Sejarah Perang Aceh 1873-1904

Saat Indonesia kembali dikuasai Belanda, terjalin persetujuan antara Inggris Ilan Belanda bahwa Belanda tidak dibesarkan mengganggu kedaulatan Aceh. Akan tetapi kesepakatan itu bersifat politis saja. Nyatanya, Belanda tetap mengincar Aceh. Niat itu terlihat dari tindakan Belanda menduduki wilayah-wilayah sekitar Aceh. Dorongan untuk menguasai Aceh semakin kuat sejak dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869. Lalu lintas pelayaran di Selat Malaka semakin ramai, sementara Aceh berperan sebagai pintu gerbang memasuki selat tersebut. 

Pada tanggal 2 November 1871, Inggris dan Belanda bersepakat menandatangani Traktat Sumatera. Berdasarkan perjanjian itu, Belanda beroleh kebebasan memperluas kekuasaannya di Sumatera, termasuk Aceh. Mengetahui perkembangan ini, Aceh mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan perang. Diadakanlah hubungan dengan negara lain untuk mencari bantuan. Dalam tempo singkat dikirimlah utusan ke Turki. Aceh juga mengadakan hubungan dengan konsul Italia dan Amerika Serikat di Singapura. Meskipun tidak berhasil, tindakan Aceh tersebut membangkitkan kekhawatiran pemerintah kolonial. Pada tanggal 22 Maret 1873, datanglah utusan Belanda menghadap Sultan Aceh. Utusan itu membawa surat yang isi nya mengejutkan, berupa ultimatum dari Komisaris Aceh, F.N. Nieuwenhuysen agar Aceh mengakui kedaulatan pemerintah kolonial Belanda atas Aceh. Ultimatum tersebut ditolak mentah-mentah. Maka, empat hari kemudian, pemerintah kolonial mengumumkan perang kepada Aceh. 

Perang Aceh berlangsung 31 tahun, antara 1873-1904. Belanda memang membutuhkan waktu lama untuk memadamkan perang itu, mengingat perang ini melibatkan seluruh rakyat Aceh. Semangat perjuangan rakyat Aceh itu diperkuat oleh penghayatan keagamaan. Perang melawan Belanda dianggap sebagai perang sabil sehingga rakyat bersedia bertempur sampai titik darah penghabisan. Gugur dalam perang sama artinya dengan mati syahid. Dukungan rakyat Aceh juga dikarenakan peranan para uleebalang (hulubalang) dan ulama. Kewibawaan mereka disambut loyalitas yang tinggi dari rakyat. 

Pada tahun 1873, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal J.H.R. Kohler mulai menggempur Aceh. Setelah membombardir Pantai Cermin, pasukan terus maju menyerang Masjid Raya Baitur rahman, pusat pertahanan laskar Aceh. Di tempat ini terjadi pertempuran sengit. Rakyat Aceh berupaya mati-matian mempertahankan masjid. Karena terus-menerus dihujam peluru api, inasjid megah itu pun terbakar. Laskar Aceh terpaksa mengundurkan diri. Pada tanggal 14 April 1873, masjid berhasil diduduki, namun Jenderal Kohler tewas tertembak saat sedang memeriksa keadaan masjid. 

Setelah jatuhnya masjid raya, pusat pertahanan laskar Aceh beralih ke istana Sultan Aceh di Kutaraja. Serangan Belanda pun diarahkan ke tempat ini. Pertempuran sengit segera meletus. Pertahanan Aceh begitu kuat, sehingga Belanda berkali-kali gagal menembus istana. Bahkan, laskar Aceh dapat memukul mundur pasukan Belanda sampai ke pantai. Masjid raya kembali dikuasai. Pada tanggal 19 April 1873, pasukan Belanda dipanggil pulang ke Batavia. Serangan pertama Belanda ke Aceh mengalami kegagalan. 

Menjelang akhir tahun 1873, sekitar 13 ribu pasukan Belanda kembali mendarat di pantai Aceh. Pimpinan pasukan kali ini dijabat oleh Letjen J. Van Swieten. Tugas yang dibebankan kepadanya adalah merebut istana Kutaraja. Pertempuran berkobar lebih hebat dari sebelumnya. Meskipun terus mengalir bantuan laskar dari para uleebalang, istana Kutaraja akhirnya dapat diduduki. Selanjutnya, istana ini menjadi pusat kedudukan Belanda dalam melancarkan serangan ke segenap penjuru Aceh. 

Dengan jatuhnya Kutaraja, Belanda mengira kekuatan Aceh telah hancur. Dugaan itu keliru! Semangat perlawan justru semakin meningkat. Para uleebalang, ulama, kepala adat, dan rakyat terus menyusun kekuatan serta meningkatkan serangan secara gerilya. Para tokoh yang berperan antara lain adalah Panglima Polem, Teuku Imam Leungbata, Teuku Ibrahim, dan Teuku Cik Ditiro.

 Pada tahun 1877, Belanda menyerbu dengan kekuatan penuh dari darat dan laut. Beberapa daerah berhasil dikuasai. Di tempat-tempat ini segera didirikan pos-pos militer yang berhubungan satu sama lain. Pembangunan pos-pos ini dimaksudkan untuk mempersempit ruang gerak laskar Aceh. Rupanya Belanda menggunakan siasat Benteng Stelsel untuk menguasai Aceh. Namun dengan cerdik, gerilya Aceh merusak jalan-jalan ataupun jembatan-jembatan penghubung. Setelah komunikasi antarpos diputuskan, serangan dilanjutkan menggempur tiap pos. Pertahanan Belanda amat menderita akibat serangan ini, apalagi semakin bertambah parah dengan berjangkitnya wabah kolera. 

Sebelumnya, penyakit kolera juga menyerang Sultan Aceh dalam pengasingan. Ia meninggal pada tahun 1874. Kedudukannya digantikan oleh puteranya Muhammad Daud Syah. Meskipun masih kecil, sultan baru ini menjadi lambang perlawanan rakyat Aceh.


Tidak efektifnya siasat Benteng Stelsel mendorong Belanda untuk mengubah siasat penyerangan. Siasat yang digunakan kali ini adalah Concentratie Stelsel. Menurut siasat ini, Kutaraja ditempatkan sebagai pusat pertahanan. Lalu kota ini dikelilingi setengah lingkaran oleh benteng-benteng berjarak 5-6 km dari kota. Antarbenteng dihubungkan dengan trem. Meskipun lebih hemat dan praktis, siasat ini malah memberi peluang laskar Aceh memperhebat serangan gerilya. 

Karena belum juga berhasil, Gubernur Jenderal Deykerhoff mengadakan pendekatan kepada para uleebalang. Pendekatan ini berhasil, antara lain terlihat dari membelotnya Teuku Umar. Karena keberhasilannya menguasai beberapa wilayah, Teuku Umar segera mendapat kepercayaan besar dari Deykerhoff. Ia beserta pasukannya mendapat peralatan perang yang cukup lengkap. Uleebalang ini bahkan diberi gelar Teuku Johan Pahlawan. Ternyata pembelotan Teuku Umar itu hanyalah siasat. Setelah bersenjata lengkap, ia kembali menyerang Belanda. Gempuran Aceh kali ini betul-betul mengejutkan Belanda. 

Atas anjuran seorang ahli agama Islam, Dr. Snouck Hugronje, Belanda memusatkan serangan pada kedudukan pemimpin perlawanan. Selain itu, Belanda juga mengikat hubungan dengan para bangsawan ataupun uleebalang, dengan janji memasukkan anggota keluarga mereka menjadi pamong praja dalam pemerintah kolonial. Siasat Belanda kali ini dimaksudkan untuk memecah belah uleebalang dengan kaum ulama. Lalu untuk mengefektifkan serangan, Gubernur Militer Aceh, Jenderal Van Heutz membentuk Korps Marechausse, yakni pasukan beranggotakan orang Indonesia yang dipimpin oleh perwira Belanda yang pandai berbahasa Aceh. 

Sejak bulan Mei 1898, serangan demi serangan pasukan Belanda semakin gencar dilancarkan. Beberapa ulama dan uleebalang terpaksa menyerah. Teuku Umar menyingkir ke Aceh Timur, sementara Panglima Polem menyingkir ke Aceh Barat. Walaupun terdesak, laskar Aceh belum mau menyerah. Pertahanan Aceh dipusatkan di daerah Gayo. Van Heutz pun lalu memusatkan serangan ke kawasan itu. Setahun berikutnya, dalam suatu pertempuran yang sengit di sekitar Meulaboh, Teuku Umar gugur. Satu demi satu uleebalang menyerah. Daerah demi daerah jatuh ke tangan musuh. 

Dua tahun kemudian, serangan Belanda ditujukan untuk mengejar rombongan Sultan Aceh. Dikawatirkan, sultan yang sudah beranjak dewasa ini akan dapat menggalang kekuatan baru. Pada tanggal 26 November 1902, persembunyian pemimpin Aceh itu disergap, sehingga sultan bersama beberapa pengikutnya dapat ditawan. Setahun berikutnya, Panglima Polem menyerah, disusul tertangkapnya Cut Nya Din, pejuang wanita yang sangat berpengaruh. Perang Aceh yang dahsyat itu pun berakhir.

Pada tahun 1904,Van Heutz mengeluarkan plakat pendek yang harus ditandatangani oleh seluruh kepala daerah di aceh.plakat tersebut menyatakan kesediaan rakyat Aceh untuk mengakui kekuasaan Belanda,serta patuh kepada aturan yang di tetapkan pemerintah colonial.

Daftar Pustaka : ERLANGGA