Sejarah Singkat Kerajaan Banten

Selain menaklukkan daerah-daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Demak juga merasa berkepentingan menduduki Jawa Barat. Pada saat itu, Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Kerajaaan Pajajaran yang beragama Hindu. Untuk menaklukkan Pajajaran, Sultan Trenggana mengirim armadanya yang di pimpin oleh Nurullah, pada tahun 1525. Pada tahun itu juga Banten berhasil diduduki dan dua tahun berikutnya Sunda Kelapa dan Cirebon berhasil direbut. Keberhasilan armada Demak ini sekaligus menggagalkan upaya Portugis yang akan mendirikan kantor dagangnya di Sunda Kelapa. Menurut penulisan tradisional Banten, nama Nurullah disebut dengan Fadhillah atau Fatahillah, sedangkan orang Portugis menyebutnya Tagaril dan Falatehan. Setelah menaldukkan Banten dan Sunda Kelapa, Nurullah menjadi penguasa Banten, sedangkan Cirebon dipercayakan kepada putranya yang bernama Pangeran Pasarean. Pada tahun 1552 Pasarean meninggal, sehingga Nurullah terpaksa mengambil alih pemerintahan di Cirebon sedangkan Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasanuddin.

Secara geografis Kerajaan Banten memiliki pelabuhan yang sangat strategis. Pelabuhan Banten berhadapan langsung dengan jalur perdagangan Selat Sunda dan Laut Jawa. Dengan demikian, Pelabuhan Banten setiap saat disinggahi pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing. Daerah pedalaman Banten juga sangat subur dan menghasilkan berbagai komoditas dagang seperti lada dan beras. Dengan posisi yang strategis ditunjang dengan hasil pertanian yang berlimpah perdagangan di Banten menjadi ramai. Hal itu membuat Kerajaan Banten semakin maju sebagai pusat perdagangan dan dikunjungi pedagang dari berbagai pelosok tanah air. Ada pula para pelarian dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura yang merasa tertindas dengan pemerintahan Kerajaan Mataram. Selain itu, banyak pula pedagang-pedagang asing seperti Gujarat, Pegu, Siam, Parsi, dan Turki yang masing-masing membentuk perkampungan atas izin penguasa Banten. Dengan bertemunya pedagang asing dari berbagai suku bangsa dan pedagang-pedagang asing itu dengan sendirinya kebudayan mereka pun berbaur dan turut mempengaruhi kebudayaan masyarakat setempat. Lambat laun kebudayaan Banten terbentuk dan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan Sunda di daerah Jawa Barat lainnya. Masyarakat Banten selain berbahasa Sunda, banyak pula yang berbahasa Jawa. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA