Sejarah Revolusi Amerika

Latar Belakang

Revolusi Amerika menunjukan pada peristiwa lahirnya Negara Amerika Serikat atau The United States of America. peristiwa ini tidak muncul dalam sejarah begitu saja.Lahirnya Amerika Serikat didahului oleh berbagai peristiwa besar di benua Amerika yang terjadi sejak abad 15.

Penjelajahan ke Benua Amerika 

Christophorus Colombus menemukan Benua Amerika pada tanggal 12 Oktober 1492. Perlu dicatat, kesepakatan Colombus sebagai penemu Benua Amerika ditinjau dari konteks peradaban barat atau Eropa (western civilization). Mengapa demikian? Benua Amerika ini bukanlah daratan yang sama sekali baru. Wilayah ini sudah dihuni sejak zaman prasejarah. Lagi pula, jauh sebelum perjalanan Colombus, telah terjadi migrasi besar dari Daratan Asia ke Amerika melalui Celah Berring. Dengan demikian, sejarah penemuan Benua Amerika perlu kita pahami dalam wawasan sejarah Eropa.

Colombus adalah seorang pelaut asal Genoa, Italia yang bekerja pada pemerintah Kerajaan Spanyol. Dengan dukungan sponsor Pangeran Ferdinand dan Ratu Isabella, ekspedisi Colombus berangkat dengan menggunakan tiga buah kapal, yakni Santa Maria, Nina, dan Pinta. Tujuan ekspedisi tersebut adalah menemukan jalan menuju Asia ke arah Barat, yakni dengan mengarungi Samudera Atlantik. Colombus sama sekali tidak mengira bahwa ia dan rombongannya akan tiba di suatu daratan luas yang selama ini belum masuk dalam peta dunia yang ada ketika itu. 

Pada tahun 1492, Colombus beserta armada lautnya tiba di kepulauan di Laut Karibia, yang sekarang bernama Bahama, Kuba, Haiti, Dominika, dan Puerto Rico. Ia menyangka bahwa rombongannya telah sampai di Asia. Itulah sebabnya, ia mengira Kuba sebagai Cina. Salah sangka itu pula yang menyebabkannya menyebut penduduk asli dari Suku Arawak sebagai penduduk India sehingga ia namakan orang-orang Indian.

Keberhasilan ekspedisi Colombus mencengangkan dunia dan masyarakat Eropa ketika itu. Untuk beberapa lama, masyarakat Eropa percaya bahwa Colombus memang telah sampai ke Asia melalui Samudera Atlantik. Pada awal abad 16, barulah kekeliruan ini dijernihkan oleh seorang navigator dan pedagang Florence, Italia. Tokoh yang dimaksud adalah Amerigo Vespucci. Antara tahun 1499-1503, ia mengadakan beberapa kali ekspedisi ke tempat yang pernah dikunjungi Colombus beserta beberapa tempat lain di sekitarnya. Pengalaman perjalanannya itu dituangkan ke dalam surat-surat. Suratnya tersebut bukanlah merupakan suatu kisah melainkan lebih merupakan laporan rinci mengenai keadaan geografis tempat-tempat yang dikunjungi. Laporannya inilah yang menyadarkan Eropa bahwa tempat yang dikunjungi Colombus bukanlah Asia melainkan suatu benua baru. 

Seorang pakar Geografi Jerman, Martin Waldsemuller, mengusulkan untuk pengabadikan nama Amerigo Vespucci pada benua baru itu. Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa nama ilmiah menggunakan bahasa Latin. Dalam bahasa Latin, nama Amerigo adalah Americus atau America. Sejak saat itulah, benua baru tersebut bernama America sampai sekarang. 

Keberhasilan ekspedisi Colombus mengundang arus-arus ekspedisi lainnya ke Amerika. Umumnya, arus ekspedisi ke Amerika Tengah dan Selatan didominasi oleh penjelajah Spanyol dan Portugis. Sedangkan arus ekspedisi ke Amerika Utara umumnya lebih banyak berasal dari Inggris, Perancis, dan Belanda. 

Pada tahun 1497, suatu ekspedisi yang dipimpin oleh John Cabot berangkat dari Inggris ke Amerika. Ekspedisi ini disponsori oleh Raja Henry VII, dengan satu kapal bernama St. Matthew serta 18 awak kapal. Rombongan sampai di Newfoundland, di pantai Timur Kanada sekarang. 

Perancis pun tidak mau ketinggalan. Pada tanggal 20 April 1534, suatu ekspedisi yang dipimpin oleh Jacques Cartier berangkat dari Saint Malo, Perancis. Pada bulan September di tahun yang sama, rombongan menyusuri Sungai St. Lawrence sampai tempat yang sekarang bernama Quebec dan Montreal. Rombongan ini bahkan membina hubungan baik dengan penduduk asli setempat dari suku Ironquis. Dari suku inilah Cartier dan rombongannya beroleh informasi mengenai daratan di sebelah barat (sekarang bernama Ontario) yang kaya akan kandungan emas, perak, dan tembaga. 

Pelaku ekspedisi berikutnya adalah Henry Hudson. Antara tahun 1607 -1611, navigator Inggris ini empat kali melakukan ekspedisi ke Amerika Utara. Dua ekspedisi pertama disponsori oleh Belanda, sedangkan ekspedisi sisanya dibiayai oleh Inggris. Salah satu pengalaman termasyurnya adalah perjalanan menyusuri teluk besar di pantai timur Kanada. Teluk ini sekarang bernama Teluk Hudson.

Kolonisasi di Amerika Utara 

Kongsi-kongsi dagang Inggris memegang peranan penting dalam kolonisasi di Amerika Utara. Laporan-laporan dari penjelajahan demi penjelajahan yang dilakukan ke Amerika lambat laun menggugah minat untuk mendirikan pemukiman di benua baru tersebut. Minat itu didukung oleh keadaan geografis Amerika yang kaya akan sumber daya alam. Sebetulnya Colombus pun sudah merintis kolonisasi itu. Dalam ekspedisi keduanya (1493), ia mendirikan perkampungan di Hispaniola, yang sekarang terletak di Haiti. Akan tetapi, karena ada pembangkangan di kalangan para awak kapal, perkampungan itu menjadi terbengkalai begitu saja. 

Upaya kolonisasi di Amerika Utara sudah dimulai sejak ekspedisi Jaqcues Cartier. Pada tahun 1541, ia mendirikan perkampungan di Quebec, dekat perkemahan suku Ironquis. Tidak lama kemudian, stabilitas di perkampungan ini tidak dapat dipertahankan lagi. Penyebabnya adalah tindakan tanpa disiplin anak buah Cartier sehingga menimbulkan sikap bermusuhan dari suku Ironquis. Kejadian yang hampir sama menimpa juga koloni Roanoke yang dirintis oleh Sir Walter Raleigh. Pada tahun 1587, koloni tersebut hancur secara misterius. 

Gagalnya upaya mendirikan koloni tersebut menimbulkan keraguan apakah Amerika memang layak untuk ditempati. Di tengah keraguan ini, tampillah beberapa kongsi dagang di Inggris yang beritikad mempelopori kolonisasi di Amerika. Kayanya sumber daya di Amerika Utara meyakinkan mereka bahwa wilayah itu baik untuk investasi. Mereka lalu melakukan upaya propaganda tertentu untuk mengajak orang Inggris, agar mau menetap di Amerika. Parlemen Inggris memberi hak penuh kepada kongsi dagang yang berniat menanamkan investasi di Amerika Utara, sekaligus mendirikan kolonisasi di sana. Selain itu, kongsi dagang bersangkutan diperbolehkan menata koloni sesuai dengan aturannya sendiri, antara lain membuat hukum, mengadakan perjanjian dengan penduduk asli setempat, atau bahkan menunjuk pimpinan pemerintahan (gubernur). Pemberian hak istimewa ini diimbangi dengan keharusan membayar pajak penghasilan kwada pemerintah.


Kolonisasi di Amerika Utara bermula di pantai sebelah timur. Berikut ini kita akan membicarakan lika-liku berdirinya beberapa koloni di Amerika Utara. 

a. Virginia 
Pada tahun 1607, sebuah kongsi dagang dari London bernama Virginia Company mendirikan koloni di Jamestown. Nama tempat ini mengambil nama Raja Inggris James II. Koloni ini mengawali berkembangnya koloni yang lebih besar, yakni Virginia. Nama ini dipilih sebagai penghormatan terhadap Ratu Elisabeth I, yang dijuluki The Virgin Queen. Karena cocok untuk lahan tembakau, pendapatan Virgina Company terus meningkat, sehingga koloni itu pun berkembang cepat dalam tempo singkat. 

Perkembangan koloni yang cepat sudah tentu perlu diimbangi oleh penataan masyarakat. Penerapan hukum dan moral di Virginia dirintis oleh Sir Thomas Dale. Gubernur ini malahan cenderung memberlakukan aturan ala militer. Tanpa pandang bulu, siapapun yang melanggar hukum akan dikenai sanksi amat berat. Bagaimanapun juga, Thomas Dale membawa keteraturan sosial di Virginia, sehingga mengundang lebih banyak pendatang baru. 

Gubernur Virginia berikutnya, Sir George Yeardley, membangun pemerintahan dengan mendirikan dewan perwakilan yang bernama House of Burgesses. Dengan adanya dewan tersebut, masyarakat Virginia dapat mengatur pemerintahannya sendiri secara otonom, meskipun tetap merupakan daerah jajahan Inggris. House Burgesses inilah yang nantinya berperan banyak dalam mempelopori pendirian dewan pemerintahan saat Amerika Serikat telah merdeka. 

Antara tahun 1619-1624, Virginia dilanda musibah, antara lain bangkrutnya Virginia Company, epidemi, serangan Indian, dan kemelut sosial akibat. Protes atas pemberlakuan pajak. Keadaan yang semakin sulit dikendalikan ini mendorong pemerintah Inggris mengambil alih Virginia pada tahun 1624. Sejak tahun itu, Virginia langsung di bawah kuasa Kerajaan Inggris. 

b. Maryland 
Koloni yang terletak di sebelah utara Virginia ini didirikan pada tahun 1632. Pendirinya adalah perusahaan perseorangan yang dipimpin oleh Lord Baltimore. Nama koloni tersebut diambil dari nama Ratu Perancis Herientta Maria, kawan karib Raja Inggris Charles I. Seperti halnya Virginia, koloni ini berkembang cepat, karena berhasilnya upaya lahan tembakau dan jagung. Kemakmuran ini membuat Maryland dapat mendirikan pemerintahan otonom sejak awal berdirinya. 

Karena didirikan oleh perusahaan perseorangan, keluarga Baltimore menduduki posisi menentukan dalam pemerintahan Maryland. Kedudukan itu berakhir sejak tahun 1715, saat terjadi pergantian puncak pemerintahan di tahta Kerajaan Inggris. Sejak tahun itu, pemerintahan Maryland ditangani langsung pemerintah Inggris, meskipun keluarga Baltimore tetap memiliki hak-hak istimewa tertentu dalam pemerintahan. 

c. New England 
Koloni ini terletak di sepanjang pantai timur Amerika Utara, antara Quebec dengan Maryland. Koloni tersebut bermula dari koloni kecil di Plymouth, yang didirikan oleh kelompok Pilgrims, di bawah pimpinan William Bradford. Sebagian besar anggota Pilgrims adalah pelarian Gereja Anglikan Inggris. Karena tekanan politik dan agama, mereka bermaksud menyingkir dari Inggris. Atas dukungan beberapa pedagang besar London, kelompok inipun dapat mendirikan koloni di sebelah utara Maryland pada tahun 1620. 

Di bawah pimpinan Bradford, koloni Plymouth dapat membangun ekonominya meskipun amat lambat Andalan utamanya adalah perkebunan. Namun perkembangan politis di koloni ini amatlah mencolok dibandfrigkan koloni lainnya. Sebelum koloni didirikan, telah terjadi kesepakatan bulat di antara para anggota Pilgrims untuk taat kepada hukum dan segala aturan yang ditetapkan bersama. Lagipula, pada masa awal koloni kelompok tersebut berhasil mengadakan perjanjian damai dengan suku Indian di sekitarnya. Keadaan ini membuat kondisi politik di koloni tersebut relatif stabil. 

Sejak tahun 1691, kolonisasi yang dirintis oleh Pilgrims diteruskan oleh suatu kongsi dagang bernama Massachusets Bay Company. Kongsi inilah yang meluaskan koloni Plymouth menjadi koloni New England. Nama koloni ini dipilih Kapten John Smith sebagai penghormatan kepada Dewan New England di Inggris yang mengijinkan kongsi dagang tersebut menanamkan usahanya di Amerika Utara. Wilayah New England ini sekarang meliputi negara bagian Connecticut, Massachusets, Rhode Island, New Hampshire, Vermont, dan Maine. 

Di tengah perkembangan koloni yang pesat itu, orang-orang Plymouth menduduki posisi vokal dalam kehidupan sosial. Merekalah yang menentukan ciri kehidupan politik New England. Stabilitas politik yang telah tercipta sejak awal, membuat pemerintahan mereka berciri otonom, bahkan amat otonom. Artinya, mereka tidak mau begitu saja dicampuri oleh pemerintah Inggris. Itulah sebabnya, koloni ini nantinya menjadi pusat kegiatan perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat. 

d. New York dan sekitarnya 
Berbeda dengan koloni lainnya, koloni ini dirintis oleh suatu kongsi dagang Belanda bernama Albania pada tahun 1624. Kongsi ini membeli sebidang tanah luas di sebelah timur New England dari penduduk Indian setempat untuk dijadikan lahan usaha sekaligus koloni. Wilayah tersebut kemudian mereka namakan Nieuw Amsterdam. Pada tahun 1664, koloni tersebut diambil alih oleh Inggris. Namanya diganti menjadi New York, sebagai tanda bahwa koloni tersebut berada di bawah Duke of York. Dengan demikian, status New York pada awalnya merupakan bagian dari wilayah York di Inggris. 

Pada tahun 1685 Duke of York naik tahta menjadi Raja Inggris dengan gelar James II. Kondisi ini turut mengubah status New York naik menjadi bagian dari kerajaan. Kenaikan status tersebut diiringi oleh penyebaran koloni sampai ke Pennsylvania dan New Jersey. 

Perintis koloni di Pennsylvania adalah William Penn. Ia adalah seorang penganut Quaker (salah satu sekte Kristen Protestan) yang beraliran liberal. Ia amat menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan perdamaian. Kepribadiannya itu membuat kebijakan di koloni yang didirikannya itu pun berciri liberal. Itulah sebabnya, Pennsylvania menjadi koloni yang cepat makmur, sekaligus rukun dan dinamis dibandingkan dengan koloni lainnya di Amerika Utara. Dengan ciri liberalnya, Pennsylvania turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat. 

Singkatnya, antara tahun 1600-1750 terbentuklah 13 koloni di sepanjang pantai timur Amerika Utara. Koloni-koloni itu adalah New Hampshire, Massachusets, Rhode Island, Connecticut, New York, New Jersey, Pennsylvania, Delaware, Maryland, Virginia, North Carolina, South Carolina, dan Georgia. Ketiga belas koloni inilah yang di kemudian hari menjadi inti negara Amerika Serikat. Penghormatan terhadap perjuangan 13 koloni ini terungkap pada 13 garis dalam bendera Amerika Serikat. Kalau kita telaah bahasan kita mengenai perkembangan kolonisasi Amerika Utara di atas, tampaklah bahwa motif kolonisasi pertama-tama berciri komersial. Amerika Utara amat baik sebagai lahan investasi. Itulah sebabnya, kongsi dagang banyak berperanan di situ. Selain itu, kolonisasi Amerika Utara ternyata punya juga motif politis. Bagi Inggris, kolonisasi di Amerika Utara amat perlu untuk membendung arus ekspansi (perluasan wilayah jajahan) Perancis dari Utara, serta Spanyol dan Portugis dari Selatan. Itulah sebabnya itikad kongsi dagang Inggris untuk menanamkan usaha di Amerika Utara didukung penuh oleh pemerintah. 

Pada awalnya arus kolonisasi berasal dari Inggris. Pada akhir abad 17, mengalirlah imigrasi besar-besaran dari Eropa Daratan, Skotlandia, dan Irlandia. Para imigran kebanyakan adalah pelarian, yang menghindari tekanan entah politis ataupun agama di negara asalnya. Mereka mendambakan kebebasan dan pengakuan di tempat yang baru. Para imigran ini menjalin asimilasi dengan penduduk asal Inggris yang telah lebih dulu ada. Alcibatnya, lambat laun terbentuklah cara hidup dan budaya khas Amerika, yang berbeda dengan Inggris ataupun negara asal lainnya. Kondisi ini pada gilirannya turut menentukan keinginan masyarakat Amerika Utara untuk berdiri sendiri, lepas dari Inggris.

Daftar Pustaka : ERLANGGA