Sejarah Singkat Kerajaan Mataram Kuno

Berbicara mengenai Kerajaan Mataram Kuno, berarti kita berbicara mengenai dua dinasti. Kedua dinasti itu adalah Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu, sedangkan Dinasti Syailendra beragama Buddha. 

Sumber sejarah Dinasti Sanjaya adalah Prasasti Canggal yang ditemukan di barat daya Magelang, Prasasti Mantyasih, dan Wanua Tengah II. Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 Masehi, dan Prasasti Wanua Tengah III yang berangka tahun 908 Masehi dikeluarkan oleh Raja Balitung. Dalam kedua prasasti itu, Sanjaya disebut sebagai pangkal silsilah raja-raja Mataram dengan sebutan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, yang memerintah dari tahun 717 hingga 746 Masehi.

Pada masa Raja Watuhumalang terjadi perebutan kekuasaan antara para pangeran. Dalam keadaan pemerintahan yang tidak stabil, muncul Balitung. Ia berhasil merebut kekusaan pada tahun 898 dan memerintah hingga tahun 913. Setelah menjadi raja, Balitung bergelar Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodhaya Mahacambhu. Setelah Balitung, Kerajaan Mataram secara berturut-turut diperintah oleh Daksa (913-919), Tulodhong (919-924), dan Wawa. Pemerintahan Raja Wawa tidak banyak diketahui. Hanya yang diketahui ia dibantu oleh Mpu Sindok Sri Isanawikrama sebagai rakryan mahamantri i-hino. Mpu Sindok kemudian memindahkan ibu kota Mataram kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada tahun 929 Masehi.

Daerah kekuasaan Dinasti Syailendra meliputi daerah Yogyakarta, Bagelan, dan sekitarnya, sedangkan daerah kekuasaan Dinasti Sartjaya meliputi daerah Jawa Tengah bagian utara. Pada kenyataannya, candi-candi yang bersifat Buddhis memang lebih banyak terdapat di bagian selatan, termasuk Istana Ratu Boko sebagai pusat pemerintahan Dinasti Saelendra. 

Prasasti-prasasti peninggalan Dinasti Syailendra antara lain Prasasti Sangkara atau Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 Masehi, ditemukan di Sragen (Jawa Tengah). Prasasti Klurak yang berangka tahun 782 Masehi ditemukan di daerah Prambanan, dan Prasasti Ratu Boko yang berangka tahun 856 Masehi. Prasasti Klurak menceritakan perang saudara antara Balaputradewa dengan Rakai Pikatan. Rakai Pikatan, beragama Hindu dari Dinasti Sanjaya, kawin dengan Pramodhawardhani, puteri dari Sammorattungga, kakak perempuan Balaputradewa. Balaputradewa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke Sumatera kemudian menjadi Raja Sriwijaya. Dengan perginya Balaputradewa ke Sumatera, maka berakhir pula pemerintahan Dinasti Saelendra di Jawa Tengah. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA