Sejarah Berdirinya Gabungan Politik Indonesia (GAPI)

Setelah Partindo keluar dari PPPKI tahun 1935 maka federasi yang diprakarsai oleh PNI itu kehilangan penyokongnya. Atas prakarsa dari PSII dibentuklah Badan Penataran Partai-Partai Politik Indonesia (BAPEPPI) tahun 1938. Badan ini ternyata mengalami kesulitan yang sama dengan PPPKI sehingga kurang berpengaruh terhadap pergerakan yang lain. Kegagalan yang dialami BAPEPPI, kemudian dimanfaatkan tokoh-tokoh Parindra mengambil prakarsa mengajak organisasi-organsasi lainnya untuk bergabung. Dari prakarsa ini lahirlah Gabungan Politik Indonesia di Jakarta tahun 1938. Organisasi-organisasi dalam GAPI terdiri dari Parindra, Pasundan, Persatuan Minahasa, PSII, Pesindo, dan PNI. 

Dasar-dasar perjuangan GAPI adalah hak mengatur diri sendiri, persatuan kebangsaan yang meliputi seluruh rakyat Indonesia dan bersendikan demokrasi. Tokoh-tokohnya adalah Abikusno, M. Husni Thamrin, dan Amir Syarifuddin. GAPI tidak mempersoalkan asas dan ideologi anggota sehingga Parindra dengan prakarsanya disambut baik oleh organisasi lainnya. Jiwa demokrasi dari GAPI mula-mula dibuktikan dengan terbentuknya Majelis Rakyat Indonesia menggantikan Kongres Rakyat Indonesia. 

Melalui GAPI, seluruh organisasi yang berfusi diarahkan untuk bergerak menuntut Indonesia merdeka. Penolakan Petisi Sutarjo oleh pemerintah Belanda menunjukan bahwa Volksraad (Dewan Rakyat) bukanlah parlemen. Oleh karena itu, GAPI menuntut Indonesia berparlemen. Parlemen yang dituntut GAPI adalah suatu parleman yang dipilih oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain dari itu, GAPI juga menuntut agar kepala departemen diganti menjadi menteri-menteri.Adanya tuntutan ini menyebabkan pemerintah Belanda membentuk Komisi Visman yang ditugaskan untuk menyelidiki perubahan-perubahan di Hindia Belanda tetapi ternyata tidak menghasilkan apa-apa.


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA