Reaksi Rakyat Indonesia Terhadap Kolonial Belanda

Selain ketiga perang di atas, masih ada perang-perang lainnya yang merupakan reaksi rakyat Indonesia terhadap kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Belanda. Perang-perang ini antara lain Perang Maluku, Perang Banjar, Perang Jagaraga, dan Perang Batak.

Pergolakan di Saparua terjadi di Maluku, antara bulan Juli Desember 1817. Pergolakan tersebut berawal dari kegelisahan rakyat terhadap tindakan pemerintah kolonial memberlakukan penyerahan wajib dan wajib kerja. Mula-mula rakyat mengajukan protes tertulis yang ditandatangani oleh 21 penguasa dan orang terkemuka dari Saparua dan Nusa Laut. Karena tidak digubris, rakyat di bawah pimpinan Thomas Matulesia (Pattimura) menyerbu dan merebut Benteng Duurstede di Saparua. Dalam serbuan itu, Residen Van den Berg tewas, beserta seluruh keluarganya. Pergolakan kemudian meluas sampai ke Hitu, Ambon, Seram, dan daerah Maluku lainnya. 

Pada bulan Agustus, benteng di Saparua kembali direbut Belanda. Meskipun telah melawan sekuat daya, Thomas Matulesia dapat ditangkap. Bersamanya ditangkap pula para tokoh perlawanan lainnya, seperti Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Christina Martha Tiahahu. Perang Banjar berawal dari ketidak senangan rakyat Banjar terhadap tindakan campur tangan pemerintah kolonial dalam urusan intern kerajaan. Ketidaksenangan itu memuncak saat pemerintah mengakui Pangeran Tamjid Ullah sebagai Sultan Banjar. Sultan baru ini tidak disukai rakyat. Timbullah pemberontakan yang dimotori oleh Pangeran Prabu Anorn dan Pangeran Hidayat. Meskipun kemudian P. Prabu Anom dapat ditangkap, perlawanan berjalan terus di seantero Banjar. 

Pada tahun 1859, Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin perlawanan, dibantu oleh Kyai Demang Leman, Haji Nasrum, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang. Pasukan Banjar sempat menyerang beberapa pos Belanda, yang kemudian terpaksa meminta bantuan dari Batavia. Sementara itu, setelah Tamjid Ullah di copot dari kedudukannya, jabatan mangkubumi pun, yang tadinya dipegang oleh P. Hidayat, ditiadakan. Oleh Belanda,status Banjar sebagai kerajaan dihapuskan, pada tahun 1860. 

Kekuatan rakyat Banjar semakin anelemah sejak meninggalnya P. Antasari, serta tertangkapnya beberapa pemimpin. Walaupun demikian, perlawanan masih terus dikobarkan sampai tahun 1905, saat sisa pemimpin rakyat tertangkap dan gugur. Perang Jagaraga berawal dari persengketaan antara Belanda dengan para raja Bali mengenai Hak Tawan Karang (wewenang raja Bali memiliki kapal yang kandas di wilayahnya). Tadinya terjalin kesepakatan bahwa hak itu tidak digunakan sejauh pihak Belanda membayar setiap kapal yang kandas di perairan Namun karena Belanda melanggarnya, para raja Bali kembali memberlakukan haknya. Perang sudah di ambang pintu, saat Raja Buleleng dan patihnya, Gusti Jelantik, tidak menghiraukan protes Belanda terhadap pengklaiman Buleleng atas kapal Belanda yang kandas pada tahun 1884. 

Dua tahun kemudian, pasukan Belanda menyerbu Buleleng. Walaupun mendapat bantuan dari Karangasem, istana Buleleng dapat diduduki. Sementara itu, raja menyingkir ke Jagaraga. Kemudian, Buleleng dan Karangasem dipaksa menandatangani perjanjian yang menyatakan pengakuan kekuasaan Belanda serta penghapusan Hak Tawan Karang. Karena perjanjian itu tidak dihiraukan, pasukan Belanda, di bawah pimpinan Michiels, menyerbu Benteng Jagaraga pada tahun 1848. Karena pertahanan yang tangguh, serangan Belanda dapat dipukul mundur. 

Setahun kemudian, Jagaraga kembali diserbu dengan pasukan yang lebih besar. Setelah dapat direbut, serangan diarahkan ke selatan untuk menaklukkan Karangasem, Klungkung, dan Gianyar. Pasukan Belanda mengalami kesulitan menalukkan Bali begitu saja, karena rakyat Bali bertempur dengan semangat puputan (bertempur habis-habisan melawan musuh). Untuk mempercepat selesainya perang, diadakanlah serangan besar-besaran ke Bali pada tahun 1906. Setahun kemudian, seluruh Bali dapat dikuasai. 


Perang Batak atau perlawanan Sisingamangaraja XII berawal dari ketidaksenangan pemimpin karismatik Batak ini terhadap perluasan agama Kristen yang dilakukan oleh zending. Penyebaran agama ini disertai juga dengan gerakan ekspedisi militer Belanda. Perluasan agama itu dianggap akan menggoyahkan kehidupan masyarakat Batak dan juga kedudukannya sebagai pemimpin politis dan spiritual. Pertempuran mulai meletus di Silindung. Kemudian, pertempuran menyebar ke daerah lain, Bahal Batu, Lobu Siregar, dan Bakkara. Dalam perlawanan, Sisingamangaraja XII memperoleh dukungan dari para pejuang Aceh. 

Sampai dengan akhir abad 19, pasukan Sisingamangaraja XII masih giat melakukan perlawanan. Namun keadaan berbalik sesudah tahun 1900. Karena persenjataan yang ala kadarnya, Sisingamangaraja XII terus terdesak. Meskipun demikian, pemimpin ini sangat sulit ditangkap. Begitu pasukan Belanda sampai di tempat persembunyiannya, ia sudah menyingkir. Akhirnya, pasukan Belanda di bawah, pimpinan Kapten Hans Christoffel, menemukan persembunyian sang pemimpin di Sibulbulon, daerah Dairi. Dalam keadaan sangat lemah, Sisingamangaraja XII bersama para pengikutnya tetap melawan, sampai pemimpin Batak itu gugur tertembak, pada tanggal 17 Juni 1907. 

Daftar Pustaka : ERLANGGA