Terbentuknya Bangsa di Indonesia

Pembentukan bangsa sangat berkaitan dengan identitas yang ada dalam masyarakat. Faktor-faktor yang diperkirakan menjadi identitas bersama suatu bangsa, meliputi primordial, sakral, tokoh, bhinneka tunggal ika, konsep sejarah, perkembangan ekonomi, dan kelembagaan. 

Primordial 

Ikatan kekerabatan (pertalian darah dan keluarga) dan kesamaan suku bangsa, daerah, bahasa serta adat-istiadat merupakan faktor-faktor primordial yang dapat membentuk negara-bangsa. Primordialisme tidak hanya menimbulkan pola perilaku yang sama, tetapi juga melahirkan persepsi yang sama tentang masyarakat negara yang dicita-citakan. Ikatan kekerabatan dan kesamaan budaya itu tidak menjamin terbentuknya suatu bangsa karena mungkin ada faktor lain yang lebih menonjol. Namun, kemajemukan secara budaya mempersulit pembentukan satu nasionalitas baru, yaitu negara-bangsa, karena perbedaan ini akan melahirkan konflik nilai. 

Sakral 

Kesamaan agama yang dianut atau ikatan ideologi yang kuat dalam suatu masyarakat, dapat pula menjadi faktor yang dapat membentuk negara-bangsa. Namun, terkadang kesamaan agama dan ideologi suatu masyarakat juga menjadi faktor yang mempersulit proses pembentukan negara-bangsa. Misalnya, kesamaan agama islam di beberapa negara Arab, kesamaan agama katolik di negara-negara Amerika Latin, dan sejumlah negara-negara komunis. 

Tokoh 

Kepemimpinan dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati secara luas oleh masyarakat dapat menjadi faktor yang menyatukan suatu bangsa. Pemimpin ini menjadi panutan karena warga masyarakat mengidentifikasikan diri kepada sang pemimpin dan dianggapnya sebagai penyambung lidah masyarakat. 

Pengalaman menunjukkan bahwa dalam suatu masyarakat yang sedang membebaskan diri dari penjajahan, biasanya muncul pemimpin yang kharismatik untuk menggerakkan massa rakyat dalam mencapai kemerdekaannya. Kemudian, pemimpin ini muncul sebagai simbol persatuan bangsa. Misalnya, tokoh dwitunggal Soekarno-Hatta di Indonesia dan Joseph Broz Tito di Yugo-slavia. Namun, pemimpin yang kharismatik pun belum menjamin bagi terbentuknya suatu negara-bangsa sebab pengaruh pemimpin bersifat sementara. Hal itu dikarenakan umur pemimpin sama halnya dengan manusia, yaitu terbatas. Dengan demikian, pemimpin kharismatik tidak dapat diwariskan. Selain itu, sifat permasalahan yang dihadapi masyarakat memerlukan tipe kepemimpinan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. 

Sejarah 

Persepsi yang sama tentang asal-usul (nenek moyang) atau tentang pengalaman masa lalu, seperti penderitaan yang sama akibat dari penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas (sependeritaan dan sepenanggungan), tetapi juga tekad dan tujuan yang sama antarkelompok suku bangsa. Solidaritas, tekad, dan tujuan yang sama itu dapat menjadi identitas yang menyatukan mereka sebagai bangsa, dengan membentuk konsep kekitaan dalam masyarakat. 

Sejarah tentang asal-usul dan pengalaman masa lalu ini biasanya dirumuskan dan disosialisasikan kepada seluruh anggota masyarakat melalui media massa (film dokumenter, film cerita, dan dramatisasi melalui televisi dan radio).

Bhinneka Tunggal Ika 

Prinsip bersatu dalam perbedaan (unity in diversity) merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk bangsa. Bersatu dalam perbedaan artinya kesediaan warga masyarakat untuk bersama dalam suatu lembaga yang disebut negara atau pemerintahan, walaupun mereka memiliki suku bangsa, adat-istiadat, ras, atau agama yang berbeda. 


Setiap warga masyarakat akan memiliki kesetiaan ganda sesuai dengan porsinya. Walaupun mereka tetap memiliki keterikatan pada identitas kelompok, mereka menunjukkan kesetiaan yang lebih besar pada kebersamaan yang berwujud dalam bentuk negara-bangsa di bawah suatu pemerintahan yang sah. Mereka sepakat untuk hidup bersama sebagai bangsa berdasarkan kerangka politik dan prosedur hukum yang berlaku bagi anggota masyarakat. Agar tidak timbul konflik antarkelompok di kemudian hari, maka perlu dibuat peraturan-peraturan yang jelas tentang hal-hal yang menjadi kewenangan negara. Aturan-aturan itu dirumuskan dalam kerangka politik dan hukum negara tersebut. 

Perkembangan Ekonomi 

Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi pekerjaan yang beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu dan kebutuhan masyarakat, semakin tinggi pula tingkat saling kebergantungan di antara berbagai jenis pekerjaan. Setiap orang bergantung pada pihak lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin kuat suasana saling bergantung antaranggota masyarakat, semakin besar pula solidaritas dan persatuan dalam masyarakat. Solidaritas yang ditimbulkan karena perkembangan ekonomi dan pembagian kerja oleh Durkheim disebut sebagai solidaritas organis. Hal itu berlaku dalam masyarakat industri maju, seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat. 

Kelembagaan 

Proses pembentukan bangsa berupa lembaga-lembaga pemerintahan dan politik. Misalnya, birokrasi, angkatan bersenjata, dan partai politik. Sedikitnya terdapat dua sumbangan birokrasi pemerintahan (pegawai negeri) bagi proses pembentukan bangsa, yakni sebagai berikut.

a) Mempertemukan berbagai kepentingan dalam instansi pemerintah dengan berbagai kepentingan di kalangan penduduk sehingga tersusun suatu kepentingan nasional, watak kerja, dan pelayanannya yang bersifat impersonal. 

b) Tidak membedakan dalam memberi pelayanan kepada setiap warga negara. 

Angkatan bersenjata berideologi nasionalistis karena fungsinya memelihara dan amempertahankan keutuhan wilayah dan persatuan bangsa. Personel angkatan bersenjata direkrut dari berbagai etnis dan golongan dalam masyarakat. Selain soal ideologi dan mutasi, kehadiran angkatan bersenjata di seluruh wilayah negara merupakan sumbangan bagi pembinaan persatuan bangsa. 

Partai politik memiliki anggota yang bersifat umum. Artinya, terbuka bagi warga negara yang berlainan etnis, agama, atau golongan. Kehadiran cabang-cabang partai politik di wilayah negara dan peranannya dalam menampung serta memadukan berbagai kepentingan masyarakat, menjadi suatu alternatif kebijakan umum yang merupakan kontribusi dalam proses pembentukan bangsa.

Daftar Pustaka : YUDHISTIRA