Sejarah Singkat Kerajaan Pajajaran

Setelah Kerajaan Tarumanegara berakhir dalam waktu yang cukup lama tidak diketahui dengan jelas mengenai keadaan di Jawa Barat. Baru setelah abad ke-7 Masehi dapat diketahui ada beberapa kerajaan di daerah itu, di antaranya Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pasundan. Kedua kerajaan inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Pajajaran. 

Niskala Wastu Kencana adalah raja yang berkuasa paling lama, yaitu 104 tahun, dari tahun 1371-1474. Lamanya masa pemerintahan karena ia berumur panjang dan menjalankan pemerintahan dengan baik. Prinsip pemerintahannya dapat diketahui dari ucapannya dalam Prasasti Kawali berbahasa Sunda kuno yang berbunyi "pekena gawe rahayu pakeun heubeul jaya dina buana". Ungkapan yang kemudian clijadikan simbol Kabupaten Ciamis itu artinya "negara akan menjadi jaya dan unggul bila rakyat berada dalam kesejahteraan serta raja selalu berbuat kebajikan untuk rakyatnya". 

Pada masa pemerintahan Prabu Ratu Dewata (1535-1543) terjadi serangan dari Kerajaan Islam Banten yang dipimpin oleh Maulana Hassanudin. Serangan yang dilakukan pada tahun 1537 itu berhasil merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari Kerajaan Pajajaran. Raja-raja setelah Prabu Ratu Dewata adalah Sang Ratu Sakti yang memerintah dari tahun 1543-1551, dan Tohaan dari tahun 1551- 1557. Pada masa pemerintahan Tohaan ini, keadaan Kerajaan Pajajaran sudah berada di ujung tanduk. Hampir sebagian besar daerah-daerahnya berhasil diduduki tentara Islam Banten, di antaranya Rajagaluh, Kalapa, Pakwan, Galuh, Datar, Mandiri, Jayakapala dan Saloyo. Pengganti Tohaan adalah Nusiya Mulya yang tercatat sebagai raja terakhir Kerajaan Pajajaran pada akhir abad ke-16. 

Pusat pemerintahan Pajajaran terletak di daerah pedalaman, dituturkan oleh Tome Pires sebagai berikut: "Ibu kota Pajajaran bernama Dayo, dapat dicapai selama dua hari perjalanan dari Sunda Kalapa ke arah pedalaman. Kota Dayo merupakan kota yang cukup besar, dengan jumlah penduduk sekitar 50.000 jiwa. Raja mendiami sebuah istana besar yang ditopang tiang-tiang dari kayu sebanyak 330 buah. Masing-masing tiang berukuran seperti peti anggur. Penduduk Kota Dayo mendiami rumah-rumah dari kayu yang beratapkan daun palma." 

Usaha Pajajaran untuk bekerja sama dengan Portugis guna membendung masuknya pengaruh Islam dari Demak ternyata tidak berhasil. Pada tahun 1527, Pelabuhan Banten, Sunda Kalapa, dan Cirebon jatuh ke tangan tentara Kerajaan Islam Demak di bawah pimpinan Falatehan. Setelah pelabuhan-pelabuhan penting itu jatuh, disusul dengan berdirinya Kerajaan Banten dan Cirebon, Pajajaran pun semakin mundur. Banyak masyarakat Pajajaran yang beralih agama. Sebagian lagi menyebar ke daerah-daerah pedalaman, di antaranya suku Baduy. Hingga sekarang, mereka mengakui dirinya sebagai keturunan Pajajaran. Ada pula anggota keluarga raja-raja Pajajaran yang menyingkir ke daerah pedalaman Priangan kemudian membentuk pemerintahan sendiri. Salah satu di antaranya adalah Pangeran Geusan Ulun yang membentuk pemerintahan di daerah Sumedang. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA