Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Belanda

Perlawanan Rakyat Maluku

Perlawanan Rakyat Maluku Perlawanan rakyat Maluku berkobar di Pulau Saparua yang dipimpin oleh Thomas Mattulessia (Pattimura) pada tahun 1817. Saat itu, Benteng Duurstede berhasil dihancurkan oleh pasukan Maluku. Residen Belanda yang bernama Van den Berg terbunuh dalam peristiwa itu. Belanda pun menambah pasukannya dengan mendatangkannya dari Ambon. Namun, pasukan ini juga berhasil dikalahkan. 

Perlawanan rakyat Saparua menjalar ke Ambon, Seram, dan pulau-pulau lainnya. Untuk memadamkan perlawanan rakyat Maluku ini, Belanda mendatangkan pasukan dari Jawa. Maluku diblokade oleh Belanda. Akhirnya, rakyat pun menyerah karena kekurangan makanan. Untuk menyelamatkan rakyat dari kelaparan, Pattimura menyerahkan diri dan dihukum mati. 

Kemudian, pemimpin perlawanan digantikan oleh Khristina Martha Tiahahu, seorang pejuang perempuan. Sayangnya, Khristina juga ditangkap. Ketika dalam perjalanan menuju tempat pengasingan di Pulau Jawa, Khristina pun meningggal dunia. Akibat pemberontakan ini, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan ketat. Rakyat Maluku, terutama rakyat Saparua, dihukum berat. Monopoli rempah-rempah pun diberlakukan kembali oleh pemerintah Belanda.


Perlawanan Rakyat Jawa 

Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan ini dibantu oleh Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, Kyai Mojo, dan Pangeran Mangkubumi. Pada pertempuran awal, Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan. Hal ini disebabkan sebagian tentara Belanda dikerahkan untuk memadamkan perlawanan di luar Jawa. Selain itu, pasukan Pangeran Diponegoro masih memiliki semangat yang tinggi untuk mengusir Belanda. 

Menghadapi pasukan Diponegoro, Belanda melakukan strategi untuk memperlemah kekuatan musuh. Mereka mengangkat kembali Sultan Sepuh (Hamengkubuwono II). Ini bertujuan agar para bangsawan yang membantu Diponegoro kembali ke istana. Siasat ini gagal karena Sultan Sepuh tidak lama kemudian meninggal. Untuk mempersempit ruang gerak Diponegoro, Jenderal de Kock menciptakan benteng stelsel. Dengan cara ini, daerah Diponegoro semakin sempit. Pada tahun 1830, Pangeran Diponegoro diajak berunding oleh Jenderal De Kock di Magelang. Jenderal De Kock berjanji bahwa bila perundingan gagal, Pangeran Diponegoro bebas kembali ke markasnya. Namun, De Kock berkhianat. Lalu, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado. Setelah itu, dipindahkan ke Makassar hingga akhir hayatnya. 

Perlawanan Rakyat Sumatra Barat (Minangkabau) 

Perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Belanda di Sumatera mula-mula berkobar di Minangkabau (Sumatera Barat). Perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda tersebut dimulai dengan perang saudara antara kaum Adat dan kaum Paderi. Pada tahun 1821, Belanda masuk dalam perselisihan kedua golongan ini. Belanda memihak kaum Adat sehingga berkobarlah perlawanan antara kaum Paderi melawan Belanda. Pimpinan Paderi mula-mula dipegang oleh Tuanku nan Renceh, kemudian oleh Datuk Bendaharo, Tuanku Pasaman, dan Malim Basa. Malim Basa kemudian dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.

Oleh karena berkobarnya Perang Diponegoro, Belanda pun mengadakan perdamaian dengan kaum Paderi. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menyerang dan menghormati batas-batas wilayah masing-masing. 

Setelah Perang Diponegoro berakhir, Belanda melakukan serangan. Bahkan, Belanda berhasil merebut markas kaum Paderi di Bonjol. Setahun setelah itu, kaum Adat bersatu dengan kaum Paderi. Pada tahun 1833, mereka berhasil merebut kembali Kota Bonjol. Kemudian, Belanda pun melakukan politik adu domba. Belanda mengirim Sentot Alibasyah Prawirodirdjo dan tentaranya yang telah menyerah di Jawa ke Sumatera Barat dengan tujuan berperang melawan pasukan Imam Bonjol. Namun, Sentot melakukan kontak rahasia dengan kaum Paderi. Ia ditangkap lagi dan diasingkan ke Bengkulu. Pada tahun 1837, Bonjol kembali direbut Belanda dan Imam Bonjol pun ditangkap. Ia dibuang ke Ambon, kemudian ke Minahasa. Perang perlawanan rakyat terhadap Belanda diteruskan oleh Tuanku Tambusi. Namun, tidak lama kemudian, perang dapat 


Perlawanan Rakyat Aceh 

Aceh diserang oleh Belanda untuk pertama kali terjadi pada 5 April 1873 dengan kekuatan 3.000 tentara. Serangan ini dipimpin oleh Mayor Jenderal J. H. R. Kohler yang tewas di pekarangan masjid besar. Tewasnya Kohler menyebabkan ekspedisi ini gagal. Pada bulan November tahun itu, Belanda kembali menyerang untuk kedua kalinya dengan kekuatan 13.000 orang tentara. Serangan ini dipimpin oleh Letnan Jenderal Swieten dan berhasil merebut ibu kota yang disebutnya Kotaraja. 

Belanda mengira bahwa Aceh telah menyerah, terutama setelah van der Heyden menundukkan Aceh Raya. Mereka lalu membentuk pemerintahan sipil di Aceh. Namun, laskar Aceh yang dipimpin Panglima Polim, Teungku Cik Di Tiro, dan Teuku Ibrahim terus melakukan perlawanan. Pada masa itu, muncul Teuku Umar yang didampingi istrinya, Cut Nyak Dien, yang juga ikut melakukan perlawanan terhadap Belanda. Kala itu, Teuku Umar berpura-pura menyerah, tetapi ia menyerang Belanda setelah diberi senjata lengkap. 

Dr. Snouck Hurgronje dalam bukunya De Atjehers (Orang Aceh) mengusulkan bahwa rakyat Aceh harus diadu domba, kemudian diserang habis-habisan. Tugas tersebut diserahkan kepada Kolonel J.B. Van Heutz yang segera membentuk Marsose (pasukan gerak cepat). Satu per satu para pemimpin Aceh gugur dan menyerah. Teuku Umar gugur di Meulaboh. Panglima Polim dan Sultan Muhammad Dawod Syah menyerah. Oleh karena itu, diadakanlah perjanjian yang disebut Pelakat Pendek. Berdasarkan perjanjian itu, Aceh mengakui kekuasaan Belanda dan patuh pada perintah-perintahnya. Aceh juga bersedia tidak berhubungan dengan negara Iain. 

Perlawanan Rakyat Sumatra Utara (Tapanuli) 

Perlawanan rakyat Sumatera terhadap Belanda juga terjadi di Tapanuli selama kurang lebih 29 tahun, dimulai tahun 1878 dan berakhir tahun 1907. Belanda berusaha memperluas wilayah kekuasaannya setelah menguasai Sumatra Timur dan Aceh. Belanda menyerang dan berhasil

menguasai kota Natal, Madailing, Angkola, serta Sipirok yang berada di bagian Selatan dan Timur Tapanuli. Belanda menempatkan tenatranya di Tarutung dengan dalih Melindungi para penyebar agama Kristen yang tergabung dalam Rhijusnhezending. Tentara Belanda yang berkedudukan di Tarutung diserang oleh pasukan Si Srigamangaraja XII yang bermarkas di Bakkara. Perang terjadi di Butar, Bahal Batu, Balige, Siborong-borong, Lumban Julu, dan Laguboti. Dalam penyerangan itu, Belanda di bawah pimpinan Hans Christoffel. 

Pada 17 Juni 1907, Si Singamangaraja XII yang memusatkan pertahanan terakhir di Dairi gugur karena ditembak oleh Belanda. Hal ini membuat berakhirnya perang Tapanuli. Putri Si Singamangaraja XII yang bernama Tapian dan dua orang putra Si Singamangaraja XII juga gugur. Putra Si Singamangaraja XII yang bernama Sabidan, Pakilin, dan Buntai dibuang ke luar daerah Tapanuli. Sementara itu, dua putra Si Singamangaraja XII yang bernama Barita dan Pangarandang diasuh oleh pendeta Belanda di Pea Raja. 

Perlawanan Rakyat Bali 

Pada masa itu, pemerintah Belanda dan raja-raja di Bali sudah memiliki satu perjanjian. Perjanjian itu untuk membebaskan setiap kapal Belanda yang karam di perairan Bali apabila telah dibayar. Perjanjian ini diadakan sehubungan dengan adanya hak tawan karang yang dimiliki raja-raja Bali tersebut. Hak Tawan Karang adalah hak para raja Bali untuk merampas kapal-kapal yang karam di perairan Bali. Oleh karena pemerintah Belanda melanggar perjanjian tersebut, para raja Bali memberlakukan kembali haknya ini. 

Raja Buleleng merampas kapal Belanda yang karam di wilayah perairannya. Tindakan raja Buleleng ini tidak diterima oleh pemerintah Belanda. Hal ini menyebabkan ketegangan. Setelah dua tahun berada pada masa ketegangan, terjadilah perang. Belanda menyerang Buleleng dan berhasil merebut istana Buleleng. Raja Buleleng kemudian menyingkir ke Jagaraga. Kemudian, diadakanlah perjanjian antara Belanda dan Buleleng, namun gagal. Belanda kemudian menyerang Jagaraga, tetapi serangan ini dapat dipukul mundur. Tiga tahun kemudian, Belanda melancarkan serangan besar-besaran terhadap kerajaan-kerajaan di Bali. Pasukan Belanda ini dipimpin oleh Jenderal Michiels. Kemudian, Jagaraga pun dapat direbut. Setelah berhasil merebut Jagaraga, Belanda juga merebut Klungkung, Karangasem, dan Gianyar.

Perlawanan Rakyat Sulawesi Selatan 

Ketika Gubernur Jendral Van der Capellen ingin memperbaiki Perjanjian Bongaya; kerajaan-kerajaan di Sulawesi, terutama Kerajaan Bone, menentang keras usaha tersebut. Hal ini membuat Belanda harus mengirimkan ekspedisi militer untuk menaklukan daerah Sulawesi Selatan. Siasat ini akan menempatkan kekuatan pasukan di berbagai tempat yang dianggap bahaya dan bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Pada tahun 1824, Kerajaan Soppeng dan Kerajaan Tanete mempersiapkan pasukan sebanyak kurang lebih 4.000 orang untuk menghadapi Belanda. Serangan Belanda melalui Pare-pare mendapat perlawanan hebat sehingga Belanda mengalami kekalahan. Akan tetapi, pasukan gabungan Belanda di bawah pimpinan de Stuers dapat mematahkan perlawanan Kerajaan Soppeng dan Tanete. Perlawanan selanjutnya tetap dilakukan Kerajaan Bone di bawah pimpinan Sultan Bone, Raja Putri. Pasukan Kerajaan Bone menyerang pos-pos Belanda di Pajangkene dan Latbakkang. Kapten Le Clerg, komandan pasukan Belanda di Maros, menyerang Bone dan mendapat perlawanan yang seimbang. Wilayah Kerajaan Bone yang luas, meliputi hampir seluruh Semenanjung Sulawesi Selatan, membuat Gubernur Jenderal Belanda merencanakan serangan besar-besaran. Pada tahun 1825, akhirnya Kerajaan Bone dapat ditaklukan. Penaldukan Belanda atas Kerajaan Bone mempermudah usaha Belanda dalam menguasai kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi. 

Perlawanan Rakyat Kalimantan Selatan (Banjar) 

Perlawanan rakyat Banjar terhadap Pemerintah Belanda meletus pada tahun 1859. Hal ini disebabkan ketidaksenangan rakyat dan beberapa bangsawan Banjar terhadap campur tangan Belanda, terutama pada pengangkatan Pangeran Tamjid Illah menjadi seorang sultan. Padahal, yang lebih berhak menjadi sultan adalah Pangeran Hidayat. Perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Pangeran Antasari. Rakyat mengepung benteng Belanda di Pengaron. Kyai Demang Loman bergerak di sekitar Riam Kiwa, Haji Nasrun menyerang pos Belanda di Istana Martapura. Pada athun 1859, tiga tokoh setempat, yaitu Haji Buyasin, Kyai Lang Lang, dan Kyai Demang Loman menyerang benteng Belanda di Tabanio. Di samping itu, Pangeran Hidayat melakukan cara gerilya ketika melawan Belanda. Pada tahun 1862, Pangeran Hidayat berhasil ditangkap Belanda, kemudian dibuang ke Cianjur. Sementara itu, Pangeran Antasari meninggal dunia.

Perlawanan dilanjutkan oleh Gusti Matsaid, Pangeran Mas Natawijaya, Tumenggung Surapati, Tumenggung Naro, Penghulu Rasyid, Gusti Matseman, dan Pangeran Perbatasari. Siasat yang digunakan dalam perlawanan adalah perang gerilya. Perlawanannya pun menyebar ke berbagai wilayah. Hal ini menimbulkan kesulitan Belanda dalam mengatasi perlawanan tersebut.

Daftar Pustaka : ERLANGGA