Sejarah Perlawanan Perang Jagaraga (1849-1906)

Latar Belakang 

• Pemerintah kolonial dan para penguasa Bali bersengketa mengenai hak tawan karang (hak raja Bali menguasai kapal yang kandas di wilayah perairannya). Sebelumnya kedua belah pihak bersepakat, penguasa Bali tidak menggunakan hak itu apabila pemerintah membayar setiap kapal Belanda yang kandas di perairan Bali. Karena pemerintah kolonial melanggar kesepakatan itu, para penguasa Bali kembali memberlakukan hak mereka.

• Pemerintah kolonial memprotes raja Buleleng atas pemilikan kapal Belanda yang kandas di wilayah perairannya. Raja Buleleng tidak menghiraukan protes itu. Insiden tersebut meletupkan Perang Jagaraga yang mulai 2 tahun kemudian. 

Tokoh Perlawanan 

• Raja Buleleng 

• Gusti Gde Jelantik, Patih Buleleng 

• Raja Karangasem 


Proses Perlawanan

• Pada tahun 1846, pasukan Belanda menyerbu Buleleng. Walaupun dibantu Karangasem, istana Buleleng dapat diduduki. Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga. 

• Pemerintah kolonial memaksakan perjanjian dengan Buleleng dan Karangasem untuk mengakui kekuasaan Belanda dan penghapusan hak tawan karang. Karena perjanjian itu tidak dihiraukan, pasukan Belanda menyerbu Benteng Jagaraga. Namun, serangan itu dapat digagalkan. 

• Pada tahun 1849, Belanda melancarkan ekspedisi militer yang lebih besar di bawah pimpinan Jenderal Michiels. Setelah Jagaraga dapat direbut, serangan diarahkan ke Klungkung, Karangasem, dan Gianyar. 

• Semangat puputan rakyat Bali (bertempur habis-habisan sampai mati) mempersulit gerak pasukan Belanda. Baru pada tahun 1906, pemerintah kolonial dapat menegakkan kekuasaannya di Bali.

Daftar Pustaka : Erlangga