Reaksi Indonesia terhadap Belanda Dalam Bidang Politik

Maluku
Perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC muncul di berbagai tempat. Perlawanan itu antara lain sebagai berikut.

• Antara tahun 1635-1646, rakyat Hitu mengadakan perlawanan secara bergelombang di bawah pimpinan Kaikali dan Talukabesi.
• Sekitar tahun 1650, rakyat Ambon mengadakan perlawanan di bawah pimpinan Saidi. 
• Sekitar tahun 1675, rakyat Jailolo melancarkan serangan bergerilya. Perlawanan demi perlawanan dapat dipatahkan oleh VOC. Meskipun demikian, semangat perlawanan rakyat Maluku tidak pernah padam. 

Mataram 
Pada mulanya hubungan antara Mataram dengan Belanda berjalan dengan baik. VOC diperbolehkan mendirikan kantor dagangnya tanpa membayar pajak. Namun, akhirnya VOC menuntut monopoli perdagangan di Jepara. Bupati Kendal bernama Baurekso bertanggung jawab atas Jepara sangat keberatan dengan tuntutan monopoli VOC tersebut. Keberatan itu tidak diindahkan VOC. VOC tetap memaksakan monopoli perdagangan.

Kemudian, kantor VOC diserang oleh penduduk. Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen membalasnya dengan memerintahkan untuk menembaki Jepara. Atas kejadian itu, Sultan Agung bertekad untuk mengusir VOC dari Pulau Jawa. Lalu ia pun merencanakan serangan ke Batavia. Serangan itu dilakukan dua kali, tahun 1628 dan tahun 1629. 

Dalam serangan pertama, Sultan Agung mem-bagi pasukannya menjadi 4 bagian. 

• Pasukan pertama (induk) dipimpin oleh Tumenggung Baureksa.
• Pasukan kedua dipimpin Tumenggung Sura Agul-Agul dibantu oleh Tumenggung Mandu-reja dan Tumenggung Upasanta. 
• Pasukan dari Jawa Barat yang dipimpin oleh Dipati Ukur, Bupati Sumedang. 
• Pasukan laut yang terdiri atas 60 perahu yang akan menyamar sebagai perahu dagang. 

Serangan pertama itu gagal karena serangan dari laut tidak berhasil mencapai sasaran. Selain itu, kurangnya perbekalan membuat banyak prajurit menderita kelaparan. Baurekso sendiri gugur dalam serangan yang pertama itu.

Belajar dari kegagalan serangan pertama, serangan disiapkan lebih matang. Gudang-gudang makanan dibangun di beberapa tempat sepanjang pantai utara, seperti di Tegal dan Cirebon. Serangan kedua dipimpin oleh Kyai Adipati K.A. Puger, dan K.A. Purbaya. Pada 21 Agustus 1629, pasukan Mataram mengepung Batavia dari arah selatan, timur, dan barat. Benteng Hollandia, Weesp, dan Bommel berkali-kali diserang, namun tidak berhasil direbut. Serangan kedua itu pun gagal karena masalah perbekalan. Gudang-gudang bahan makanan vang telah disiapkan dibakar oleh VOC sehingga pasukan Mataram kekurangan makanan. 

Banten
Ketika Belanda untuk pertama kalinya datang ke Banten pada tahun 1596, mereka dicurigai. Namun, kemudian mereka diterima dengan baik setelah memberi penjelasan bahwa kedatangan mereka hanya untuk berdagang. Kemudian, diadakan perjanjian persahabatan antara Belanda dan Banten. 

Persahabatan itu tidak berlangsung lama karena timbul persaingan di antara orang-orang Eropa yang berdagang di Banten. Orang-orang Belanda cenderung bersikap kasar dan menimbulkan keonaran. Akibatnya, beberapa orang Belanda ditangkap oleh penguasa Banten, termasuk Cornelis de Houtman. Orang-orang Belanda membalas dengan menembaki Banten dari kapal-kapal mereka. Dalam suasana permusuhan, orang-orang Belanda diusir oleh penguasa Banten.

Pada masa berikutnya, Belanda datang kembali ke Banten melalui VOC untuk menjalin hubungan dagang. Serikat dagang itu harus bersaing dengan EIC untuk menanamkan pengaruh di Banten. Untuk memenangkan persaingan, VOC memancing konflik antara penguasa Banten dan Jayakarta. Strategi itu berhasil menyingkirkan EIC dari Jayakarta sekaligus menjadikan kota itu pusat kedudukan VOC.

Pertentangan antara Banten dan VOC muncul setelah disadari persekutuan Banten-VOC selama ini hanya menguntungkan pihak VOC. Pertentangan ini pecah menjadi perang terbuka setelah VOC merebut Jayakarta dari kekuasaan Banten. 

Perlawanan Banten terhadap VOC memuncak semasa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1656, pasukan Banten berhasil merampas sejumlah kapal VOC. Banten pun melakukan pengrusakan perkebunan tebu milik VOC. Perlawanan Banten dapat dipadamkan, setelah VOC menghasut putera mahkota Sultan Haji. Kedudukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil digulingkan dan diganti oleh Sultan Haji. Dengan naiknya Sultan Haji pada pucuk pemerintahan Banten, peluang VOC menguasai kerajaan itu semakin terbuka. Pada tahun 1682, Sultan Haji yang telah menjadi raja dipaksa menandatangani perjanjian yang menegaskan kekuasaan VOC atas Banten. 


Perjanjian VOC-Banten 
• VOC mempunyai hak penuh atas monopoli perdagangan lada di Banten dan Lampung. 
• VOC berhak turut campur dalam urusan pemerintahan Banten.
• Banten harus melepaskan wilayah Cirebon kepada VOC. 
• Banten harus menanggung biaya perang. 

Makasar
Perlawanan Makassar terhadap VOC muncul setelah serikat dagang tersebut menuntut monopoli perdagangan. Untuk memaksakan kehendaknya itu, armada VOC beberapa kali menyerang kapal-kapal Makassar yang biasa hilir mudik antara Makassar dan Maluku. Peristiwa itu menyulut ketegangan antara kedua belah pihak. Ketegangan semakin memuncak setelah timbul peristiwa berikut ini. 

• VOC menduduki benteng Pa'Nakkukang sehingga menjadi ancaman berbahaya bagi Makassar.
• Pasukan Karaeng Tallo menyita isi kapal milik VOC, de Walvis, berupa barang dan senjata.
• Pasukan Makassar merampas kapal Leeuwin dan membunuh awak kapal. 

Akhirnya perang terbuka pecah pada tahun 1660. Saat itu, Makassar dipimpin oleh Sultan Hasanudin. Ia dibantu oleh para bangsawan seperti Karaeng Tallo, Karaeng Popo, dan Karaeng Karunrung. Ia pun mendapat dukungan dari para vassal di Sumbawa. 

Untuk mengatasi perlawanan Makassar, VOC memanfaatkan Aru Palaka. Penguasa Bone itu sedang bersengketa dengan Makassar. Kemudian pada bulan juli 1667, armada VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman dan pasukan Bone menyerbu inti kekuatan Makassar di Sombaopu. Kota pelabuhan itu dikepung dari darat dan laut. Dalam pertempuran tersebut akhirnya Makassar harus menyerah. Penyerahan ditandai melalui PerjAnjian Bongaya. Perjanjian itu amat merugikan Makassar karena kehilangan hak atas kendali perdagangan di wilayahnya. Selain itu, Makassar pun harus melepaskan sejumlah wilayah strategis.

Daftar Pustaka : Erlangga