Sejarah Perlawanan Perang Aceh

• Perang Aceh memakan waktu 31 tahun karena didukung secara fanatik oleh seluruh rakyat Aceh. Perang bukan hanya dihayati sebagai membela kerajaan, tetapi juga membela agama.

• Pada tanggal 14 April 1873, pusat pertahanan Aceh di Masjid Raya Baiturrahman dapat direbut Belanda. Pasukan Aceh mundur dan memindahkan pusat kekuasaan ke istana Sultan Aceh di Kutaraja. Lima hari kemudian, pasukan Aceh dapat menahan serangan pasukan Belanda ke Kutaraja. Bahkan, kemudian Belanda dapat dipukul mundur sehingga Masjid Raya Baiturrahman dapat dikuasai kembali. 

• Menjelang akhir tahun 1877, pasukan Belanda dapat merebut istana Kutaraja. Untuk selanjutnya, istana itu menjadi basis militer Belanda untuk melancarkan serangan ke penjuru Aceh. Sementara itu, perlawanan rakyat Aceh secara bergerilya semakin berkobar. 

• Sampai tahun 1877, strategi Benteng-stelsel tidak berhasil memukul Aceh. Kemudian, Belanda beralih pada strategi Concentratie-stelsel. Strategi itu juga gagal. 

• Atas anjuran seorang pakar agama Islam dan masyarakat Aceh, Dr. Snouck Hugronje, Belanda berupaya memecah belah kalangan ulama dan uleebalang (bangsawan). Caranya, pemerintah kolonial menjanjikan jabatan pamong praja kepada keluarga uleebalang. Atas sarannya juga, Gubernur Militer Aceh, Jenderal van Heutz, membentuk Korps Marechaussee, yakni pasukan beranggota prajurit Indonesia dengan perwira Belanda yang mahir berbahasa Aceh. 

• Sejak tahun 1898, kedudukan Aceh semakin terdesak. Berturut-turut, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh, Sultan Aceh dapat ditawan, Panglima Polim menyerah, dan Cut Nyak Dien tertangkap. Penangkapan panglima wanita itu menandai berakhirnya Perang Aceh.


Daftar Pustaka : Erlangga