Sejarah Singkat Kerajaan Aceh

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, kota itu pun segera mengalami kemunduran. Kota Malaka yang tadinya aman bagi para pedagang tidak lagi membawa rasa tenteram karena mulai timbul peperangan-peperangan. Selain itu, pedagang-pedagang Islam juga tidak ingin berdagang dengan pihak Portugis yang dianggap licik. Mereka menyingkir ke daerah-daerah lain terutama Aceh. Aceh dalam waktu relatif singkat berkembang sebagai pusat perdagangan. Bahkan Aceh berubah sebagai kerajaan besar. Pusat Kerajaan Aceh terletak di daerah Kabupaten Aceh Besar (sekarang). Dalam bahasa Aceh disebut Aceh Rayeuk, Aceh Lhee Sago, atau sering disebut Aceh Dar-as Salam. 

Struktur sosial masyarakat Aceh setelah daerah itu menjadi kerajaan Islam, terdiri dari kesatuan-kesatuan teritorial terkecil hingga terbesar yaitu Gampong atau Desa, Mukim (kumpulan desa-desa), Daerah Ulee Balang (Distrik), Sagoe (kumpulan beberapa Mukim), Nangroe (kumpulan dari sejumlah besar Mukim), dan Daerah Sultan. Karena perekonomian Aceh yang berkembang cepat, lambat laun timbul golongan feodal dalam masyarakat Aceh yang disebut Teuku. Mereka biasanya berpengaruh terhadap jalannya pemerintahan. Golongan lainnya, yaitu Tengku, adalah golongan ulama. Sultan Isklandar Muda, yang disebut Tengku Marhum Mahkota Alam dikenal sebagai sultan terbesar Kerajaan Aceh. Pada masa pemerintahannva secara berturut-turut ia menaklukkan Deli (1612), Johor (1613), Bintan (1614), Pahang (1618), Kedah (1619), dan Nias (1625). 

Sama halnya dengan sultan-sultan Aceh terdahulu, Iskandar Muda juga berusaha keras mengusir Portugis dari Malaka, tetapi tidak berhasil. Walaupun demikian, ia berhasil menanamkan hegemoni politik Kerajaan Aceh atas daerah-daerah Pedir, Pasai, Deli, Aru, Daya, Labo, Singkel, Batak, Pasaman, Tiku, Pariaman, dan Padang. Selain itu, vasal-vasalnya di Semenanjung Malaya meliputi Johor, Kedah, Pahang, dan Perlak.

Sejak tahun 1699-1838, Aceh diperintah secara bergantian oleh sebelas orang sultan. Dari kesebelas orang sultan itu, tiga orang keturunan Arab (1699-1726), dua orang bangsa Melayu (1726), dan enam orang asal Bugis (1726-1838). Sultan Aceh terakhir adalah Ibrahim yang bergelar Sultan Ali Alauddin Shah (1838-1879). Dalam masa pemerintahannya, ia tidak hanya mendapat tantangan dari para elit politik, tetapi juga ancaman dari pihak Belanda. Dalam perkembangan selanjutnya, Aceh berhasil dikuasai Belanda sejak tahun 1873-1912. 

Setelah berubah menjadi pusat perdagangan dan pusat pengembangan agama Islam, lambat-laun masyarakat Aceh didominasi oleh tradisi dan budaya Islam. Kerja samanya dengan Turki, Mesir, Arab, dan Persia memberi peluang besar bagi masuknya tradisi Islam dari negara-negara itu. Banyak ulama dan pujangga yang datang ke Aceh untuk mengajarkan pengetahuan tentang agama dan budaya Islam, serta menuliskan berbagai kitab tentang agama itu. 

secara berturut-turut ia menaklukkan Deli (1612), Johor (1613), Bintan (1614), Pahang (1618), Kedah (1619), dan Nias (1625). Sama halnya dengan sultan-sultan Aceh terdahulu, Iskandar Muda juga berusaha keras mengusir Portugis dari Malaka, tetapi tidak berhasil. Walaupun demikian, ia berhasil menanamkan hegemoni politik Kerajaan Aceh atas daerah-daerah Pedir, Pasai, Deli, Aru, Daya, Labo, Singkel, Batak, Pasaman, Tiku, Pariaman, dan Padang. Selain itu, vasal-vasalnya di Semenanjung Malaya meliputi Johor, Kedah, Pahang, dan Perlak. 

Sejak tahun 1699-1838, Aceh diperintah secara bergantian oleh sebelas orang sultan. Dari kesebelas orang sultan itu, tiga orang keturunan Arab (1699-1726), dua orang bangsa Melayu (1726), dan enam orang asal Bugis (1726-1838). Sultan Aceh terakhir adalah Ibrahim yang bergelar Sultan Ali Alauddin Shah (1838-1879). Dalam masa pemerintahannya, ia tidak hanya mendapat tantangan dari para elit politik, tetapi juga ancaman dari pihak Belanda. Dalam perkembangan selanjutnya, Aceh berhasil dikuasai Belanda sejak tahun 1873-1912. 

Setelah berubah menjadi pusat perdagangan dan pusat pengembangan agama Islam, lambat-laun masyarakat Aceh didominasi oleh tradisi dan budaya Islam. Kerja samanya dengan Turki, Mesir, Arab, dan Persia memberi peluang besar bagi masuknya tradisi Islam dari negara-negara itu. Banyak ulama dan pujangga yang datang ke Aceh untuk mengajarkan pengetahuan tentang agama dan budaya Islam, serta menuliskan berbagai kitab tentang agama itu. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA