Perlawanan Rakyat Ternate terhadap Kekuatan Portugis dan Spanyol

Kedatangan Portugis dan Spanyol di Maluku beriringan dengan suasana persaingan di kawasan itu, Yakni antara Ternate dan Tidore. Untuk memenangkan persaingan masing-masing menjalin persekutuan dengan pendatang. Ternate beraliansi dengan Portugis, sedangkan Tidore beraliansi dengan Spanyol. Persaingan tersebut akhirnya dimenangkan Ternate Portugis, selain karena lebih kuat, juga karena Spanyol harus mentaati Perjanjian Saragosa. Menurut, perjanjian itu, Maluku menjadi wilayah jelajah Portugis. 

Pertikaian antara Ternate dan Tidore itu sebetulnya justru merugikan Maluku secara keseluruhan. Mengapa? Sejak berhasil menanamkan pengaruhnya, Portugis memaksakan kehendaknya untuk monopoli bahan rempah-rempah. Orang Maluku menjadi kehilangan kebebasan untuk melakukan perdagangan dengan siapa saja yang mereka kehendaki. Kebencian akan tindakan semena-mena Portugis itu semakin bertambah saja, sejak bangsa asing itu juga mengadakan upaya kristenisasi secara tidak simpatik. 

Ternate yang semula menjadi sekutu Portugis, akhirnya juga memusuhi mereka. Sekitar tahun 1533, rakyat Ternate di bawah pimpinan Dajalo berhasil membakar benteng Portugis. Perlawanan juga timbul dari orang-orang Tidore dan Bacan. Mulai saat itu, seluruh Maluku dapat dikatakan bangkit melawan Portugis. Secara berulangkali pertempuran antara kedua belah pihak terjadi. 

Mulanya rakyat Maluku dapat menguasai semua lini pertempuran. Akan tetapi, sejak datang bala bantuan dari Malaka, rakyat Maluku mulai terdesak. Pada tahun 1536, armada Portugis di bawah pimpinan Antonio Galvao berhasil memaksa rakyat Maluku untuk berdamai. Portugis tetap dapat menanamkan pengaruhnya di Maluku. Setelah dapat menahan diri untuk beberapa lama, rakyat Maluku tidak dapat memaklumi lagi tindakan korup dan memeras dari para pegawai Portugis. Rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Khairun pun memberontak. Kebencian rakyat Ternate semakin memuncak saat pemimpinnya ditipu lalu dibunuh dalam suatu perundingan. Perlawanan rakyat Ternate diteruskan oleh Babullah, pengganti Sultan Khairun. Kubu demi kubu Portugis dapat direbut. Pada tanggal 28 Desember 1577, rakyat Ternate berhasil mengusir mereka dari negerinya. 

Portugis terus berusaha kembali bercokol di Maluku. Upaya ini bahkan dibantu oleh armada Spanyol yang berkedudukan di Filipina. Perlu diketahui, pada tahun 1582 Portugis dan Spanyol bersatu di bawah tampuk pemerintahan Raja Felipe II. Akan tetapi upaya itu mengalami kegagalan. Penyebabnya selain oleh perlawanan terus menerus dari Melayu, Jawa, dan Ternate, juga oleh semakin kuatnya penga-ruh VOC dari Belanda di perairan Maluku. 


Daftar Pustaka : ERLANGGA