Sejarah Singkat Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya diperkirakan didirikan pada abad ke-7 Masehi oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Dapunta Hyang adalah seorang raja ambisius, berwatak keras, dan bersikap ekspansionis. Ia mengerahkan tentaranya untuk menyerang, menaklukkan dan menguasai daerah-daerah sekitarnya. Berita Cina yang menyebutkan adanya kerajaan-kerajaan To-lang-poh-wang (Tulang Bawang) dan Mo-lo-yeu (Melayu) tidak terdengar lagi setelah Sriwijaya memperluas daerah kekuasaannya. Itu berarti kerajaan-kerajaan itu berhasil ditaklukkan oleh Sriwijaya. Dalam upaya penaklukkan, Dapunta Hyang memimpin langsung tentaranya. Setiap daerah yang berhasil dikuasai, selalu ditandai dengan mendirikan prasasti. Prasasti-prasasti itu berisi antara lain berupa peringatan keras bagi masyarakat daerah itu agar taat pada peraturan (undang-undang) kerajaan dan titah raja. Ada juga prasasti yang isinya berupa doa kepada para dewa agar melindungi daerah yang baru ditaklukkannya itu. 

Selain dari prasasti, berita mengenai Sriwijaya diperoleh pula dari berita Cina. Pada tahun 672, I-tsing, seorang bhiksu dari Cina berangkat dari Kanton hendak ke India. Ia singgah di Shih-li-fo-chi (Sriwijaya) dan selama enam bulan tinggal di daerah itu. 

Setelah Dapunta Hyang, Sriwijaya diperintah oleh Balaputradewa, Sri Sudamaniwarmadewa, dan terakhir adalah Sanggramawijayattunggawarman. Letak pusat Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Masalahnya, kerajaan itu tidak meninggalkan istana atau keraton yang fisiknya masih bisa dilihat. Padahal, istana atau keraton menjadi rujukan penting untuk menentukan pusat pemerintahan dari kerajaan yang telah tiada. Ada beberapa wilayah yang sering disebut-sebut sebagai pusat kerajaan itu, antara lain Palembang, Jambi, Riau, Lampung, Malaya, dan Thailand. Masing-masing wilayah didukung dengan adanya temuan arkeologis baik berupa candi, prasasti maupun sisa-sisa bangunan. 

Letaknya yang strategis menyebabkan Sriwijaya berkembang pesat sebagai bandar dagang terbesar di Asia Tenggara. Kapal-kapal dagang, baik dari berbagai pelosok Nusantara maupun dari berbagai negara datang dan berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Banyaknya kapal-kapal dagang yang datang di Sriwijaya, menunjukkan bahwa perdagangan di daerah itu maju pesat.

Musafir Cina I-tsing mengatakan Sriwijaya merupakan kota berbenteng. Di Sriwijaya terdapat kurang lebih 1000 orang bhiksu yang mendalami ajaran Buddha seperti halnya di India, di bawah bimbingan bhiksu terkenal bernama Syakyakirti. Terkesan oleh kemajuan Sriwijaya sebagai kerajaan Buddha terbesar, Itsing menganjurkan kepada para bhiksu Cina lainnya agar sebelum ke India sebaiknya datang dahulu ke Sriwijaya untuk mempelajari dasar-dasar agama Buddha dalam waktu setahun atau dua tahun. 

Kerajaan Sriwijaya lambat laun mengalami kemunduran sehubungan dengan serangan-serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Colamandala dari India Selatan. Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat agama Buddha terbesar di Asia Tenggara akhirnya mengalami kehancuran, setelah mendapat serangan dari Kerajaan Majapahit, disusul dengan berdirinya Kerajaan Islam Palembang. 


Daftar Pustaka : YUDHISTIRA