Tujuan Pembelajaran Kemampuan Berbahasa dalam Kehidupan Sehari-hari

Mendengarkan Cerita Lucu (Anekdot) 

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita mengalami atau menemukan peristiwa atau kejadian yang menarik, lucu, dan mengesan-kan. Inilah yang biasanya disebut anekdot. Jadi, anekdot merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, bahkan mungkin juga mengharukan. Anekdot bukan merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang artifisial (dibuat-buat, rekaan) melainkan sebuah peristiwa atau kejadian yang sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan ini. Selain mengandung kelucuan, dari sebuah anekdot juga dapat kita tarik hikmahnya.

Beritakan Pengalaman Lucu dan Menarik

Pada kegiatan sebelumnya anda sudah menulis sebuah peristiwa atau kejadian yang anda alami sendiri dan anda dengar dari pengalaman orang lain.

Membaca Ekstensif Teks Bacaan Nonsastra 

Membaca ekstensif biasa dilakukan dalam hati. Membaca dalam hati adalah jenis membaca yang dilakukan tanpa menyuarakan apa yang dibaca. Jenis membaca ini sangat cocok untuk keperluan studi guna menambah informasi, ilmu pengetahuan, dan wawasan. Yang menjadi sasaran pokok kegiatan membaca dalam hati adalah pemahaman isi bacaan. 

Kata ekstensif berarti dapat menjangkau secara luas. Jadi, membaca dalam hati secara ekstensif berarti kegiatan membaca yang dilakukan tanpa menyuarakan apa yang dibaca untuk menjangkau teks bacaan yang seluas-luasnya dengan tingkat pemahaman isi bacaan yang setepat-tepatnya. Bahan bacaan yang dapat dibaca dalam hati secara ekstensif dapat berupa bacaan fiksi (cerita pendek, roman, novel, dongeng, drama) ataupun nonfiksi (lazim juga disebut nonsastra). 

Dalam melakukan kegiatan membaca ekstensif, hendaknya pembaca bersikap sungguh-sungguh dan berkonsentrasi penuh pada pokok per-masalahan yang diangkat dalam teks bacaan. Keterampilan membaca ekstensif tidak datang serta merta tetapi melalui pelatihan yang intensif dan terus menerus.

Untuk memulai membaca ekstensif, Anda bisa memilih jenis bacaan vang ringan-ringan atau tidak terlalu serius, tapi Anda tertarik dengan isi bacaannya. Setelah itu, mulailah tingkatkan secara bertahap pada buku-buku yang agak serius.

Memahami Ungkapan, Peribahasa, dan Majas 

Ungkapan (idiom) adalah gabungan dua kata atau lebih yang konsep maknanya tidak dapat diturunkan dari unsur-unsur yang membentuk gabungan itu. Ada dua macam ungkapan atau idiom, yaitu ungkapan sebagian (menunjukkan gigi, rumah panjang, merantau ke sudut dapur) dan ungkapan penuh (membanting tulang, panjang usus, kejatuhan bulan, sudah berputih tulang, berputih mata). Apa arti ungkapan atau idiom tersebut? Peribahasa (maxim, saying) adalah kalimat yang mengandung pengertian yang khas. Maknanya disampaikan secara tersirat atau implisit. Peribahasa mempunyai bentuk, fungsi, dan makna yang bersifat tetap. Peribahasa dapat digunakan untuk memberikan pengajaran, nasihat, sindiran, kritikan,dan sebagainya.

Majas merupakan cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyama-kannya dengan sesuatu yang lain. Kita mengenal bermacam-macam majas, seperti majas perbandingan (simile, metafora, personifikasi, alegori, simbolisme, alusio, hiperbola, dan tropen), majas pertautan (rnetonomia, antonomasia, sinekdoke pars prototo, sinekdoke totem proparte, asindeton, polisindeton, eufemisme, elipsis, epitet, eponim, hipalase, dan paralelisme), majas sindiran (ironi, sinisme, dan sarkasme), majas perulangan atau repetisi (anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, asonansi, disonansi, epizeukis, kiasmus, tautotes, antaklasis, dan sebagainya), dan majas pertentangan (paradoks, antitesis, litotes, oksimoron, paronomasia, paralipsis, zeugma, dan sebagainya). 


Menulis Paragraf Beskripsi Berdasarkan Hasil Observasi 

Deskripsi (Latin: describere = menulis tentang) merupakan bentuk karangan yang menggambarkan atau melukiskan suatu objek tertentu guna menciptakan kesan atau pengalaman agar seolah-olah pembaca merasakan, melihat, mendengar, atau mengalami sendiri sesuatu yang digambarkan dalam karangan tersebut. Dari rumusan pengertian tersebut, ciri atau karakteristik karangan deskripsi dapat diidentifikasi sebagai berikut: 

1. melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu, baik objek personal (manusia, hewan) maupun objek lokal (tempat, bangunan, pantai, laut, dan sebagainya) 

2. bertujuan untuk menciptakan kesan atau pengalaman pada diri pembaca agar seolah-olah mereka melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami sendiri suatu objek yang dideskripsikan 

3 penulisannya bersifat objektif karena selalu mengambil objek tertentu, yang dapat berupa objek personal maupun objek lokal 

4. penulisannya dapat menggunakan metode realistis (objektif) yang masih dapat dibedakan atas tempat (ruang, spasial), benda, waktu, dan suasana atau keadaan tertentu yang semuanya dapat digambarkan secara ekspositoris, impresionistis (subjektif), atau sikap penulis.

Untuk menulis sebuah deskripsi, kita bisa melakukan observasi atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu. Melakukan observasi berarti melakukan penga.matan terhadap suatu objek di luar diri kita sebagai pengamat. Objek yang dapat dijadikan sasaran observasi dapat berupa tempat atau ruang tertentu, benda, suasana, peristiwa atau kejadian, hewan, atau bahkan manusia. Kemudian, hasil observasi tersebut diolah dan dituangkan dalam tulisan deskriptif. Perhatikan objek apa yang diamati (diobservasi) dan bagimana cara menuliskan hasil observasi tersebut! 


Mengindentifikasi Unsur-Unsur Puisi 

Pada kegiatan pembelajaran Bab 1, Anda sudah berlatih menulis puisi lama (terutama syair, gurindam, dan karmina ataupun pantun kilat) dengan memperhatikan bait, irama, dan pola irama. Pelatihan serupa pun akan ditindaklanjuti pada bagian akhir bab ini. Pada kegiatan pembelajaran kali ini, Anda diajak untuk mengiden-tifikasi unsur-unsur puisi. 

Puisi di atas mengandung unsur fisik dan nonfisik. Unsur fisik puisi tersebut tampak dari judul, dua bait yang komposisinya tidak harmonis, larik-larik yang membentuk bait, kata-kata yang membentuk larik, dan bahasa sebagai media ekspresinya. Bahasa puisi adalah bahasa figuratif, yang membungkus sesuatu yang hendak dikemukakan penyair. 

Selain unsur fisik, sebuah puisi juga mengandung unsur nonfisik atau struktur batin puisi. Unsur ini tidak kelihatan dan harus dipahami secara nalar atau emosional. Yang termasuk unsur nonfisik adalah imajinasi, suasana, tema, dan amanat.

Imajinasi dalam puisi menyebabkan sebuah puisi itu abstrak sekaligus konkret. Abstrak karena bagaimana pun puisi adalah karya rekaan. Konkret karena ia bersentuhan dengan kehidupan manusia secara nyata. Artinya, dengan imajinasi yang terbangun lewat puisi, kita sebagai pembaca seolah-olah melihat, mendengar, membaui, merasakan, atau memegang sesuatu. Membaca puisi karya Rodang Baskoro di atas seolah kita sedang membaca sebuah catatan naratif: 

Saat itu seperti biasanyalmalam mengenakan jubah yang hitam/bulan juga tampak seperti pisang setengah matang/ada rasa kantuk yang tak juga tunduk/ padahal jarum jam sudah merunduklada yang sendiri merangkai sepi jadi puisi/kaukah itu, biet ..../Saat itu/seperti biasanya/kau tak mendengar ketukanku/I //Malam mengenakan jubah yang hitam/bulan yang juga tampak seperti pisang setengah matang/ada rasa kantuk yang tak juga tunduk/ padahal jarum jam sudah merunduk// menggambarkan suasana yang sepi, sendiri, ngelangut, gelap, dan waktu hampir menjelang pagi. Gambaran kehidupan yang kelam.

jiwa puisi ini ada pada bagian akhir: /ISaat itulseperti biasanya/kau tak mendengar ketukankul/ Mungkin Rodang Baskoro hendak mengatakan bahw a temannya yang bernama biet itu tidak mau mendengar ketukan-arya, tidak mau mendengar nasihatnya, tidak mau menggubrisnya sehingga eiengalami nasib kehidupan yang kelam. Lalu, apa pesan atau amanat? Sahabat sejati adalah sahabat yang mau berkorban untuk orang lain, titinasuk mendengarkan apa nasihatnya. 


Menemukan Nilai-Nilai dalam Cerita Pendek 

Pada kegiatan pembelajaran Bab 1, Anda sudah berlatih mengungkap-kan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari sebuah cerita pendek. Pada bagian pembelajaran ini, Anda kembali diajak untuk membaca sebuah cerita pendek dan mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita pendek tersebut. 

Dalam konteks ini, nilai berarti sifat-sifat atau hal-hal yang penting dan berguna bagi hidup kemanusiaan. Ada begitu banyak hal penting yang dapat kita temukan dari sebuah cerita pendek dan hal itu berguna bagi kehidupan manusia. Mungkin kita menemukan rtilai moral, nilai sosial, nilai budaya, nilai pendidikan (edukatif), nilai kesejarahan (historis), nilai kejiwaan (psikologis), nilai ekonomi, nilai politis, nilai religius, dan sebagainya.

Menganalisis Keterkaitan Cerita Pendek dengan Kehidupan Sehari-hari

Salah satu unsur pembentuk cerita pendek adalah unsur intrinsik seperti karakterisasi (tokoh dan perwatakan), tema dan amanat, sudut pandang penceritaan (point of view), plot atau alur cerita, latar cerita (setting), dan sebagainya. Unsur-unsur intrinsik pembentuk tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, tokoh dalam cerita pendek memiliki watak atau karakter tertentu sebagaimana manusia dalam kehidupan konkret. Latar (setting) dalam cerita pendek juga dapat di-bayangkan dengan latar kehidupan konkret seperti ada tempat, waktu, dan suasana tertentu. Cerita pendek mengandung nilai-nilai tertentu, demikian juga segala aspek yang kita jumpai dalam kehidupan ini pun memiliki nilai-nilai tertentu. 

Pada kegiatan pembelajaran ini Anda diajak untuk membaca sebuah cerita pendek, kemudian menganalisisnya dengan melihat keterkaitan antara unsur-unsur intrinsik pembentuk cerita pendek tersebut dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Menulis Puisi Lama dengan Memperhatikan Bait, Irama, dan Pola Rima 

Pada kegiatan pembelajaran Bab 1, Anda sudah berlatih menulis puisi laina bentuk syair, gurindam, dan karmina. Pada kegiatan pembelajaran ini Anda masih diajak berlatih untuk menulis puisi lama bentuk pantun berangkai. Pantun berangkai merupakan bentuk pantun yang antar baitnya memiliki keterkaitan. Wujud keterkaitan antarbaitnya adalah larik kedua pada suatu bait dijaikan larik pertama pada bait berikutnya dan larik keempat dijadikan larik ketiga pada bait berikutnya. Jadi, dalam suatu bait baru pantun berangkai larik-larik yang sungguh baru adalah larik kedua dan keempat. 

Daftar Pustaka : PIRANTI DARMA KALOKATAMA