Sejarah Perkembangan Muka Bumi

1. Teori Apung Benua (Continental Drift) 
Pada awal tahun 1912-an, Alfred.L.Wegener seorang ahli klimatologi dan geofisika menerbitkan buku yang berjudul "The Origin of Continent and Oceans" dalam buku tersebut ia mengajukan sebuah ide tentang "teori apung benua". Idenya berpusat pada benua-benua yang bergerak melintasi permukaan bumi. Menurut Wagener, benua terdiri atas batuan sial yang terapung pada batuan sima yang lebih besar berat jenisnya. Benua-benua itu bergerak menuju khatulistiwa dan ke bagian barat. Pada zaman Karbon, kemungkinan besar hanya ada satu benua yaitu pangaea. Lebih kurang 200 juta tahun yang lalu, terbentuk daratan gondwana dan lauratia yang merupakan pecahan dari pangaea, dan seterusnya. Bersama teman-temannya, ia mengumpulkan bukti atas teorinya, di antaranya adalah adanya kesesuaian antara Amerika Selatan dan Afrika, baik dari segi paleoldimatik, fosil, maupun struktur batuan yang kesemuanya menunjukkan bahwa kedua benua tersebut pernah menjadi satu.

Menurut para ahli, teori inilah yang mendasari pembentukan lempeng-lempeng bumi, yang masih terus bergerak dan memicu gempa di berbagai wilayah. Termasuk gempa-gempa yang terjadi di Indonesia. 

2. Teori Tektonik Lempeng 
Beberapa tahun setelah Wegener mengajukan teorinya, pada tahun 1968 dikemukakan sebuah teori yang lebih memuaskan daripada teori pengapungan kontinen. Teori ini kemudian dinamakan teori tektonik lempeng. Teori ini menyatakan bahwa bagian luar dari bumi yaitu pada bagian Litosfer, terdapat sekitar 20 segmen yang padat yaitu lempeng. Dari semua itu, lempeng terbesar adalah Lempeng Pasifik yang menempati sebagian besar lautan. Semua lempeng besar lainnya dapat berupa kerak-kerak benua maupun kerak samudera. Sedangkan lempeng-lempeng yang lebih kecil, umumnya hanya sebagai kerak samudera. Contoh-nya, Lempeng Nazcak di lepas pantai barat Amerika Selatan. 

Litosfer terletak di atas zona atau material yang lebih lemah dan lebih panas atau yang disebut astenosfer. Salah satu prinsip utama dari teori tektonik lempeng bahwa setiap lempeng bergerak-gerak sebagai satu unit terhadap unit lain. Ada tiga tipe batas-batas lempeng yang masing-masing dibedakan dari jenis pergerakannya, yaitu: 

a. Divergen
Lempeng-lempeng begerak saling menjauh yang menyebab-kan naiknya material dari mantel bumi dan membentuk lantai samudera yang luas. 

b. Konvergen
Lempeng-lempeng bergerak saling mendekati yang menyebabkan salah satu dari lempeng tersebut masuk ke dalam mantel bumi dan berada di bawah lempeng lainnya. 

c. Patahan transform. Lempeng-lempeng bergerak saling bergesekan tanpa menyebabkan penghancuran pada litosfer. 

Bumi memiliki beberapa lapisan atau bagian. Lapisan fisis pertama yang paling dalam adalah mesosfer. Lapisan ini cukup tebal, pejal, dan berada di kedalaman lebih dari 500 km. Lapisan inilah yang mengurung inti bumi (inner core) dan selubungnya (outer core). Inner core berbentuk seperti bola padat, kira-kira terpusat pada kedalaman 5.150 km. Sementara di atasnya (diapit mesosfer) terletak outer core yang cair. 

Di atas mesosfer terdapat lapisan astenosfer, yaitu lapisan yang terletak pada kedalaman 100 — 300 km. Lapisan ini lebih cair dan bersifat seperti fluida. Lapisan ini terus bergerak sepanjang waktu akibat tekanan dari dua lapisan yang mengapitnya. Lapisan ini merupakan asal dari magma gunung api.

Bagan lapisan bumi 
• Menurut komposisi fisik, terdiri dari: inner core (padat), outer core (cair), mesosfer (padat), astenosfer (fluida), dan litosfer (keras).
• Menurut komposisi kimia, terdiri dari: core (besi), mantel (silikat), dan kerak (silikat). 

Di atas astenosfer selanjutnya ada litosfer, lapisan fisis terluar bumi yang memiliki kete-balan sekitar 100 km. Di lapisan ini terhampar kerak bumi yang keras, relatif dingin, dan mampu menahan beban. Di lapisan terluar inilah terletak lempeng-lempeng bumi, yang di atasnya terhampar benua, pulau, gunung, dan lain sebagainya. Kerak lautan (oceanic crust) memiliki ketebalan sekitar 6 km, sementara kerak benua (continental crust) dengan pegunungan yang mencapai ketebalan hingga 64 km.

Permukaan bumi diperkirakan tersusun dari 12 lempeng yang terbagi atas lempeng besar dan lempeng kecil, dengan ketebalan antara 70-100 km. Lempeng-lempeng ini senantiasa berkembang, luruh, dan bergerak karena berada di atas lapisan astenosfer yang cair dan amat panas.


Tujuh di antara lempeng-lempeng di permukaan bumi dikategorikan sebagai lempeng besar/utama atau lempeng yang digolongkan sebagai lempeng utama penyusun litosfer, yaitu: 
1. Lempeng Afrika. 
2. Lempeng Amerika Utara. 
3. Lempeng Amerika Selatan. 
4. Lempeng Pasifik. 
5. Lempeng Aurasia. 
6. Lempeng Indo-Australia. 
7. Lempeng Antartika. 

Lempeng-lempeng yang berukuran lebih kecil antara lain Lempeng Filipina, Lempeng Adriatik, Lempeng Iran, dan Lempeng Hellenik. 

Kerak bumi yang terbagi menjadi lempengan-lempengan tersebut mengalami pergerakan secara perlahan ke arah permukaan bumi. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut tidak selalu sama arah pergerakannya, yakni ada lempeng-lempeng yang bergerak saling menjauh,saling mendekat, dan saling bergeser mendatar (saling berpapasan). Pergerakan lempeng pada lapisan kerak bumi yang tidak kaku dapat membentuk lipatan sedangkan pada lapisan kerak bumi yang kaku akan membentuk patahan.

Di antara benua Antartika dan Australia terjadi pelebaran pematang samudera sebesar 6 - 7,5 cm/tahun yang kemudian menyebabkan lempeng India-Australia terdorong dan mengalami penunjaman. Kemudian, lempeng India-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia sehingga lempeng India-Australia terdesak ke dalam bumi (di bawah Kepulauan Indonesia). Oleh karena suhu yang tinggi, pinggiran lempeng menjadi leleh dan menghasilkan magma. Magma tersebut kemudian muncul melalui retakan-retakan di permukaan bumi dan membentuk gunung-gunung api. Peristiwa tersebut membentuk busur gunung api di Indonesia. Oleh sebab itu, di Indonesia sering terjadi gempa bumi. 

Di Indonesia, terdapat hiposentrum (pusat gempa di dalam bumi) yang dalamnya lebih dari 500 km, yakni di bawah Laut Flores (dengan kedalaman ±720 km). Di Indonesia, episentrum (pusat gempa di permukaan bumi yang berada tepat di atas hiposentrum) banyak terdapat di bawah permukaan laut. Gempa bumi yang berepisentrum di bawah permukaan laut dapat mengakibatkan tsunami (gelombang besar).

Daftar Pustaka : PT.PHIBETA ANEKA GAMA