Pengertian Nilai Dan Jenis-Jenis Nilai

Pengertian Nilai

Nilai atau dalam bahasa Inggris disebut value, biasa diartikan sebagai harga, penghargaan, atau taksiran. Maksudnya adalah harga atau penghargaan yang melekat pada suatu objek. Objek yang dimaksud di sini dapat berbentuk benda, barang, keadaan, perbuatan, perilaku, atau peristiwa lainnya. Dengan demikian, seseorang dapat berbicara tentang nilai sebuah bangunan rumah, nilai sebuah tanda penghargaan, nilai dari kehadiran seorang pemimpin di tengah-tengah rakyatnya (warganya), nilai dari peristiwa pembakaran pencuri sepeda motor yang tertangkap, dan nilai penyerangan para pejuang di markas tentara kolonial. 

Sikap menilai manusia terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya, baik materiil (jasmaniah) maupun spiritual (rohaniah) selalu dihubungkan dengan manfaat baginya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penilaian adalah suatu sikap manusia yang didorong oleh aspek-aspek yang terdapat di dalam dirinya, yakni aspek rasio (cipta), rasa, karsa, dan budi nurani. 

Menurut Widjaja, menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan membandingkan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain (sebagai standar), hingga pengambilan keputusan. Keputusannya dapat berupa keputusan yang baik atau buruk, benar atau salah, indah atau tidak indah, mungkin pula berguna atau tidak berguna. 

Nilai adalah sesuatu yang abstrak, bukan konkret. Nilai hanya bisa dipikirkan, dipahami, dan dihayati. Nilai berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan dan hal-hal lain yang bersifat batiniah. Nilai adalah suatu kualitas, bukan kuantitas. Nilai bersifat ideal, bukan faktual. Nilai berkaitan dengan das sollen (apa yang seharusnya), bukan das sein (apa yang senyatanya). 

Jenis Nilai 

Nilai merupakan bagian dari hidup manusia. Oleh karena itu, hubungan antarmanusia selalu diikat oleh nilai. Beberapa jenis nilai, antara lain sebagai berikut. 

a. Nilai Materiil 
Nilai materiil adalah segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia. Artinya sesuatu objek dikatakan mempunyai nilai materiil apabila memiliki daya guna, berguna, memiliki asas guna bagi jasmani manusia. Misalnya pakaian, nasi, kue, dan roti. 

b. Nilai Vital 
Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melakukan kegiatan (aktivitas). Artinya sesuatu objek dikatakan mempunyai nilai vital apabila objek tersebut dapat mengakibatkan manusia memiliki aktivitas. Misalnya mikrolet, bolpoin, komputer, kursi, dan sepeda motor.

c. Nilai Rohani 
Nilai rohani adalah segala sesuatu yang berguna bagi unsur rohani manusia. Artinya sesuatu objek dikatakan mempunyai nilai rohani apabila memiliki daya guna, berguna, memiliki asas guna bagi rohani manusia. Nilai rohani dapat dibedakan menjadi empat, yaitu sebagai berikut. 

1) Nilai kebenaran atau kenyataan, yang bersumber pada unsur akal manusia atau rasio, budi, atau cipta.

2) Nilai keindahan, yang bersumber pada unsur rasa manusia dan perasaan. 

3) Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada kehendak manusia, kemauan, atau karsa. 

4) Nilai religius, yang merupakan nilai ketuhanan, nilai kerohanian yang tertinggi dan mutlak. Nilai religius ini bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia yang dihayati dengan rasio dan hati nurani. 


Sifat Nilai 

Ada perbedaan pandangan tentang nilai. Ada yang menganggap nilai bersifat subjektif adapula yang menganggap nilai bersifat objektif. 

Pandangan yang menganggap nilai itu bersifat subjektif beranggapan bahwa nilai dari sesuatu tergantung pada subjek yang menilainya. Sesuatu dapat dinilai baik atau buruk, benar atau salah, berguna atau tidak berguna, tergantung pada subjek atau orang yang menilainya. Sebagai ilustrasi, sebuah rumah kuno warisan orang tua yang sudah lapuk sangat mungkin dianggap memiliki nilai yang sangat berharga bagi anak-anaknya (keluarganya), tetapi tidak demikian bagi orang lain. Menurut pandangan ini, sesuatu itu tidak mempunyai nilai apapun tanpa ada subjek yang menilainya. Sesuatu juga punya nilai atau tidak tergantung kepentingan dan pengalaman dari subjek penilaiannya. 

Pandangan yang menganggap nilai bersifat objektif menganggap bahwa nilai suatu objek itu melekat pada objeknya dan tidak bergantung pada subjek yang menilai, umum, dan universal. Penflaian objektif merupakan penilaian terhadap tindakan orang lain yang terlepas dari subjek yang melakukan tindakan itu sehingga lepas pula dari situasinya, dan tindakan itu diukur dengan ukuran baik buruk di luar subjek tersebut. Hal sebaliknya disebut dengan penilaian subjektif. 

Baik pemahaman maupun penilaian seseorang terhadap suatu objek hanyalah merupakan bagian dari dunia pengalaman, yang tidak jarang berubah-ubah atau bahkan saling bertentangan. Menurut pandangan ini, sesuatu mempunyai nilai atau tidak ditentukan oleh kondisi objektif dari objek tersebut. Misalnya sebuah sepeda motor, mempunyai nilai atau tidak tergantung pada kondisi sepeda motor tersebut, apakah masih bagus dan bisa dipergunakan, apakah rodanya masih ada, dan apakah mesinnya tidak rusak. 

Pada dasarnya pandangan tentang nilai harusnyabersifat komprehensif, tidalcbisa dipilah-pilah secara objektif maupun subjektif. Walaupun diakui bahwa kedua sifat tersebut (objektif dan subjektif) tidaklah dapat dipisahkan. Suatu objek mempunyai nilai atau tidak sangat tergantung pada kondisi nyata dari objek tersebut, kondisi nyata dari subjek penilai, serta kondisi nyata dari situasi dan kondisi pada waktu itu. Misalnya, saja sebuah TV memiliki nilai tinggi dalam sebuah keluarga di perkotaan, tetapi menjadi tidak bernilai tatkala kerusuhan sosial. Akibatnya TV yang semula harganya jutaan rupiah, dijual hanya puluhan ribu rupiah. Sebuah TV juga menjadi tidak bernilai di suatu daerah yang tidak dapat menangkap siaran suatu stasiun TV. Demikian halnya dengan nilai sepeda motor di daerah pedalaman Kalimantan yang belum ada jalan rayanya, dan transportasi banyak melalui sungai, menjadi kurang bernilai dibandingkan dengan nilai sepeda motor di daerah perumahan di Jakarta. 

Daftar Pustaka : YUDHISTIRA