Sejarah Perlawanan Perang Padri (1821-1837)

Latar Belakang 

• Pada awal abad ke-19 M, muncul gerakan Wahabiah di Sumatera Barat yang bertujuan memurnikan kehidupan Islam. Kelompok pendukung gerakan tersebut dikenal sebagai Kaum Padri. 

• Gerakan Kaum Padri mendapat tentangan dari kelompok panghulu yang menganggap dirinya turunan raja-raja Minangkabau. Karena cenderung mempertahankan adat, kelompok itu dikenal sebagai Kaum Adat. 

• Pemerintah kolonial berpihak pada Kaum Adat. Pada tanggal 10 Februari 1821, diadakan perjanjian antara Residen de Puy dan Tuanku Suruaso beserta 14 panghulu adat.

• Berdasarkan perjanjian itu, pasukan Belanda menduduki beberapa daerah di Sumatera Barat. Peristiwa itu menandai mulainya Perang Padri. 

Tokoh Perlawanan

• Muhammad Syahab atau Peto (Pendito) Syarif, yang terkenal sebagai Tuanku Imam Bonjol. 

• Tuanku nan Cerdik

• Tuanku Tambusai 

• Tuanku nan Alahan 

Proses Perlawanan 

• Perang Padri terdiri atas dua bagian. Perang Padri bagian pertama terjadi antara tahun 1821-1825. Perang Padri bagian kedua terjadi antara tahun 1830-1837. 

• Perang Padri bagian pertama ditandai serangan Kaum Padri ke pos-pos Belanda di Sumawang, Sulit Air, Enam Kota, Rau, dan Tanjung Alam. Kekuatan pasukan Padri berpusat di Bonjol dan Alam Panjang. 

• Pada tanggal 22 Januari 1824, disepakati perjanjian perdamaian di Bonjol. Namun, karena pelanggaran oleh pasukan Belanda, muncul perlawanan lebih dahsyat dari Kaum Padri. 

• Pada tangga115 November 1825, disepakati perjanjian perdamaian di Padang. Tawaran perdamaian dari Belanda lebih disebabkan oleh harus ditariknya pasukan Belanda ke Jawa untuk menghadapi perlawanan Diponegoro. Peristiwa perdamaian di Padang itu menandai akhir Perang Padri bagian pertama. 

• Seusai Perang Diponegoro, pasukan Belanda mendirikan pos di wilayah kekuasaan Kaum Padri. Peristiwa itu mengawali Perang Padri bagian kedua. Pasukan Belanda diperkuat pasukan dari Jawa pimpinan Sentot Ali Basyah Prawirodirjo. Pada tanggal 21 September 1837, benteng Bonjol jatuh. Meskipun Tuanku Imam Bonjol telah ditangkap lalu diasingkan, perlawanan masih berlanjut di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, Tuanku nan Cerdik, dan Tuanku nan Alahan. Perang Padri sama sekali berakhir setelah Tuanku nan Alahan menyerah.


Daftar Pustaka : Erlangga