa merekrut sebanyak mungkin anggota. Propoganda dan penyusupan terutama ditujukan terhadap tokoh-tokoh agama. 


Pada tahun 1924, Sarekat Rakyat berubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan dikenal sebagai partai politik paling radikal. Secara terang-terangan, mereka menentang pemerintah Hindia Belanda dan mencela gaya kepemimpinan organisasi sosial politik lainnya yang dinilai lemah. Sikap radikalisme dan revolusioner yang dianut PKI mencapai puncaknya pada tahun 1926 ketika mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Rencana pemberontakan diprakarsai oleh tokoh-tokoh antara lain Sardjono, Sudjono, Budi Sutjitro, dan Abdul Madjid dalam suatu pertemuan rahasia di Prambanan. Hasil-hasil pertemuan itu kemudian disampaikan kepada tokoh-tokoh lainnya pada tiap-tiap cabang. Semula, beberapa tokoh lain, di antaranya Tan Malaka, menentang rencana itu, tetapi pemberontakan akhirnya terjadi juga pada tanggal 13 November 1926. Pemberontakan dimulai dari Jakarta kemudian berlanjut ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hanya dalam waktu satu hari pemerintah berhasil menumpas kaum pemberontak. Begitu pula di Sumatra Barat, pemberontakan yang baru diadakan pada bulan Januari 1927 berhasil ditumpas pemerintah dalam waktu tiga hari. Pemberontakan itu justru membawa akibat pada pengekangan pergerakan politik di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda di kemudian hari. 

Daftar Pustaka : YUDHISTIRA