Sejarah Singkat Kerajaan Demak

Demak dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Namun, sejarah mengenai kerajaan ini sangat tidak jelas. Kapan berdirinya dan oleh siapa kerajaan itu didirikan hingga sekarang masih menimbulkan kontroversi. 

Menurut historiografi tradisional Jawa, Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah sekitar tahun 1500. Disebutkan bahwa Raden Patah adalah putra raja Majapahit, Brawijaya. Ibunya seorang putri Cina yang tanpa sepengetahuan raja telah memeluk agama Islam. Oleh karena itu, putri Cina yang sebenarnya sedang mengandung dihadiahkan kepada Raja Palembang. Di Palembang putri itu melahirkan seorang anak yang diberi nama Dimas. Setelah dewasa ia datang ke Majapahit. Atas perantaraan Sunan Kudus, Dimas diangkat sebagai Adipati Demak dengan nama Raden Patah. Berawal dari itulah Demak dirintis menjadi kerajaan Islam. Raden Patah digantikan oleh Trenggana (putra atau adik).Trenggana kemudian menggunakan gelar sultan (Sultan Trenggana). Agaknya Trenggana menjadi penguasa (sultan) dua kali atas Demak, yaitu pertama tahun 1505-1518 dan kedua tahun 1521-1546. Kurun waktu antara dua masa pemerintahan itu diisi oleh Dipati Unus yang berasal dari Jepara, sebagai sultan ketiga. Sebagai sultan ia memimpin sendiri tentara Demak menyerang Malaka, tetapi tidak berhasil. Sekembalinya dari Malaka, tidak lama kemudian ia wafat pada tahun 1521. Pemerintahan Demak kembali diambil alih oleh Trenggana (masa pemerintahan kedua) pada tahun 1521-1546. Pada masa pemerintahannya yang kedua itulah Sultan Trenggana berhasil meletakkan hegemoninya atas Pulau Jawa dengan mengadakan penaklukkan atas daerah-daerah sekitarnya hingga Jawa Barat. 

Berdasarkan sejarah Banten, upaya penaklukkan Majapahit oleh Demak berlangsung beberapa tahun, di bawah pimpinan Pangeran Ngundung. Namun, baru berhasil pada tahun 1527. Raja Majapahit yang terakhir, yaitu Brawijaya menghilang dari istananya. Pada tahun itu juga Tuban ditaklukkan. Daerah-daerah lain yang segera menyusul ditaklukkan adalah Wirasari (1528), Gegelang (Madiun) pada tahun 1529, Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), Lamongan, Blitar, Wirasaba (1541-1542), Gunung Penanggungan sebagai tempat suci agama Hindu-Buddha (1543), Sengguruh/ Malang (1545), Kediri (1549), dan sebagai sasaran terakhir adalah Panarukan dan Blambangan. 

Setelah Sultan Trenggana meninggal, Demak tidak lagi mengadakan ekspansi. Para bangsawan saling berebut kekuasaan. Bahkan mereka saling membunuh. Kerajaan Demak pun berakhir dan muncul Kerajaan Pajang. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA