Perkembangan Nasionalisme di Indonesia

Organisasi-organisasi yang tumbuh dan berkembang pada masa Pergerakan Nasional Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut. 

1. Organisasi-organisasi awal, terdiri dari Budi Utomo dan Indische Partij (Partai Hindia). 

2. Organisasi-organisasi keagamaan adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Nandlatul Ulama. 

3. Organisasi-organisasi pada masa radikalisme antara lain Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi lain yang tergabung dalam. Radicale Concentratie. 

4. Kelompok-kelompok Studi Pelajar-Mahasiswa antara lain Tri Koro Darmo, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon, dan lain-lain.

 5. Organisasi-organisasi dengan orientasibaru seperti Perhimpunan Indonesia (PI), PNI, Partindo, PNI Baru, PPPKI, Parindra, GAPI, dan MIAI. Bila dilihat dari anggaran dasarnya, organisasi-organisasi itu ada yang hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan budaya, ekonomi, dan ada pula yang hanya secara samar-samar menuntut Indonesia merdeka. Begitupula dengan azas organisasi yang mereka anut cukup beragam. Walupun demikian, tujuan akhir yang ingin dicapai oleh organisasi-organisasi itu tidak lain untuk kemajuan, kemakmuran, kesejahteraan, dan kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Organisasi-Organisasi Awal 


a. Budi Utomo 
Sebagai salah seorang tokoh cendekiawan, dr. Wahidin Sudirohusodo merasa turut bertanggung jawab atas kebodohan dan keterbelakangan bangsanya. Pada tahun 1906 dan 1907 ia mengadakan perjalanan keliling Pulau Jawa untuk menghimpun dana pen-didikan. Usaha yang dilakukan mendapat simpati dari banyak kalangan di antaranya para siswa STOVIA di Jakarta, seperti Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo. Pada tanggal 20 Mei 1908, bertempat di J1. Abdulrahman Saleh No. 26 Jakarta terbentuklah suatu perkumpulan yang dinamakan Budi Utomo dengan ketuanya Sutomo. Tanggal berdirinya Budi Utomo kemudian ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional yang hingga kini diperingati bangsa Indonesia. Begitu pula Gedung STOVIA dinyatakan sebagai Gedung Kebangkitan Nasional Indonesia.

Tujuan utama Budi Utomo pada awalnya masih samar-samar yaitu kamajuan bagi Hindia. Hanya dalam waktu 6 bulan berdirinya jumlah anggota Budi Utomo sudah mencapai ribuan orang dan kantor-kantor cabangnya tersebar di beberapa kota besar Pulau Jawa. Untuk konsolidasi organisasi maka pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya vang pertama di Yogyakarta dan tercapailah keputusan sebagai berikut. 

1) Budi Utomo tidak boleh mengadakan kegiatan politik. 

2) Kegiatan utama hanya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. 

3) Ruang gerak kegiatan dibatasi pada daerah Jawa dan Madura. 

Sesuai perkembangan zaman, Budi Utomo akhirnya terseret juga ke dalam kancah politik. Kegiatan pertama yang bersifat politik dimulai pada tahun 1915 ketika Budi Utomo mengusulkan kepada pemerintah Belanda agar membentuk Inlandsche Militie (milisi untuk bumiputra). Kegiatan kedua Budi Utomo dalam kancah politik adalah keikutsertaannya dalam Volksraad. Budi Utomo bersama-sama dengan wakil-wakilbangsa Indonesia lainnya membentuk sebuah fraksi yang disebut Radicale Concentratie dan secara aktif menuntut adanya Majelis Nasional sebagai Parlemen Sementara. Dalam kongresnya pada tahun 1931 di Jakarta diputuskan bahwa organisasi Budi Utomo terbuka bagi semua suku bangsa. Kemudian pada tahun 1935, Budi Utomo berfusi dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Sekalipun kegiatan Budi Utomo lebih bersifat sosial kultural, tetapi kehadirannya merupakan pelopor pergerakan nasional pertama di Indonesia. 


b. Indische Partij 
Orang-orang keturunan Indo-Belanda di Indonesia dianggap lebih rendah oleh orang Belanda asli. Oleh karena itu, keturunan Indo terdorong membentuk perkumpulan pada tahun 1898 dengan nama Indische Bond dan pada tahun 1907 mendirikan Insulinde. Kemudian pada tahun 1912, E.F.E Douwes Dekker mengambil prakarsa untuk membentuk partai politik bagi golongan Indo dan bercita-cita turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. E.F.E. Douwes Dekker adalah cucu dari keluarga jauh Edward Douwes Dekker pengarang buku Max Havelaar dengan nama samaran Multatuli. E.F.E Douwes Dekker yang kemudian terkenal dengan nama dr. Danudirdjo Setiabudhi mengajak Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo untukbersama — sama mendirikan IndiA\he Partij pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung. Ketiga orang itu kemudian dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai.

Keanggotaan Indische Partij terbuka untuk semua golongan, baik golongan bumiputra, Indo, Cina, India, Arab, maupun lainnya. Mereka dipadukan dalam semangat kesatuan bangsa dengan menanamkan semangat nasionalisme Indonesia. Cita-cita Indische Partij cepat menyebar luas melalui surat kabar de Expres yang dipimpin oleh Douwes Dekker. Ditegaskan bahwa nasib kaum Indo keturunan Eropa, Cina, Arab, India, dan sebagainya berada di tangan mereka sendiri. Untuk itu kolonialisme dan imperialisme di Indonesia harus dilenyapkan. Dengan langkah-langkah yang ditempuhnya, anggota Indische Partij dalam waktu singkat mencapai ribuan orang. Dalam tahun pertama tercatat 1.300 orang bangsa Indonesia dan 600 orang keturunan Indo lainnya. 

Indische Partij mengganggap kolonial Belanda sebagai musuh berbahaya bagi kesejahteraan rakyat yang harus segera disingkirkan. Disebutkan juga, kaum Indo adalah golongan yang dianaktirikan. Oleh karena itu, agar menjadi kuat mereka harus bersatu dengan bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan bersama, yaitu Indonesia merdeka. 

Pada tahun 1913, pemerintah Hindia Belanda mengadakan persiapan untuk turut merayakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari penjajahan Perancis (1814). Untuk maksud itu pemerintah ingin mencari dana, demi suksesnya perayaan tersebut. Dalam menanggapi keinginan pemerintah itu, Suwardi Suryaningrat menulis sebuah artikel berjudul Als ik eens Nederlander Was (seandainya saya seorang Belanda). Tulisan yang dimuat dalam surat kabar de Expres itu menimbulkan kemarahan pemerintah Hindia Belanda. Dalam tulisan itu dijelaskan sebagai berikut: "kalau saya seorang Belanda, maka saya akan berusaha agar perayaan kemerdekaan itu dapat diselenggarakan dengan sebaik-baiknya dan semeriah-meriahnya, tetapi saya tidak mau bangsa pribumi atau daerah jajahan ikut menanggungnya. Sebab tidak adil bila bangsa pribumi (Indonesia) ikut menanggung, itu merupakan suatu penghinaan moril dan materil terhadap kemerdekaan itu." 

Akibat tulisan Suwardi Suryaningrat itu, pemerintah Hindia Belanda mengambil tindakan tegas. Ketiga pimpinan Indische Partij ditangkap dan dikenakan hukuman pembuangan (internir). Douwes Dekker dibuang ke Kupang, Suwardi Suryaningrat ke Bangka, sedangkan Cipto Mangunkusumo ke Banda. Hukuman internir kemudian diubah menjadi hukuman eksternir yakni ke negeri Belanda atas permintaan ketiga tokoh tersebut. Setelah satu tahun di negeri Belanda, Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena alasan kesehatan. Kemudian hukuman Douwes Dekker dicabut pada tahun 1917 disusul Suwardi Suryaningrat pada tahun 1918. Setelah kembali dari negeri Belanda mereka aktif kembali dalam pergerakan nasional dengan mendirikan National Indische Partij pada tahun 1919.

Daftar Pustaka : YUDHISTIRA