Sejarah Singkat Kerajaan Gowa-Tallo

Agama Islam mulai masuk di daerah Sulawesi Selatan sekitar abad ke-15. Pada tahun 1605, Raja Gowa bersama Mangkubuminya (Raja Tallo) menyatakan diri sebagai pemeluk agama Islam. Raja Tallo sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa, yang pertama kali menyatakan diri sebagai pemeluk agama Islam dengan gelar Abdullah Awalul Islam, sedangkan Raja Gowa yang menyusul bergelar Sultan Alauddin. Sejak saat itulah raja-raja Gowa-Tallo mulai menggunakan gelar sultan. Pada tahun 1607, seluruh penduduk Kerajaan Gowa-Tallo telah memeluk agama Islam. 

Dari Gowa, agama Islam dikembangkan ke seluruh daerah Sulawesi Selatan melalui Musu 'asellengeng (perang Islam). Usaha penaklukkan dan pengislaman dimulai pada tahun 1608. Secara berturut-turut, tahun 1609 Sidenreng dan Sopeng menerima dan menyatakan agama Islam sebagai agama negara, tahun 1610 Kerajaan Bone, dan tahun 1611 Kerajaan Wajo. 

Di samping itu, orang-orang Melayu yang berdiam di daerah itu tidak kecil pula peranannya menyebarkan agama tersebut. Mereka mengundang dan membiayai kedatangan guru-guru agama dan para alim-ulama Islam dari Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam di daerah Sulawesi Selatan. 

Setelah agama Islam dinyatakan sebagai agama kerajaan, ekspansi pun dimulai dengan menaklukkan kerajaaan-kerajaan lain di sekitarnya. Penaklukkan yang dilakukan bukan semata-mata penyebaran agama, tetapi juga perluasan wilayah kekuasaan dan pertimbangan perekonomian. 

Sebagai bandar transito, Kerajaan Gowa-Tallo mengadakan hubungan dengan berbagai negara. Bentuk hubungan seperti itu mereka sebut Passaribattangngang. Pedagang-pedagang yang datang di bandar Makassar tidak diharuskan membayar upeti, tetapi diikat oleh suatu perjanjian persahabatan. Perjanjian persahabatan itu sering diwujudkan dalam bentuk tukar menukar barang dan perkawinan. 

Hingga akhir abad ke-15, masyarakat Sulawesi Selatan umumnya hidup dari pertanian sehingga tipe Kerajaan Gowa-Tallo sebenarnya digolongkan ke dalam tipe kerajaan agraris. Akan tetapi, setelah memasuki awal abad ke-16, Gowa berubah sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara bagian timur. Perubahan ini lambat-laun memengaruhi kehidupan masyarakatnya. Orang-orang Makassar mulai dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Walaupun perdagangan dikuasai oleh mereka yang memiliki modal, tetapi sektor-sektor lain dari kehidupan maritim diisi oleh semua lapisan masyarakat. 

Secara garis besar masyarakat Makasar dibagi dalam tiga golongan besar, Ana Kara Eng, Tumaradeka, dan Ata (budak). Ana Kara Eng adalah golongan yang menduduki tingkat tertinggi dalam pelapisan masyarakat di Sulawesi Selatan. Tumaradeka adalah lapisan masyarakat yang terbagi atas dua bagian, Tubaji dan Tusamara. Tubaji adalah golongan yang masih ada hubungan pertalian dengan golongan Ana Kara Eng, tetapi tidakjelas mereka berada pada lapisan ke berapa. Tusamara adalah orang kebanyakan yang jumlahnya terbesar dalam masyarakat. Ata (budak) sebenarnya bukan dalam pengertian budak sesungguhnya, melainkan karena berbagai sebab. Misalnya mereka yang kalah dalam peperangan dan menjadi tawanan, kemudian diperjualbelikan, atau seseorang yang karena melanggar adat, dijual oleh lembaga adat. Namun, ada juga seorang yang karena meminjam sesuatu, tetapi tidak mampu mengembalikannya, terpaksa membayarnya dengan salah seorang anggota keluarganya. Status orang ini selanjutnya menjadi budak. Perbedaan antar golongan dapat dilihat dari bentuk rumah, perkawinan, adat-istiadat, maupun kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian, mereka berhubungan secara terbuka dan tidak ada peraturan yang membatasi. 

Akibat hubungan perdagangan dengan berbagai suku bangsa maupun dengan bangsa-bangsa asing, kehidupan tradisi dan budaya masyarakat Makasar mendapat pengaruh dari berbagai pihak. Misalnya dari bangsa Portugis, orang Makasar memperoleh pengetahuan dalam seni bangunan, militer, seperti benteng-benteng pertahanan, dermaga, peralatan perang dan siasat perang. Dari bangsa Melayu orang Makasar memperoleh pengetahuan tentang agama Islam, pakaian dan perhiasan. Mereka juga pandai membuat perahu Pinisi yang dapat digunakan untuk berlayar ke berbagai daerah di Nusantara bahkan sampai ke berbagai negara. Kebudayaan Makassar adalah campuran dari berbagai unsur budaya yang telah mengkristal menjadi kebudayaan masyarakat Makasar. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA