Ciri dan Contoh Sektor Usaha Informal

Kita telah membahas panjang lebar mengenai pilar ekonomi ndonesia dalam kelompok sektor usaha formal. Ada sektor usaha lain selain itu. Apakah itu? Sektor usaha lain yang dimaksudkan adalah sektor usaha informal. Mari kita pelajari bersama-sama.

A. Ciri-ciri Sektor Usaha Informal

  • Sektor Usaha Informal Hanya Memiliki Ruang Lingkup Usaha Ekonomi yang Sempit dan Kecil
Mengapa sektor usaha informal hanya memiliki ruang lingkup usaha ekonomi yang sempit dan kecil-kecil? Karena sektor usaha informal dilakukan oleh orang-orang yang boleh dikatakan tidak bermodal. Bahkan dapat terjadi para pelaku dalam usaha sektor informal hanya meminjam barang-barang dagangan dari pengusaha besar, kemudian menjual menurut cara mereka sendiri tanpa ada organisasi penjualan yang rapi. Para penjual koran dan majalah di kota-kota besar tidak jarang hanya meminjam dulu barang-barang dagangan yang mereka jual. Kemudian, setelah barang dagangannya itu laku, mereka melunasinya.

  • Sektor Usaha Informal Tidak Memiliki Alat-alat Produksi yang Canggih
Di samping sangat kecilnya permodalan, para pelaku usaha sektor informal juga tidak memiliki alat-alat produksi yang canggih. Peralatan usaha ekonomi mereka sangat sederhana. Para pedagang asongan hanya menggunakan panci, keranjang makanan, atau kantong-kantong plastik yang amat sederhana. Begitu juga penjaja buah-buahan, mereka hanya menggunakan keranjang yang sederhana.
 
  • Banyak Pelaku Ekonomi Sektor Usaha Informal Tidak Memiliki Pendidikan/Keahlian Khus
Dilihat dari keahlian usahanya, banyak pelaku ekonomi di sektor usaha informal tidak ada yang memiliki pendidikan keahlian yang khusus. Namun pada zaman sekarang banyak orang yang berkeahlian tinggi sengaja meninggalkan pekerjaan lama mereka untuk membuka usaha informal. Mereka adalah orang-orang profesional yang memang ingin membangun usaha sendiri.
 
B. Contoh Kegiatan Ekonomi Sektor Informal

Dalam prakteknya, seorang pelaku ekonomi di bidang informal mungkin melakukan dua jenis usaha atau lebih. Misalnya, seseorang melakuican tugas sebagai pedagang keliling yang menjajakan sayuran di pagi hari. Selain itu, pada sore hari ia melakukan pekerjaan sambilan penyewaan payung sewaktu turun hujan. Contoh-contoh kegiatan ekonomi di sektor informal antara lain sebagai berikut ini.
 
  • Pedagang Kaki lima
Pedagang kaki lima dapat kalian jumpai di kota-kota besar. Para pedagang itu menjual barangnya dengan menggunakan atau memilih tempat-tempat yang strategis di tepian jalan, di simpang empat, di sekeliling terminal bus, di stasiun kereta api, di bawah pohon yang teduh, di jalali-jalan besar tepat pada sudut jalan masuk gang, dan sebagainya.

Mereka menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti gula, susu kental, rokok, korek api, minuman dalam botol, obat-obatan, koran, roti, dan sebagainya. Barang dagangannya ditaruh pada gerobak atau bangunan mirip kios dalam ukuran yang relatif kecil dengan peralatan yang relatif sangat sederhana. Untuk memperkuat posisi ekonomi mereka, di kota-kota besar para pedagang kaki lima membentuk semacam paguyuban atau bahkan mendirikan koperasi.
 
  • Pedagang Keliling
Pedagang yang termasuk pedagang keliling adalah mereka yang menjual barangnya dengan cara mendatangi para konsumennya secara langsung dengan membawa barang dagangannya itu sendiri secara langsung pula. Jadi, para pedagang keliling, baik dipesan oleh konsumennya atau tidak, selalu membawa dagangannya berkeliling menuju lokasi-lokasi tempat tinggal para konsumen mereka. 

Pada prinsipnya, pedagang keliling sama dengan pedagang kaki lima dilihat dari besarnya modal usaha yang dimiliki, alat-alat produksi yang digunakan, dan tingkat keterampilan dan pendidikan mereka. Namun demikian, satu aspek yang membedakan ialah lokasi kegiatan usaha informal mereka.
 
Para pedagang keliling harus menjual barangnya dengan cara berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Mereka biasanya membawa barang dagangannya dengan kendaraan seperti sepeda motor, sepeda kayuh, gerobak dorong, atau bahkan menggendong atau memikulnya sendiri dari satu tempat ke tempat lain.

Sebagaimana pedagang kaki lima, pedagang keliling juga menjual barang-barang kebutuhan sehari-sehari kepada para konsumennya. Barang-barang yang mereka jual antara lain sayur-mayur, daging, ikan laut, makanan kecil bagi anak-anak, mainan anak, alat-alat dapur, kebutuhan dapur (seperti: garam, gula, kelapa, bumbu masak, minyak kelapa, minyak tanah, dsb). 

Kalian yang tinggal di kompleks perumahan dapat merasakan betapa besar jasa para pedagang keliling bagi keluarga kalian. Ibumu tidak usah ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Itu berarti menghemat waktu dan biaya transportasi bagi ibu kalian.

Sekarang, di kota-kota besar sering kita lihat berbagai mobil promosi menawarkan barang-barang seperti es krim atau roti. Dari cara mereka menawarkan dagangannya, mereka dapat dikelompokkan sebagai pedagang keliling. Akan tetapi, karena mereka bermodal besar, organisasi pemasarannya modern, dan mempunyai badan hukum. Maka mereka tidak termasuk kelompok pedagang informal seperti yang sedang kita bahas.
 
  • Pedagang Asongan
Pedagang asongan juga termasuk orang-orang yang bergerak dalam sektor usaha informal. Ciri penting pedagang asongan tampak pada cara mereka menawarkan barang dagangannya. Para pedagang asongan sangat aktif menawarkan barang dagangan dengan menyodorkannya langsung kepada calon pembeli. 

Jenis barang yang diperdagangkan adalah barang-barang kebutuhan yang mudah dibawa dan ringan, seperti rokok, koran, majalah, permen (gula-gula), minuman dalam botol, buah-buahan, manisan, mainan anak-anak, dan sebagainya.

Di kota besar, pedagang asongan sering kita lihat menawarkan barang-barang dagangan mereka di tempat-tempat parkir, di daerah lampu lalu lintas ketika kendaraan berhenti, di tempat-tempat pemberhentian bus, di terminal bus, di stasiun kereta api, dan sebagainya. 

Ciri dan Contoh Sektor Usaha Informal

Mereka sangat ulet mencari nafkah dari hari ke hari. Meskipun demilcian, kadang-kadang kehadiran mereka dapat membahayakan diri mereka sendiri dan juga pemakai jalan raya. Oleh karena itu, pemerintah selalu berupaya untuk menertibkan para pedagang asongan dengan melalui berbagai pembinaan dan penyuluhan.

  • Pedagang Sambilan
Kita dapat juga mencari contoh lain mengenai orang-orang yang berusaha di sektor informal. Contoh yang terakhir ialah pedagang sambilan. Dikatakan pedagang sambilan karena mereka berdagang tidak secara rutin. Sebaliknya, pedagang sambilan melakukan kegiatannya pada saat tertentu jika kegiatan utamanya sedang tidak mereka lakukan. Kegiatan itu di samping untuk mencari tambahan penghasilan juga digunakan untuk mengisi waktu yang luang.

Di daerah-daerah perhotelan seperti di daerah Puncak, Jawa Barat banyak kita jumpai para siswa melakukan kegiatan itu dengan menawarkan jasa seperti menyemir sepatu, menyewakan payung di musim hujan kepada para tamu hotel, dan sebagainya. Kegiatan itu dilakukan di luar jam sekolah. 

Begitu juga di daerah-daerah proyek pembangunan, kita sering menjumpai munculnya para pedagang sambilan. Di daerah dekat lokasi pembangunan jembatan, misalnya, mereka secara sambilan menjual berbagai macam barang keperluan sesaat baik kepada pekerja bangunan maupun kepada para pemakai jalan yang sedang lewat. 

Sebenarnya mereka juga dapat dikelompokkan sebagai pedagang asongan. Akan tetapi karena munculnya kegiatan itu terkait dengan luangnya waktu para pedagang, mereka sering disebut sebagai pedagang sambilan. Produk yang mereka jual tidak saja berupa barang dalam arti material. Tetapi mereka juga sering menjual produk dalam arti jasa (imaterial).

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang mereka lakukan seperti menyemir sepatu, membersihkan mobil, menyewakan payung, dan sebagainya, termasuk produk-produk dalam arti jasa. Sedangkan barang-barang dalam arti material yang sering dijual oleh para pedagang sambilan antara lain rokok, makanan, minuman, buah-buahan, obat-obatan, koran, majalah, dan barang-barang lain yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesaat.



Daftar Pustaka: Erlangga