Perlawanan Rakyat Aceh (1873-1904)

Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, keadaan Aceh makin terpuruk. Sultan Aceh hanya berkuasa di Kutaraja. Sultan hanya berfungsi sebagai lambang pemersatu rakyat Aceh. Namun demikian, sultan masih mempunyai wewenang menjalin hubungan dengan bangsa asing lainnya. Belanda dan Inggris yang telah lama ingin menguasai Aceh mengakui kekuasaan politik tersebut sesuai Treaty of London (1824). 

Namun, Belanda sangat khawatir dengan tindakan Aceh yang menjalin hubungan dengan bangsa lain. Oleh karena itu, Belanda sering memancing keributan dengan menggeledah dan menangkap pelaut Aceh yang baru kembali dari negara lain. Rakyat Aceh pun sering membalas dengan menyergap kapal-kapal Belanda. Puncaknya, Belanda memancing kemarahan Sultan Aceh dengan menaklukkan Kerajaan Siak. Padahal wilayah tersebut sesungguhnya masih termasuk kekuasaan Kesultanan Aceh sejak Sultan Iskandar Muda. Akibatnya, beberapa kapal Belanda yang kebetulan berlabuh di Pelabuhan Aceh ditahan pemerintah Aceh. Penahanan itu ternyata didukung Inggris karena memang Belanda yang mencari masalah. 

Salah satu negara yang menjalin hubungan dengan Aceh adalah Kesultanan Turki. Hubungan ini ternyata sangat mengkhawatirkan Belanda. Terlebih setelah Terusan Suez dibuka untuk umum. Ini menyebabkan kedudukan Aceh makin penting dalam perdagangan dunia. Oleh karena itu, Inggris dan Belanda sama-sama khawatir tentang masa depan Aceh karena dapat dikuasai negara Barat lainnya.

Setelah Inggris dan Belanda dapat membuktikan bahwa Aceh menjalin hubungan dengan Italia dan Amerika Serikat, mereka segera bertindak membuat kesepakatan tentang Aceh. Kesepakatan itu dikenal dengan nama Traktat Sumatera (1872). Kesepakatan itu pada intinya menyebutkan bahwa Inggris memberi keleluasaan pada Belanda untuk bertindak terhadap Aceh. Sebaliknya, Belanda pun memberi keleluasaan Inggris untuk berdagang di wilayah Siak yang dikuasainya. 

Belanda berusaha memperoleh keterangan yang sebenarnya dari Sultan Aceh tentang hubungan kerajaannya dengan konsul Italia dan Amerika Serikat di Singapura. Akan tetapi, Sultan Aceh tetap tidak mau memberi keterangan. Akibatnya, Belanda marah dan mengumumkan perang dengan Kesultanan Aceh. 

Pada tahun 1873, Belanda mengirimkan pasukannya ke Aceh dan menuntut agar Aceh tunduk kepadanya. Tuntutan itu ditolak oleh Sultan Mahmud Syah sehingga meletuslah perang antara Belanda dan Aceh. Dalam pertempuran tersebut Belanda mengalami kega-galan. Bahkan, pimpinan mereka Jenderal Kohler tewas tertembak di depan Mesjid Raya Aceh. 

Pada bulan November 1873, Belanda mengirimkan ekspedisi kedua yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten. Pada tanggal 9 Desember 1873, ekspedisi mendarat di Aceh dan langsung terlibat pertempuran sengit. Belanda terus bergerak menyerang istana Sultan Mahmud Syah dan berhasil menguasai Kutaraja. Setelah istana berhasil dikuasai Belanda, tidak lama kemudian Sultan Mahmud Syah wafat. Sementara itu, di seluruh Aceh dikobarkan Perang Jihad Fi Sabilillah (Perang Suci di jalan Allah). Ulama-ulama Aceh, seperti Tengku Cik Di Tiro dengan penuh semangat memimpin barisan menghadapi serbuan tentara Belanda. 

Rakyat di daerah Aceh Barat juga bangkit melawan Belanda yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama istrinya Cut Nyak Dien. Ia memimpin serangan terhadap pos-pos Belanda dan menguasai daerah sekitar Meulaboh pada tahun 1882. Pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar menyerang Kapal Hok Canton yang berlabuh di Rigaih. Kapten Hansen berusaha menangkapnya tetapi kapten itu tewas dalam pertempuran. 

Perang Aceh telah berjalan lebih dari sepuluh tahun, tetapi Belanda baru dapat menguasai sekitar Kutaraja. Padahal biaya yang dikeluarkan Belanda sudah cukup besar. Belanda menyadari bahwa menaklukkan Aceh dengan kekerasan tidak akan berhasil. Oleh karena itu, Belanda mulai berusaha dengan jalan lain. Untuk itu, dikirimlah Dr. Snouck Hurgronje (seorang ahli ketimuran) untuk mengadakan penelitian sosial budaya terhadap masyarakat Aceh. Ia masuk di Aceh dengan menyamar sebagai seorang ulama bernama Abdul Gafar. Ia tinggal di tengah-tengah masyarakat Aceh sambil mengamati kehidupannya.

Snouck Hurgronje menganjurkan agar pemerintah Belanda bersikap keras terhadap para ulama dan bersikap lunak terhadap para bangsawan. Anjuran Snouck Hurgronje tidak dilaksanakan. Jenderal Deyckerhoff mencoba siasat lain, yaitu politik adu domba. Dipikatnya Teuku Umar agar bekerja sama dengan Belanda. Teuku Umar berpura-pura menyam-but baik ajakan itu karena pasukannya butuh senjata. Teuku Umar berharap dengan bekerja sama dengan Belanda, dirinya dapat melengkapi pasukannya dengan senjata yang modern sehingga dapat memenangkan pertempuran. 

Pada tahun 1893, Teuku Umar pura-pura menyerah. Teuku Umar diberi pasukan yang kuat dengan persenjataan lengkap agar menyerang benteng-benteng rakyat Aceh. Dengan pasukannya itu, Teuku Umar berhasil menundukkan beberapa hulubalang di Aceh Besar. Kepercayaan pemerintah Belanda kepada Teuku Umar makin besar. Atas jasanya, ia diberi gelar Panglima Perang Besar Johan Pahlawan. Pada tahun 1896, Teuku Umar beserta pasukannya balik memusuhi Belanda. Mereka membawa persenjataan lengkap, bergabung dengan rakyat Aceh. Pasukan Aceh terus-menerus mendapat kemenangan. Belanda menyadari bahwa siasat devide et impera tidak dapat meruntuhkan Aceh. Deyckerhoff dipecat dan diganti oleh van Heutz. 


Van Heutz memilih Snouck Hurgronje sebagai penasihatnya. Pada tahun 1898, van Heutz mengubah siasat perang. Pemusatan dalam benteng dihapus. Ia membentuk pasukan Marsose (Korps Marechaussee), yaitu pasukan yang berang-gotakan orang Indonesia dengan pemimpin seorang perwira Belanda yang mahir berbahasa Aceh. Pasukan itu terdiri atas kesatuan-kesatuan kecil gerak cepat dan dilatih cara gerilya. Dalam melakukan serangan, tentara Belanda selalu diikuti oleh ribuan orang tawanan terantai yang memikul senjata dan bekal perang. Pasukan Marsose menyerang setiap daerah pertahanan lawan. Pasukan Aceh di bawah pimpinan Teuku Umar tidak mampu menahan serangan, kemudian mundur ke Meulaboh. Dalam pertempuran melawan Belanda, Teuku Umar gugur pada tanggal 11 Februari 1899.

Sementara itu, Panglima Polim dan Sultan Muhammad Daud Syah masih melakukan pertempuran di Aceh Timur secara berpindah-pindah mulai dari Kutasawang, Peusangan, Geudong, dan Keureutue. Belanda masih belum berhasil mengalahkannya. Oleh karena itu, ketika pasukan Aceh bertahan di Benteng Batee Llie, van Heutz mengadakan serangan besar-besaran (Januari 1901). Pasukan Sultan dan Panglima Polim terdesak mundur dan benteng dapat diduduki Belanda. 

Sekitar tahun 1903, pasukan Belanda berhasil menawan kerabat kesultanan sehingga pada tahun itu juga Sultan Muhammad Daud Syah menyerah kepada Belanda. Beberapa bulan kemudian Panglima Polim juga menyerah. Sementara itu, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia masih terus mengadakan perlawanan. Akhirnya, Cut Nyak Dien tertangkap dan dibuang ke Sumedang sampai wafat pada tanggal 6 November 1908. Cut Nyak Meutia gugur dalam pertempuran di hutan Pasai pada tanggal 24 Oktober 1913. 

Pada abad ke-19 masih banyak terjadi perang melawan Belanda di Sumatera. Perlawanan rakyat di wilayah Batak dipimpin oleh Si Singamangaraja XII. Perlawanan juga terjadi di Jambi, Palembang, dan Lampung.

Daftar Pustaka : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri