Sistem Mobilisasi dan Kontrol Pemerintah Pendudukan Jepang

Mobilisasi dan Kontrol Pemerintah Jepang terhadap Sumber-Sumber Ekonomi 
Jepang sebagai imperialis tidak berbeda dengan penjajah yang lainnya. Salah satu faktor yang mendorong Jepang masuk ke Indonesia adalah ingin mengambil bahan mentah dari Indonesia untuk kelangsungan industrinya. Namun, selama perang masih berlangsung antara Jepang dengan pihak Sekutu, Jepang berusaha menjadikan Indonesia sebagai sumber dana perangnya. In-donesia yang kaya berbagai hasil bumi dan tanahnya yang subur dimanfaatkan oleh tentara Jepang untuk kepentingan perang. Akibatnya rakyat Indonesia jatuh miskin dan melarat. Bahkan ribuan orang di antaranya mati karena kelaparan. Hasil-hasil bumi, seperti beras, gula, teh, kopi, daging, dan ikan dikuras untuk menyuplai kebutuhan tentaranya di medan perang. Rakyat Indonesia terutama pemudanya direkrut untuk berbagai keperluan Jepang. Dengan sendirinya, pekerjaan penggarapan sawah terbengkalai. Akibatnya, hasil produksi padi merosot tajam. Memasuki awal tahun 1944, pemerintah mulai melancarkan kampanye pengerahan bahan makanan dan barang-barang secara besar-besaran, melalui Jawa Hokokai, Nogyo Kumiai (Koperasi Pertanian), dan instansi pemerintah lainnya. 

Pengerahan bahan makanan yang dilakukan sebagai berikut: 30 % untuk pemerintah, 30 % lagi untuk lumbung desa, dan sisanya 40 % untuk pemilik. Tenaga kerja yang semakin menipis di desa-desa, kekurangan bahan makanan, dan mutu gizi yang rendah mengakibatkan mereka kehilangan gairah kerja. Dalam keadaan seperti itu berbagai penyakit mulai timbul, seperti busung lapar, malaria, dan disentri sehingga angka kematian terus bertambah. Di Pulau Jawa, kelaparan melanda berbagai desa. Angka kematian yang dialami oleh masyarakat Wonosobo misalnya mencapai 53,7 % dan Purworejo 24,7 %.

Akibat dari kekurangan bahan makanan itu bangsa Indonesia terpaksa harus mengkonsumsi bahan makanan yang tidak pantas dimakan oleh manusia, seperti keladi gatal, batang pisang, bekicot, dan umbi-umbian. Masalah lain vang sangat dirasakan adalah soal sandang. Pakaian sangat sulit didapat sehingga banyak di antaranya yang berpakaian compang-camping. Bahkan banyak pula yang terpaksa mengenakan karung goni untuk menutupi tubuhnya. 

Mobilisasi dan Kontrol Pemerintah Jepang terhadap Tenaga Kerja 
Sikap ofensif tentara Jepang pada permulaan Perang Pasifik berubah menjadi defensif pada permulaan 1943. Hal itu disebabkan Jepang mulai mengalami kekalahan yang beruntun di berbagai front pertempuran. Jumlah tentara Jepang yang berguguran dalam perang semakin bertambah sehingga pemerintah militer Jepang merasa perlu untuk mengambil tenaga, baik untuk anggota tentara maupun untuk keperluan lain yang berhubungan erat dengan perang. Oleh karena itu, dimulailah pengerahan tenaga manusia secara besar-besaran untuk memenuhi keperluan tersebut. Pemuda-pemuda desa direkrut untuk menjadi Seinendan, Keibondan, Peta, Heiho, dan yang lebih memilukan adalah romusha (tenaga kerja paksa). 

Pengerahan tenaga manusia secara besar-besaran berdampak pada menurunnya hasil produksi pangan dan angka kelahiran. Selain pemuda, kaum wanitanya bergabung dalam organisasi Fujinkai juga diberi latihan-latihan militer. Namun, yang lebih menyedihkan lagi banyak dari tenaga wanita Indonesia itu yang dipekerjakan di tangsi-tangsi militer sebagai mangsa kebiadaban tentara Jepang. Pengerahan tenaga romusha tidak kurang sedihnya. Ribuan orang diangkut dengan kapal-kapal berukuran kecil ke berbagai tempat di luar Pulau Jawa untuk bekerja paksa. 


Banyak di antara mereka yang sudah meninggal sebelum sampai di tempat tujuan karena fisiknya lemah dan kurang makan. Pengerahan tenaga romusha itu dimulai pada tahun 1943 melalui propaganda yang menyatakan bahwa romusha adalah prajurit pekerja atau prajurit ekonomi. Mereka disebut sebagai prajurit yang melaksanakan tugas suci untuk angkatan perang. Namun, pada kenyataannya mereka diperlakukan sebagai budak. Jumlah tenaga romusha yang dikirim ke luar Pulau Jawa atau Indonesia kira-kira 300.000 orang. Mereka yang diambil untuk romusha berusia antara 16 sampai 25 tahun dan belum rnenikah.

Tempat tujuan mereka bekerja paksa bukan hanya di Indonesia, tetapi banyak yang diangkut ke Burma, Thailand, Vietnam, Malaya, dan Kepulauan Solomon. Mereka diperlakukan sangat buruk, kesehatan tidak dijamin, makanan tidak mencukupi serta menempati barak-barak yang jorok dan menjijikkan. Jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh mereka antara lain membangun kubu-kubu pertahanan termasuk gua-gua perlindungan, gudang-gudang bawah tanah, barak-barak, dan rel kereta api dan sebagainya. Semua pekerjaan yang termasuk pekerjaan berat itu dikerjakan dengan kondisi fisik yang memprihatinkan, sehingga ribuan di antara mereka tidak pernah kembali ke desa asalnya.

Daftar Pustaka : YUDHISTIRA