Reaksi Indonesia Terhadap Kekuasaan Barat dalam Pengaruh Sosial

Pengaruh kebijakan kolonial di kalangan rakyat paling tampak dari munculnya gerakan sosial. Gerakan ini berupa protes kaum petani, gerakan ratu adil, dan gerakan keagamaan. Ketiga macam gerakan itu berasal dari rakyat kecil dan meliputi wilayah terbatas. (Perhatikan perbedaannya dengan perang besar yang muncul dari kalangan istana, bangsawan, dan pemimpin agama serta meliputi wilayah luas). 

Gerakan Protes Petani 
Gerakan sosial ini biasanya muncul di tanah partikelir (particuliere landerijen) vang dimiliki tuan tanah. Pemilik tanah ini berhak menuntut penyerahan wajib dan wajib kerja pada petani yang berdiam di wilayah tanahnya. Kesewenang-wenangan menggunakan hak itu menyulut ketidaksenangan para petani. Apalagi, pemerintah kolonial dan penguasa pribumi berpihak pada tuan tanah. 

Ciomas 
Gerakan ini dilancarkan para petani di lereng Gunung Salak, Jawa Barat. Gerakan ini timbul akibat pemerasan dan beban berat dalam pembayaran cukai, kerja tindakan perbudakan, dan penyerahan hasil-hasil perkebunan yang sangat memberatkan rakyat. Pada tahun 1886, kerusuhan meletus di bawah pimpinan Muhammad Idris. Sasaran penyerbuan rakyat pada waktu itu adalah para pegawai dan antek pemerintah kolonial, baik orang Belanda, penguasa pribumi, para tuan tanah, pedagang-pedagang, dan lintah darat yang telah memeras mereka. Kerusuhan itu akhirnya dapat dipadamkan oleh pemerintah.

Condet 
Gerakan ini terjadi di tanah partikelir Tanjong Oost, Condet (sekarang di Jakarta Timur). Gerakan muncul pada tahun 1916, dipelopori oleh Entong Gendut. Sasaran serangan ini adalah para tuan tanah yang sering melakukan pemerasan. Gerakan itu sempat menawan wedana Meester Comelis (sekarang Jatinegara) dan sejumlah petugas pemerintah kolonial. Gerakan langsung padam setelah Entong Gendut tewas dalam insiden tembak-menembak. 

Tangerang 
Gerakan ini terjadi pada tahun 1924, dipimpin oleh Kaiin. Gerakan ditujukan pada tuan-tanah yang di Pangkalan. Gerakan juga berupa serangkaian pembakaran terhadap kantor pemerintah. Setelah melalui bentrokan dan kerusuhan, gerakan dapat ditumpas oleh polisi. Gerakan protes petani juga muncul di tanah-tanah partikelir di Cakung, Slipi, Ciampea, Demak, dan Surabaya. Kebanyakan gerakan protes petani bersifat spontan dan sporadis. Namun ada juga yang sudah terorganisasi. Gerakan seperti itu bukan lagi bertujuan memperbaiki nasib petani, melainkan menuntut dihapuskannya tanah partikelir.


Gerakan Ratu Adil 
Gerakan sosial ini muncul berdasarkan kepercayaan bahwa seorang tokoh akan datang untuk membebaskan orang dari segala penderitaan dan kesengsaraan. Tokoh itu digambarkan sebagai seorang ratu adil atau Imam Mandi. Gerakan semacam ini muncul sebagai protes terhadap berbagai tekanan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemimpin gerakan biasanya dianggap sebagai utusan Tuhan untuk kesejahteraan manusia.

Sidoarjo
Gerakan ini muncul pada tahun 1903 di Sidoarjo, Jawa Timur, dipimpin aildz Kyai Kasan Mukmin. Tokoh ini mengaku dirinya telah menerima wahyu dari Yang Maha Kuasa, untuk memimpin rakyat di lingkungannya. Ia mengaku  jelmaan Imam Mandi. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk mendirikan alkaerajaan di Jawa Timur. Tetapi sebelum gerakan ini berbuat banyak kasan mukmin gugur ketika disergap pasukan Belanda. 

Kediri 
Gerakan ini muncul pada tahun 1907 di Desa Bendungan, wilayah karesidenan Kediri. Gerakan ini dipimpin oleh Dermojoyo. Tokoh ini mengaku dirinya selah mendapat wahyu untuk menjadi seorang ratu adil. Kemudian, Belanda mengirimkan pasukan untuk memadamkan gerakan tersebut. Dalam insiden hembak menembak, Dermojoyo terbunuh. 

Gerakan Keagamaan
Gerakan keagamaan timbul sebagai protes terhadap kebobrokan moral yang terjadi karena pengaruh budaya Barat yang dibawa oleh Belanda. Gerakan keagamaan merupakan gerakan pemurnian kembali ke ajaran agama (Islam) yang semestinya. 

Gerakan Tarekat Naqtsabandiyah dan Qodariah 
Gerakan ini muncul pada tahun 1880 an di sebelah utara Banten. Aliran Tarekat Naqtsabandiyah dan Qadariyah menjadi alat pemersatu dari rakyat pedalaman untuk menyebarkan gerakan itu. 

Gerakan Budiah 
Gerakan ini dipimpin oleh H. Muhammad Rifangi di Desa Kali Salak, Karesidenan Pekalongan, pada tahun 1850. Untuk mencegah meluasnya pengaruh gerakan tersebut, pemerintah kolonial menangkap Muhammad Rifangi lalu diasingkan ke luar Jawa.

Daftar Pustaka : Erlangga