Sejarah Singkat Kerajaan Cirebon

Historiografi Banten menuliskan bahwa setelah Nurullah mempercayakan Banten kepada puteranya Hasanuddin, ia sendiri kemudian menetap di Cirebon. Di sana ia tidak hanya bertindak sebagai penguasa, tetapi juga aktif sebagai tokoh penyiar agama Islam. Oleh karena itu, ia digolongkan sebagai salah satu di antara Sembilan Wali atau Wali Songo, yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Berbeda dengan sejarah Banten, sejarah tradisional Cirebon menuliskan bahwa Sunan Gunung Jati dan Nurullah atau Fatahilah atau Falatehan adalah dua orang yang berbeda. Menurut sumber tersebut, Sunan Gunung Jati bernama asli Syarif Hidayatullah keturunan Prabu Siliwangi. 

Perekonomian Kerajaan Cirebon bersumber dari perdagangan. Letak dan statusnya sebagai kota pelabuhan jauh sebelum menjadi kerajaan Islam, memungkinkan daerah itu telah dikenal oleh pedagang dari berbagai daerah dan mancanegara. Sebagian masyarakatnya hidup dari pertanian dan menangkap ikan. Sebagai kota pelabuhan, kebudayaan Cirebon dipengaruhi pula oleh kebudayaan dari berbagai daerah dan kebudayaan asing seperti Cina, India, dan tentu saja tradisi dan kebudayaan Islam. Bukti pengaruh unsur-unsur kebudayaan luar itu antara lain bahasa daerah. Masyarakat daerah Cirebon berbahasa Sunda dan Jawa yang memiliki ciri khas tersendiri, bila dibandingkan dengan bahasa Sunda di daerah Jawa Barat lainnya. 

Hubungan Kerajaan Cirebon dengan negara-negara Cina dan India terbukti dari banyaknya benda-benda pecah-belah dan sebuah kereta "Singa Barong" yang dianggap keramat. Kereta Singa Barong adalah kendaraan khusus untuk panembahan atau sultan. Kereta itu biasanya ditumpangi sultan pada hari-hari besar agama, dan upacara khusus keraton yang disebut upacara Pajang Jimat. Pada upacara-upacara itu kereta yang ditumpangi sultan ditarik oleh delapan ekor kerbau bule mengelilingi kota Cirebon. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA