Sejarah Berdirinya Partai Indonesia Raya (Parindra)

Pada bulan Desember 1935, di Surakarta diadakan kongres yang menghasilkan fusi antara Budi Utomo dengan PBI. Hasil fusi kedua organisasi iu dikenal dengan nama Partai Indonesia Raya (Parindra) yang diketuai oleh dr. Sutomo. Organisasi lainnya yang kemudian ikut bergabung antara lain Sarekat Celebes, Sarekat Sumatra, Sarekat Ambon, Perkumpulan Kaum Betawi, dan Tirtayasa. Dengan dibentuknya Parindra, persatuan golongan kooperatif semakin kuat. Setahun kemudian partai ini mempunyai anggota sebanyak 3.425 orang dan 57 cabang. 

Tujuan Parindra tidak jauh berbeda dengan organisasi pergerakan lainnya. Dalam kegiatan politiknya, Parindra bersifat kooperatif insidentil. Dengan demikian, jelaslah bahwa terbentuknya Parindra mempunyai peran strategis dalam pergerakan nasional untuk mencapai Indonesia merdeka sebagai berikut. 

1)Menyatukan gerak langkah dalam mencapai Indonesia merdeka dari organisasi-organisasi yang berfusi.

2) Menjadi teladan bagi organisasi-organisasi pergerakan nasional lainnya, bahwa mewujudkan persatuan dan kesatuan harus lebih bersikap nasional dengan tanpa membedakan faktor agama, kedaerahan, golongan, dan suku bangsa.

3) Parindra dalam tuntutannya kepada pemerintah kolonial menyampaikan Petisi Soetardjo yang menghendaki konferensi dua pihak untuk membahas pengakhiran kekuasaan Belanda di Indonesia dengan masa perahlian 10 tahun. Petisi itu akhirnya memang ditolak, tetapi merupakan manifesto politik dalam memperjuangkan kemerdekaan secara lebih nyata dan terbuka.

 4) Parindra telah tampil ke depan memelopori perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita Indonesia merdeka dengan menggunakan cara-cara politik dan diplomasi tanpa menimbulkan kekerasan dan pertumpahan darah seperti yang dilakukan PKI. 

5) Parindra dengan Petisi Soetardjo telah meng-goyahkan kedudukan pemerintah kolonial, sehingga kemudian keluarlah pernyataan pemerintah Belanda bahwa bangsa Indonesia kelak akan diberikan kemerdekaan. Janji yang diberikan ini walaupun samar dan tidak pasti, tetapi tentu saja memberikan dorongan dan keyakinan terhadap arah pergerakan nasional Indonesia. 


Selain perjuangan politik, Parindra juga aktif dan konsekuen memperjuangkan perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Upaya yang dilakukan Parinda untuk mencapai maksud tersebut. Di antaranya dengan mendirikan perkumpulan Rukun Tani, Rukun Pelayaran Indonesia, dan memelopori didirikannya Bank Indonesia. 

Dalam kongresnya yang pertama di Jakarta pada bulan Mei 1937, ditegaskan bahwa Parindra bersifat kooperatif. Sebagai ketuanya, dr. Sutomo digantikan oleh K.R.M.H Wuryaningrat. Sutomo sebagai Bapak Kebangkitan Nasional Indonesia, yang selama 30 tahun berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan, meninggal pada tanggal 30 Mei 1938. Perjuangannya dilanjutkan oleh anggota pengurus besar, seperti M. Husni Thamrin, Sukardjo Wiryopranoto, Ruslan Wongsokusumo, dan R.P. Suroso. Di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh tersebut, Parindra makin berkembang sebagai partai politik paling kuat saat itu.

Daftar Pustaka : YUDHISTIRA