Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Belanda di Bidang Gerakan Sosial dan Keagamaan

Gerakan Para Petani 

Pada masa kolonial liberal, kaum modal (tuan tanah) sangat berkuasa. Mereka dapat melakukan dan meminta apa saja kepada para petani yang menggarap atau yang tinggal di tanah tersebut. Hal ini yang membuat terjadinya pemerasan dan penindasan terhadap petani. Akibatnya, terjadilah gerakan protes petani. 

Gerakan protes petani terjadi pada abad ke-19 yang berupa kerusuhan di Ciomas. Gerakan ini dipimpin oleh Arpan dan Mohammad Idris. Gerakan ini berawal dari rasa tidak senang para petani terhadap tindak kesewenangan. Misalnya, harus membayar pajak, wajib kerja paksa, kemit (ronda), dan praktek perbudakan lainnya yang dilakukan di beberapa tempat terutama di perkebunan kopi. Protes petani juga terjadi di Surabaya. Gerakan petani ini dipimpin oleh Sadikin. Ia memengaruhi masyarakat sekitarnya agar menolak kerja paksa. Untuk memperkuat tuntutannya, mereka melakukan ancaman dan intimidasi. Gerakan protes petani lainnya terjadi di Semarang. Gerakan ini dipelopori para kusir gerobak. Mereka menolak membayar pajak kepada pemerintah daerah di Semarang. Pemimpin gerakan ini adalah Sukaemi dan Raden Akhlad. 

Gerakan Ratu Adil 

Gerakan ini muncul pertama kali di Sidoarjo, Jawa Timur, dan dipimpin oleh Kyai Kasan Mukmin. Ia mengaku sebagai jelmaan Sang Ratu Adil yang akan memimpin masyarakat Jawa Timur dalam sebuah kerajaan. Kyai Kasan Mukmin kemudian terbunuh dalam suatu serangan yang dilakukan pemerintah Belanda. Gerakan Ratu Adil juga terjadi di Kediri. Gerakan ini dipimpin oleh Dermojoyo. Namun, ia juga mengalami nasib yang sama seperti Kyai Kasan Mukmin.

Gerakan Keagamaan Gerakan keagamaan muncul sebagai suatu reaksi dari pengaruh Barat yang dibawa oleh orang-orang Belanda di Indonesia. Gerakan ini bertujuan untuk memurnikan kembali masyarakat muslim kepada anjaran agama islam tokoh-tokoh gerakan ini di antara lain H.Muhamad Rifangi dari Pekalongan.


Daftar Pustaka : ERLANGGA