Reaksi Indonesia Terhadap Portugis Dalam Bidang Politik

Ternate 

Perlawanan Ternate dirintis oleh Dajalo. Dengan dukungan orang Tidore dan Bacan, rakyat Ternate berhasil merebut dan membakar benteng Portugis. Setelah datang bantuan dari Malaka, Portugis mampu meredakan perlawanan Ternate. Pimpinan Portugis Antonio Galvao memaksa Ternate untuk berdamai. Untuk sementara Portugis dapat mempertahankan pengaruhnya di Maluku.

Perlawanan Ternate berikutnya dipimpin oleh Sultan Khairun. Perlawanan itu timbul karena dua alasan berikut. 

• Monopoli perdagangan yang dijalankan Portugis membuat petani Ternate semakin menderita. 
• Portugis telah campur tangan dalam urusan pemerintahan Ternate, dengan menangkap raja Ternate sebelumnya, Tabariji. 

Pada tanggal 27 Februari 1570, terjalin perdamaian antara Sultan Khairun dan Portugis. Namun, sehari setelah perjanjian damai, Sultan Khairun dibunuh secara licik di benteng Portugis. Tindakan semena-mena Portugis itu menyulut perlawanan Ternate untuk ketiga kalinya. Kali ini perlawanan dipimpin oleh Baabullah Daud Syah. Ia mengerahkan armada yang kuat pimpinan Kalakindo untuk menyerang pertahanan Portugis.

Pada tahun 1575, Baabullah memerintahkan Portugis meninggalkan bentengnya tik Ternate. Dengan sangat terpaksa, Portugis pindah ke Timor Timur dan Flores. Said, pengganti Baabullah tetap mengambil garis keras dengan Portugis. Selak saat itu, Portugis tidak bisa lagi menanamkan pengaruhnya di Maluku. Selain karena penolakan Ternate, pengaruh kuat VOC telah hadir di Maluku. 


Aceh

Perlawanan Aceh terhadap Portugis muncul sejak masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah. Perlawanan itu berdasarkan alasan berikut. 

• Dengan berkedudukan di Malaka, Portugis merupakan saingan kuat Aceh dalam perdagangan di kawasan Selat Malaka dan sekitarnya.
• Portugis memiliki kepentingan menyebarkan agama Kristen, sementara Aceh pun memiliki kepentingan menyebarkan agama Islam. 

Untuk menyingkirkan Portugis dari Malaka, Aceh bersekutu dengan Johor. Bantuan juga datang dari Kerajaan Demak.

Perlawanan Aceh terhadap Portugis dilanjutkan semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Akan tetapi, kedua belah pihak tidak mampu saling mengalahkan. Aceh tidak mampu mengusir Portugis dari Malaka. Sebaliknya, Portugis pun gagal menanamkan pengaruhnya di Aceh.

Daftar Pustaka : Erlangga