Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Kehidupan

Pernahkah kamu memperhatikan makanan dalam lemari dapur yang berasal dari hasil-hasil pertanian, seperti nasi yang berasal dari padi daerah tropis hujan atau kurma yang berasal dari daerah gurun yang terik atau tepung terigu yang berasal dari daerah agak kering (semi-arid) dan sebagainya. Iklim membatasi pertumbuhan tanaman di muka bumi, karena itu iklim membatasi hasil panen. Hewan juga tanggap terhadap perbedaan ildim, baik secara fisiologis maupun berdasarkan atas pakan ternak. Jadi, jelas iklim sangat berpengaruh bagi kehidupan di bumi, terutama bagi makhluk hidup. 

A. JENIS-JENIS VEGETASI ALAM MENURUT IKLIM 

Menurut penyelidikan, terdapat kurang lebih 4.000 jenis pohon-pohonan, 1.500 jenis paku-pakuan dan 5.000 jenis anggrek di Indonesia. Terdapat tumbuh-tumbuhan alami dan tumbuh-tumbuhan yang hidup karena ditanam. Tumbuh-tumbuhan yang hidup secara alami disebut flora atau vegetasi. Hal tersebut disebabkan karena kehidupan tumbuh-tumbuhan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti iklim, ketinggian, tempat, dan bentang alam.

Iklim, terutama suhu udara dan curah hujan, mempunyai pengaruh yang besar terhadap persebaran flora. Indonesia beriklim tropis sehingga suhu udara rata-rata tiap tahun menjadi cukup tinggi. Oleh sebab itu, tumbuh-tumbuhan di Indonesia hidup sepanjang tahun dan tidak mengalami musim gugur seperti di negara-negara beriklim subtropis. Selain itu, perbedaan intensitas curah hujan di tiap-tiap wilayah di Indonesia mempengaruhi jenis dan pertumbuhan floranya. 

Berdasarkan banyak sedikitnya curah hujan di tiap daerah, pembagian flora di Indonesia antara lain sebagai berikut. 

1. Hutan hujan tropis. Hutan ini sangat lebat dan sinar matahari tidak dapat menembus ke bawah. Contohnya terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua (Irian Jaya). 

2. Hutan musim. Hutan yang daun-daunnya meranggas pada musim kemarau dan tumbuh di musim penghujan. Terdapat di daerah-daerah lintang tinggi dengan curah hujan yang sedang, seperti hutan jati di Jawa dan Sulawesi (Buton). Sabana. Merupakan daerah yang bersuhu udara tinggi dengan curah hujan sedikit, terdapat padang rumput yang diselingi semak belukar (sabana). Contohnya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tengah. 

B. PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Iklim di dunia selalu berubah, baik menurut ruang maupun waktu. Perubahan iklim ini dapat dibedakan berdasarkan wilayahnya (ruang), yaitu perubahan iklim secara lokal dan global. Berdasarkan waktu, iklim dapat berubah dalam bentuk siklus, baik harian, musiman, tahunan, maupun puluhan tahun. Perubahan iklim adalah perubahan unsur-unsur iklim yang mempunyai kecenderungan naik atau turun secara nyata. 

1. Faktor Penyebab Perubahan Iklim Global 
Perubahan iklim global disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca. Hal ini terjadi sejak revolusi industri yang membangun sumber energi yang berasal dari batu bara' , minyak bumi, dan gas yang menghasilkan karbon dioksida (CC)1, metana dan nitrous oksida (N20). Sang surya yang menyinari bumi juga menghasilkan radiasi panas yang ditangkap oleh atmosfer sehingga udara bumi bersuhu nyaman bagi kehidupan manusia. Apabila kemudian atmosfer bumi dijejali gas rumah kaca, terjadilah "efek selimut", yakni radiasi panas bumi yang lepas ke udara ditahan oleh "selimut gas rumah kaca" sehingga suhu bumi naik dan menjadi panas. Semakin banyak gas rumah kaca di lepas ke udara, semakin tebal "selimut bumi" dan semakin panas pula suhu bumi. 

2. Dampak Perubahan Iklim Global 
Perubahan iklim yang diperkirakan akan menyertai pemanasan global adalah sebagai berikut. 

a. Mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut naik. 

b. Air laut naik, maka akan menenggelamkan pulau dan meng-halangi mengalirnya air sungai ke laut yang menimbulkan banjir di dataran rendah seperti pantai utara Pulau Jawa, dataran rendah Sumatera bagian timur, Kalimantan Selatan, dan lain- lain.

c. Hal yang paling mencemaskan adalah berubahnya iklim sehingga berdampak buruk pada pola pertanian Indonesia yang mengandalkan inakanan pokok beras pada pertanian sawah yang bergantung pada musim hujan. Suhu bumi yang panas menyebabkan mengeringnya air permukaan sehingga air menjadi langka. Ini memukul pola pertanian berbasis air.

d. Meningkatnya risiko kebakaran hutan. 


C. EL NINO DAN LA NINA 

El Nino dan La Nina adalah gejala yang menunjukkan perubahan iklim. El Nino adalah peristiwa-peristiwa suhu air permukaan laut di pantai barat Peru-Ekuador Amerika Selatan yang mengakibatkan. gangguan iklim secara global.Biasanya suhu air permukaan laut di daerali tersebut dingin karena adanya up welling (arus dari dasar laut menuju permukaan). Menurut bahasa setempat, El Nino berarti bayi laki-laki karena munculnya di sekitar hari Natal (akhir Desember). 

Di Indonesia, angin monsun (muson) yang datang dari Asia dan membawa banyak uap air, sebagian besar juga berbelok menuju daerah tekanan rendah di pantai barat Peru — Ekuador. Akibatnya, angin yang menuju Indonesia hanya membawa sedikit uap air sehingga terjadilah musim kemarau yang panjang. 

Sejak tahun 1980 telah terjadi beberapa kali El Nino di Indonesia, yaitu tahun 1982, 1991, 1994, dan 1997/98. El Nino tahun 1997/98 menyebabkan kemarau panjang, kekeringan, terjadi kebakaran hutan hebat, dan produksi bahan pangan menurun, yang disusul krisis ekonomi. Pada tahun 2005, gejala El Nino kembali terjadi di daerah NTT. El Nino juga menyebabkan kekeringan luar biasa di berbagai benua, terutama di Afrika sehingga terjadi kelaparan di Ethiopia dan negara-negara Afrika bagian timur lainnya. Sebaliknya, bagi negara-negara di Amerika bagian selatan munculnya El Nino menyebabkan banjir besar dan turunnya produksi ikan karena melemahnya up welling. 

La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina menurut bahasa penduduk lokal berarti bayi perempuan. Peristiwa itu dimulai ketika El Nino mulai melemah dan air laut yang panas di pantai Peru — ekuador kembali bergerak ke arah barat, air laut di tempat itu suhunya kembali dingin, dan up welling muncul kembali, atau kondisi cuaca menjadi dingin. 

Perjalanan air laut yang panas ke arah barat tersebut akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudera Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat. Penduduk Indonesia diminta untuk waspada jika terjadi La Nina kaiena mungkin bisa terjadi banjir. Sejak kemerdekaan di Indonesia, telah terjadi beberapa kali La Nina, yaitu tahun 1950, 1955, 1970, 1973, 1975, 1988, 1995, dan 1999.

Daftar Pustaka : PT. PHIBETA ANEKA GAMA